My Beloved Partner

My Beloved Partner
79



Entah sejak kapan Bagus merasakan suatu yang berbeda saat berdekatan dengan Keyla. Rasanya menyenangkan sekali saat mengodanya. Hingga tanpa sadar laki-laki itu menjadi kebiasaan meledek Keyla hingga Keyla menunjukkn rasa kesalnya. Bagi Bagus wajah kesalnya itu menggemaskan sekali.


"Aku serius," ucap Bagus dengan tegas seraya menggenggam tangan Keyla.


"Kamu lagi belajar akting ya?" tuduh Keyla diiringi tawa mengejek.


"Aku serius," Bagus mengulangi kata-katanya.


"Maksud kamu kita pacaran?" tanya Keyla dengan wajah polosnya.Bagus tersenyum dan mengaguk.


Keyla menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.Ia tak percaya orang yang dulu sering mengejeknya ternyata diam-diam menaruh hati padanya.


Sedetik kemudian wajah Keyla berubah kesal."Gak romantis banget sih nembak cewek kok di kantor," protes Keyla.


Tak lama setelah itu Jaden dan Bia keluar dari ruangannya. Mereka tidak kalah kaget saat kedua asisten mereka masih berada di depan pintu sambil berpegangan tangan pula. Keyla yang menyadari Bia menatapnya lalu melepaskan pegangan tangannya dari Bagus.


"Kalin ngapain masih di sini? kok pegangan tangan segala?" Bia tersenyum menyeringai."Kalian pacaran ya di belakang kami?" selidik Bia.


Keyla yang merasa panik menggoyangkan tangannya untuk menyangkal tuduhan BIa. Akan tetapi Bagus malah mengiyakan.


"Sejak kapan?' tanya BIa.


"Barusan," jawab Bagus dengan ekspresi datranya. Keyla menjadi malu. "Cangkul mana cangkul," ingin rasanya ia mengubur diri saking malunya pada BIa dan Jaden.


"Pajak jadian dong,"


"Bi udahlah jangan ganggu mereka, kita teruskan percintaan kita yang tertunda," Jaden merangkul bahu istrinya dan membawanya pergi.


"Fhuf," ucap Keyla yang merasa lega. Lalu ia memukul bahu Bagus. Tapi Bagus menangkap tangannya.


"Apa tidak sakit terus menerus memukulku," Bagus mengelus tangan Keyla dengan lembut sehingga membuat sang pemilik tangan salah tingkah dibuatnya.


Keyla menarik tangannya. Ia menghindar dari Bagus dari pada jantungnya copot di tempat.Ia memegangi dadanya sambil berjalan. Bagus hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita yang baru saja dipacarinya tersebut.


Sementara itu Jaden meminta BIa masuk ke dalam mobilnya terlebih dulu.Setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah sang nenek dan ibunya rupanya tengah menunggu di depan rumah.


"Mama tadinya mau nelpon Jaden tapi handphonenya gak aktif jadi mama telepon Bagus katanya kalian on the way pulang jadi mama sekalian ke rumah kalian. Nenek mau mampir ke rumah kalian sebelum balik," kata mama Ara.


BIa memeluk sang nenek" Baliknya lusa aja nek, Bia masih kangen."


"Nenek kesini cuma pesen sama kalian supaya segera bikinin nenek cicit," goda sang nenek.


"Iya nek," jawab Bia sambil tersenyum.


"Oh ya Bi mama juga mau pesen selama mama nganterin nenek sampai ke rumahnya kalian tolong jagain papa ya, soalnya hari ini papa kurang enak badan katanya," pesan mama Ara sebelum ia pergi.


"Ah papa sakit apa ma?" tanya Jaden.


"Mungkin cuma kecapekan," jawab mama Ara."Ya sudah kami berangkat ya Bi,Jaden,"pamit mam Ara dan neneknya.


Bia melambaikan tangan melepas kepergian sang mama dan neneknya.Lalu ia bertanya pada sang suami apakah mereka harus mengunjungi ayahnya sekarang?


"Oke, tapi setelah kita mandi ya," Jaden mengajak Bia masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam kamar Jaden memeluk sang istri dan mendaratkan dagunya di bahu Bia.


Sesekali ia mengecup bahu istrinya itu. Bia merasa meremang. "Kakak ngapain?" tanyanya dengan suara manja.


"Kita lanjutin yang tadi yuk!" Jaden mengutarakan keinginannya.Bia mengangguk.


Jaden membalik tubuh istrinya. Lalu mereka menyatukan bibir mereka melakukan ciuman dengan lembut.


Tak puas hanya berciuman,Jaden mulai mengeksplore mulut istrinya itu, memainkan lidahnya.


Setelah puas di bagian mulut Jaden turun ke bagian leher meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Sedangkan tangannya sudah bergerilya kemana-mana.


Bia semakin terbuai. Jaden membawa tubuh Bia naik ke atas ranjang. Ia berada di atas untuk mengungkungnya. Mereka kembali menyatukan bibir hingga de*sa*han dan e*ra*nga keluar dari mulut Bia.


Percintaan panas tersebut berlangsung hingga beberapa kali hingga Bia merasa kelelahan dibuatnya. Saat hari mulai petang mereka bangun. Bia teringat akan pesan sang ibu untuk mengunjungi ayahnya.


"Kak siap-siap sekarang, kita lupa harus nengokin papa," titah Bia pada sang suami.