My Beloved Partner

My Beloved Partner
92



"Udah selesai yuk!" Ajak Bia yang baru keluar dari salon.Kini tampilan rambutnya sudah rapi.Jaden tersenyum melihat istri cantiknya tersebut.


"Kita mau makan di mana mom?"tanya Jaden.


"Gimana kalau kita makan di restoran Jepang,"usul mam Celine.


Ketiganya kemudian mengikuti mam Celine memasuki restoran Jepang yang tak jauh dari salon tempat mereka melakukan perawatan rambut tadi.


Setelah memilih meja, mereka memesan menu makanan yang tersedia. Tak lama kemudian makanan pun siap disajikan. Tapi Bia tiba-tiba merasakan mual sehingga dia berlari ke toilet.


"Huek huek,"


Jaden yang merasa khawatir kemudian menyusul istrinya ke toilet. "Kamu tidak apa-apa sayang?"tanya Jaden khawatir.


"Aku sedikit pusing," kata Bia lemas.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya mom Celine yang menyusul ke toilet.


"Aku pengen pulang aja, tadi nyium bau kepiting rasanya eneg banget mom," keluh Bia.


"Periksakan dia ke dokter!" Perintah mom Celine pada putranya.


"Kami permisi dulu mom," Jaden membopong tubuh Bia saking lemasnya dia.


Mom Celine kembali ke meja menghampiri Raina. "Bagaimana keadaan Bia mom?" tanya Raina khawatir.


"Mommy menyuruh mereka pulang,Bia sepertinya sedang tidak enak badan, dia mual saat mencium bau makanan laut."


"Mommy yakin Bia cuma mual biasa?" Raina memberi kode pada ibu mertuanya.


"Ogh astaga apa dia sedang hamil?" tebak mom Celine antusias. "Bisa jadi," balas Raina.


Sementara itu Jaden membawa Bia ke rumah sakit. "Kak kenapa harus ke sini sih?" tanya Bia seolah dia tidak setuju dibawa ke rumah sakit.


"Kamu lemas begitu bagaimana kalau sakitmu bertambah parah," Bia purun turun dengan terpaksa.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Jaden pada dokter yang memeriksa.


"Terakhir kali anda menstru*asi kapan nyonya?" tanya Sang Dokter.


"Saya lupa dok,soalnya saya tidak pernah menghitung siklus men*struasi saya," ungkap Bia.


"Kalau dugaan saya benar anda sedang hamil nyonya Untuk lebih tepatnya silahkan periksa ke poli kandungan!" Saran dokter tersebut.


Jaden dan Bia saling pandang.Mereka sangat senang mendengar berita bahagia tersebut."Terima kasih dok,kami pulang dulu," kata Jaden.


"Apa kita langsung ke poli kandungan kak?"tanya Berlian. "Begitu juga boleh,tapi tunggu sebentar aku harus mengabari Bagus," kata Jaden.


"Bukan sayang,aku ingin dia mengatur ulang jadwalku hari ini," kata Jaden.Bia beroh oh ria.


"Gus tolong atur ulang jadwalku!" kata Jaden pada Bagus melalui sambungan telepon. Kemudian dia langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Kita harus antri Bi kamu gak papa kalau nunggu lama?" tanya Jaden pada istrinya seraya mengusap pipi putihnya itu. Bia menggeleng.


Mereka pun duduk setelah Jaden mendaftarkan nomor antrian.Jaden dan Bia duduk di antara wanita hamil bersama pasangan mereka masing-masing.


"Aku jadi ingat waktu aku hamil anakku dulu,rasanya menyenangkan bisa mengelus perutku yang besar," Bia mengenang masa ketika ia hamil anak pertamanya dengan Jaden. Sayangnya waktu itu ia harus kehilangan bayinya karena sebuah kecelakaan.


Jaden hanya menanggapi dengan senyuman. Tak lama kemudian nama mereka dipanggil. Jaden dan Bia pun memasuki ruang poli kandungan.


"Selamat sore," sapa dokter yang berhijab itu dengan ramah.


"Apakah sudah pernah datang ke sini sebelumnya?" Mereka menggeleng.


"Kami habis dari dokter umum kemudian beliau menyarankan untuk memeriksakan istri saya ke poli kandungan dok," terang Jaden.


"Mari saya periksa," Dokter pun memeriksa menggunakan USG.


"Bagaimana dok hasilnya?"


"Usia kandungannya sekitar lima minggu ya pak, bayinya sehat, kalau ibunya mual muntah itu wajar ya,"


"Dulu ketika saya hamil anak pertama saya tidak mengalami mual muntah dok,"


"Jadi ibu sudah pernah melahirkan?" Bia mengangguk.


"Tapi anak saya meninggal setelah dilahirkan,waktu itu saya mengalami kecelakaan, Dok."


"Kalau begitu sebaiknya ibu lebih menjaga kandungan ibu karena di semester awal sangat rawan keguguran.Saya akan resepken vitamin penguat kandungan."


"Terima kasih banyak Dok," kata Jaden mewakili Bia.


...***...


"Untuk memastikan kabar gembira itu kita perlu menelpon Jaden," kata mom Celine.Lalu ia pun mengambil ponselnya dan menelepon sang putra.


"Bagaimana keadaan Bia nak?" tanya mom Celine pada Jaden lewat sambungan telepon.


"Dia baik-baik saja, oh ya mom Bia hamil," kata Jaden to the point menyampaikan kabar gembira itu pada keluarganya.


"See, benar kan tebakan mommy."