
"Bi kami tinggal dulu ya," pamit mom Celine pada menantunya.
"Ya mom, hati-hati," kata Bia sambil tersenyum.
Setelah semua orang pulang kini tinggal Bia dan Jaden yang berada di rumah sakit.
"Sayang tidur sini," Jaden menepuk ranjangnya agar istrinya itu mendekat.
"Aku tidur di sofa saja," tolak Bia malu-malu.
Jaden tidak tahan kalau sehari saja tidak menggoda istrinya. Ia menarik tangan Bia sehingga badan Bia terjatuh di atas dada bidang Jaden.
Jantung Bia berdegub kencang. Jaden dapat merasakannya. Wajah wanita itu juga memerah karena malu. Wajahnya hampir tak berjarak dengan wajah suaminya. Bia bisa merasakan hembusan nafas hangat di seluruh wajahnya.
"Ah lepaskan," Bia mendorong tubuh Jaden. Tapi tenaganya tak sebanding dengan suaminya.
"Tidurlah di sini tenang saja aku tidak akan macam-macam, kamu lihat ini, tanganku masih berselang," kata Jaden sambil menunjukkan tangannya yang diinfus.
"Baiklah aku akan menemanimu tidur tapi janji ya jangan macam-macam, ini rumah sakit," ancam Bia.
"Iya sayang," Jaden mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Sayang boleh aku bertanya?" Jaden mulai percakapan.
"Apa selama kita berpisah beberapa waktu lalu kamu bisa tidur dengan nyenyak?" tanya Jaden serius tapi dijawab Bia dengan gurauan.
"Bisa, aku bahkan merasa puas karena aku bisa tidur tanpa diganggu oleh suara dengkuranmu tiap malam,"
Jaden mengernyit heran. "Sayang, berarti kamu tidak pernah merindukanku selama ini?" rengek Jaden.
"Untuk apa rindu padamu, yang ada kamu yang rindu padaku," elak Bia.
"Sangat,aku sangat merindukanmu," jujur Jaden mengungkapkan perasaannya.
"Lalu kenapa kamu meninggalkan aku di saat aku sedang butuh dukunganmu, dasar jahat," Bia bersidekap lalu membuang muka.
"Maafkan aku sayang, aku tidak berfikir panjang waktu itu aku terlalu sedih kehilangan anak kita, aku tidak bermaksud menyalahkanmu tapi aku hanya tidak bisa terima dengan musibah yang menimpamu," terang Jaden sambil meneteskan air mata.
"Maafkan aku," Jaden memeluk istrinya erat.
"Aku tidak berfikir kalau anak hanya titipan, kita bisa membuat anak lagi kalau kamu mau," imbuh laki-laki yang masih mendapat perawatan tersebut.
"Jangan mesum deh, kita di rumah sakit kak, lagipula aku tidak boleh hamil sebelum dua tahun ke depan," kata Bia.
"Siapa yang bilang?" tanya Jaden bingung.
"Dokter, kamu lupa kalau aku habis operasi sesar, luka dalamku saja belum sembuh. Butuh waktu dua tahun agar aku boleh hamil lagi," Bia mencolek hidung mancung suaminya.
Jaden menepuk jidatnya. "Tapi bukan berarti kita tidak bisa berhubungan suami istri bukan?" tanya Jaden.
"Siapa bilang tidak boleh, tapi..." Bia menjeda omongannya.
"Tapi apa Yang?" Jaden dibuat penasaran oleh istrinya.
"Tapi kamu harus sembuh dulu, kamu lihat itu kepalamu masih diperban, tangan dan kakimu juga, bagaimana kamu akan melakukannya?" ejek Bia pada suaminya.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan pergi dariku, aku butuh dirimu," mohon Jaden dengan muka melas.
"Cih kalau kamu lagi sakit kamu minta aku menemanimu, tapi saat aku sedang membutuhkanmu kamu mana ada menemaniku," cibir Bia.
"Maaf," Jaden kembali menunduk.
Bia merasa omongannya menyingung perasaan suaminya. "Emm sayang aku hanya becanda, jangan diambil hati ya, lupakan kejadian yang telah berlalu, aku sudah memaafkan dirimu," kata Bia dengan tulus.
Jaden menyambut gembira perkataan istrinya. Ia sangat bersyukur mereka kembali akur setelah mengalami banyak ujian rumah tangga.
Keesokan harinya Julian datang bersama Ruby untuk menjenguk Jaden. Setengah jam yang lalu Bagus datang lebih dulu. Kemudian pamit setelah Julian masuk.
Kepala Ruby menabrak dada bidang Bagus. Wanita itu tidak melihat ada orang di depannya karena sibuk dengan ponsel yang ia pegang.
"Aw," Ruby mengusap-usap keningnya yang panas.
Ehem
Bagus berdehem agar Ruby menyadari keberadaannya. "Eh maaf," kata Ruby lalu berlalu bergitu saja.
"Gitu doang?" gumam Bagus sambil menggelengkan kepalanya.
"Sendirian aja bro?" tanya Julian yang baru datang.
"Istriku sedang mandi," jawab Jaden kini posisinya sedang bersandar menggunakan bantal.
"Hai Jaden, aku bawakan buah untukmu," kata Ruby kemudian meletakkan buah itu di atas meja.
"Terima kasih,"
"Aku sudah menyelidiki penyebab kecelakaan yang menimpamu, sepertinya disengaja," kata Julian.
"Ya kau benar, Bagus juga melaporkan hal yang sama," balas Jaden.Ia mengingat-ingat sepertinya dia tidak pernah punya musuh. Lalu apakah ada orang suruhan saingan bisnisnya yang melakukan semua ini, pikirnya.
"Kira-kira kau tahu siapa?" tanya Julian. Jaden hanya menggeleng tidak tahu.
"Baiklah istirahat saja aku akan selidiki lebih lanjut,"
"Bang Jul, kapan datang," Julian dan Jaden menoleh ke arah Berlian.
"Baru saja, tapi aku ingin pamit, kami akan menghadiri rapat bulanan di kantor," terang Julian. Ruby pun mengangguk mengiyakan.
"Hati-hati bang Jul, Ruby hati-hati ya kalau perlu minta bang Jul menggandeng tanganmu," ledek Bia sambil terkekeh kecil.
Ruby jadi salah tingkah. "Ish kamu ini," kata Ruby kesal pada Berlian setelah itu berlalu mengekori atasannya.
"Aku lihat-lihat mereka cocok kalau jadi pasangan," Bia menilai.
"Aku,Ruby,dan bang Julian adalah teman masa kecil mana mungkin dia suka pada temannya sendiri," kata Jaden.
"Ih kak Jaden kalau jodoh bisa aja kan," Bia tak mau kalah.
"Sayang sini," Jaden menepuk kasur agar Bia mau duduk di sebelahnya.
"Prinsip kami adalah saling menjaga perasaan, kalau di antara kami terlibat percintaan maka taidak ada artinya persahabatan selama bertahun-tahun apabila bisa putus karena pertengkaran setelah menjalin kasih," kata Jaden.
"Kamu tahu tidak, sebenarnya Ruby sudah lama menyukai bang Julian," tutur Jaden.
"Oh ya?" Bia kaget.Jaden mengangguk pelan.
"Iya tapi wanita itu memilih diam supaya di antara kami tidak terlibat pertengkaran, bayangkan jika Ruby menyatakan cintanya pada bang Julian tapi dia malah ditolak, apakah mereka masih mau berteman, terlebih lagi mereka selalu bertemu sebagai atasan dan sekertaris?" Bia menggeleng menjawab pertanyaan suaminya.
"Tapi kalau aku jadi Ruby aku akan menyatakan cintaku pada bang Julian setidaknya aku tidak memendam perasaan itu sendiri,"
Pendapat Bia dibantah oleh suaminya. "Bang Jul juga sudah tahu kalau Ruby menyukainya tapi bang Jul tidak mau memaksakan diri dengan menerima wanita yang tidak dia cintai, oleh karena itu bang Julian memilih diam, pura-pura tidak tahu tentang perasaan Ruby yang sebenarnya,"
"Ckckck kisah cinta yang ruwet, yang satu memendam perasaan yang satu tahu tapi diam saja, tidak bisa begini," Bia tiba-tiba berdiri.
"Aku akan membantu mereka agar bisa bersatu," kata Bia bersemangat.
Jaden menepuk jidatnya. "Ya ampun rumah tangga sendiri hampir hancur malah memikirkan orang lain, ajaib memang istriku ini," batin Jaden dalam hati sambil menahan senyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
❤️❤️❤️
Akhir bulan pliss bagi-bagi kopinya biar othor gak ngantuk pas lagi nulis. Like dan favoritin ya thank you.