
Malam itu keluarga Darren datang ke rumah Rasya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Selamat malam," sapa Darren ramah saat pemilik rumah membukakan pintu untuk keluarganya.
Ara kaget karena mereka tidak memiliki persiapan menyambut calon besannya.
"Silahkan masuk," ajak Ara dengan ramah dan tersenyum.
Darren, Celine, Julian dan Jaden masuk ke dalam rumah mewah itu. Ara memanggil suami dan juga putrinya.
Bia tampak malu-malu menghadapi keluarga Jaden. Jantungnya berdebar saat berada di ruangan yang sama. Ia juga menautkan jari jemarinya yang terasa basah dan dingin.
"Kedatangan kami ke sini adalah guna melamar Berlian untuk anak kami Jaden," Darren menyampaikan maksudnya secara langsung pada Rasya dan keluarganya.
"Berlian menikahlah dengan Jaden anak kami, dia akan bertanggung jawab atas kehamilanmu," kata Darren pada Bia.
Semua orang menunggu jawaban Bia. Gadis itu menatap papa dan mamanya bergantian. Kedua orang tuanya mengangguk memberi restu pada sang putri.
Bia menarik nafas panjang sebelum menjawabnya. "Baik saya bersedia," ucap Bia lirih meski begitu semua orang mendengarnya. Jaden tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia menatap calon istrinya itu dengan tatapan sayang. Wajah Bia merah merona saat kedua maniknya tak sengaja bertemu dengan manik calon suaminya.
"Terima kasih nak kami bahagia mendengarnya, maafkan anak tante yang kurang ajar itu membuatmu hamil di luar nikah," ucap Celine dengan penuh penyesalan seraya menggenggam tangan calon menantunya.
Bia mengangguk pelan. Ia tak mungkin bisa menolak pernikahan ini karena sudah ada janin dalam rahimnya yang tak lain adalah darah daging Jaden.
Sebenarnya Bia juga mencintai Jaden tapi dia tidak menyangka Jaden merengut keperawanannya hingga ia hamil. Kini mau tak mau Bia harus menikah dengan Jaden dalam waktu dekat.
"Sebaiknya seminggu lagi kita adakan acara pernikahannya," imbuh Darren. Rasya hanya menyetujui usulan dari keluarga Jaden. Yang terpenting ada yang bertanggung jawab dengan kehamilan anaknya.
Sedangkan mulut Bia menganga saat mendengar seminggu lagi ia akan berstatus sebagai istri Jaden. "Kenapa nikahnya harus secepat itu," batin Bia resah
Julian menyenggol bahu saudara kembarnya."Jadi nikah lo," ejek Julian sambil menaikkan alisnya.
Keduanya lalu bertos ria merayakan kebahagiaan Jaden.Celine menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.
"Baiklah kami permisi dulu, terima kasih sudah menyambut kami dengan baik," ucap Darren pada Rasya sebelum melangkah pulang.
"Saya menerima niat baik keluarga anda,terima kasih sudah mau bertanggung jawab atas kehamilan Berlian," balas Rasya.
"Sudah seharusnya," Darren memeluk calon besannya itu.
Jaden jadi ingin memeluk Bia hingga ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis cantik itu.
"Eet mau ngapain?" cegah Celine dengan membelalakkan matanya.
"Mau peluk calon istri mom," rengek Jaden.
"Gak ada," sungut Celine diiringi tawa semua orang yang ada di situ.Jaden jadi mengerucutkan bibirnya.
Julian melingkarkan lengannya ke leher Jaden dan menariknya keluar. Bia menjulurkan lidahnya saat melihat Jaden pergi.
"Mommy tega sekali padaku, aku kan kangen mom sama Berlian," Jaden mencebik kesal.
"Bersabarlah seminggu lagi," kata Celine di dalam mobil.
Bahu Jaden meluruh. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa memeluk Bia. Namun dia sangat bahagia karena Bia akan menjadi istrinya.
...***...
Ara mengantar putrinya ke kamar. Ia juga membuatkan segelas susu hamil untuk Bia. "Minum dulu susunya sebelum kamu tidur," Ara memberikan gelas susu tersebut pada Bia.
Bia menerimanya dan meminumnya sampai tandas. "Rasanya enak ma," kata Bia sambil melihat gelasnya yang kosong.
"Kau tahu dulu saat aku hamil kamu, mama hanya mau makan nasi dengan kecap, selain itu mama akan muntah," Ara bercerita semasa ia hamil Bia.
"Oh ya aku tidak merepotkan mama kan saat itu?" tanya Bia memastikan.
"Aku harap dia juga begitu," Bia mengarahkan pandangannya ke arah perutnya yang datar.
"Sayang bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ara pada putrinya.
Belum sempat Bia menjawab Rasya masuk ke kamarnya. "Hei apa yang sedang kalian bicarakan bolehkah aku tahu?" goda Rasya pada dua wanita kesayangannya.
"Emm ayo pa biarkan anak kita beristirahat," setelah menaikkan selimut Bia, Ara mengajak suaminya keluar.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Rasya pada istrinya yang baru menutup pintu kamar putrinya.
"Iya dia baik-baik saja pa," jawab Ara seraya menggandeng tangan suaminya.
"Sayang aku menginginkanmu malam ini," bisik Rasya ke telinga Ara.
"Dasar mesum," Ara memukul pelan dada bidang sang suami sambil terkekeh malu.
Tak menunggu jawaban dari istrinya, Rasya mengangkat tubuh istrinya yang ramping itu. "Turunkan aku, kita ini bukan pengantin baru," kata Ara.
Rasya jadi tergelak mendengar perkataan istrinya. Ia lantas menurunkan istrinya di atas ranjang. Ara sudah berada dalam kungkungan sang suami.
"Kau siap menjalani malam panjang ini sayang?" goda Rasya. Ara mengangguk sambil membunyikan bibirnya untuk menahan senyum karena malu.Dan percintaan mereka pun terjadi.
...***...
Keesokan harinya di rumah besar milik keluraga Danz Smith, Jaden yang baru bangun tidur merasa perutnya tidak enak. Ia pun mual dan muntah tapi tidak ada yang ia keluarkan.
Celine yang mendengar suara orang yang sedang muntah jadi menghampirinya. Ia kemudian mengetuk pintu kamar Jaden.
"Jaden kamu baik-baik saja nak?" teriak Celine dari luar kamar.
Jaden keluar lalu membukakan pintu untuk momminya. Ia tampak sedikit kacau. Celine jadi cemas melihat wajah putranya yang nampak pucat.
"Kamu sakit nak?" Celine memegang pipi Jaden dan mengusapnya lembut.
"Hanya sedikit mual mom," jawabnya dengan lesu.
"Apa perlu mommy panggilkan dokter?" tanya Celine khawatir.
"Tidak mom mungkin aku hanya masuk angin dan kelelahan," tolak Jaden yang tak mau berurusan dengan jarum suntik.
"Oh apakah kau sedang nyidam? Sudah berapa lama kau mengalami mual muntah di pagi hari?" tanya Celine sembari duduk di samping anaknya.
"Nyidam? Baru beberapa hari ini aku merasakan mual di pagi hari dan jika aku mencium sesuatu yang menyengat mom," keluh Jaden.
Celine menahan tawanya. "Bagaimana rasanya? Rasakan. Ini akibat kau menghamili Berlian sebelum menikah jadi kau yang merasakan ngidamnya," cibir Celine.
"Mom," rengek Jaden karena sang ibu malah mengejeknya
"Nanti siang ikut mommy memilih cincin untuk pernikahan kalian, kita juga harus mengurus dekor, undangan dan catering," kata Celine dengan beberapa agendanya.
"Jaden mau pernikahan yang sederhana saja mom, tapi dilakukan dengan sakral, aku yakin Berlian akan menyukainya," pinta Jaden.
"Baiklah nanti aku juga akan meminta pendapat dari mamanya Berlian, apa kau hari ini alan tetap bekerja?" tanya Celine.
"Ya mom, aku hanya mual saat bangun tidur, tapi setelah siang hari aku tak merasakannya lagi, mommy jangan khawatir," perkataan Jaden membuat Celine lega karena anaknya itu baik-baik saja.
"Oh ya mom berapa lama aku akan mengalami mual muntah seperti ini? tanya Jaden penasaran. Ia tak ingin terus-terusan mual muntah di pagi hari. Baginya itu sangat menyiksa.
"Kalau mommy dulu saat hamil kalian hanya merasakan di awal kehamilan,"
"Jadi berapa hari mom?" tanya Jaden lagi.
"Sampai usia kandungan istrimu empat bulan," jawaban Celine membuat Jaden lemas. Ia tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya dia selama empat bulan ke depan.