
Ehem
"Masih ada mama nih, jangan dikacangin dong," protes mama Ara.
Bia merasa tidak enak pada mama Ara. "Ma aku siapin ke meja makan dulu ya yang udah pada mateng." Bia berjalan menuju meja makan.
"Nak Jaden, maafin Bia ya karena tidak pandai memasak, mama sangat memanjakan anak mama sehingga dia tidak sempat belajar memasak," kata mama Ara saat Bia sedang menata meja makan.
"Gak papa ma, aku juga gak nuntut dia bisa masak, lagi pula setelah ini aku akan mencarikan asisten rumah tangga ma, Jaden gak mau Bia kecapekan," jawab Jaden sambil tersenyum pada ibu mertuanya.
"Syukurlah mama senang mendengarnya, lambat laun juga dia akan bisa menyesuaikan diri menjadi istri yang baik untuk kamu," kata mama Ara dengan lembut.Jaden mengangguk pelan.
Seusai berkutat di dapur ketiganya makan malam bersama. "Terima kasih ma atas jamuan makan malamnya," kata Jaden.
"Tidak usah terlalu formal, kamu kaya lagi ngadepin investor aja," kata mama Ara sambil terkekeh.
"Ma nanti mama berani pulang sendiri?" tanya Bia khawatir.
"Ya ampun kamu kira mama ini anak kecil sayang."
"Ya ini kan sudah malam ma, aku hanya khawatir," balas Bia.
"Biar saya antar, Ma," tawar Jaden.
"Gak usah, mama bisa pulang sendiri, kamu lupa kalau mama ini jago bela diri," kata mama Ara menyombongkan diri tapi hanya agar putrinya tidak khawatir.
"Saya ikuti dari belakang ya, Ma," kata Jaden lagi.
Mama Ara menggeleng. "Kamu temani saja istrimu, Bia ngajak mama ke sini karena dia takut sendirian di rumah," kata mama Ara sambil melirik ke arah putrinya.
"Kalau gitu hati-hati ya ma, jangan ngebut," kata Bia seraya memeluk ibunya erat.
"Iya, emangnya mama ini kamu suka balap liar," sindir mama Ara.
"Yagh mama itu kan dulu, Bia masih kalah kalau dibanding kak Jaden," bisik Bia sambil melirik ke Jaden. Jaden jadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bia dan Jaden mengantar mama Ara sampai depan rumah. Jaden berjalan lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk mertuanya. "Terima kasih," ucap mama Ara lirih.
Bia pun melambaikan tangan saat mobil mamanya mulai menjauh. Jaden lalu mengajak istrinya masuk ke dalam.
...***...
"Mama dari mana?" tanya papa Rasya yang juga baru sampai di rumah.
"Eh papa baru pulang juga ya? Mama dari rumah baru anak kita," jawab Ara. Wanita yang masih muda di usianya itu mengambil tas di tangan suaminya.
"Mereka ko gak cerita kalau pindah ke rumah baru," tanya papa Rasya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Iya mama baru tahu kalau Bia gak ke kantor hari ini, kapan-kapan mama ajak ke sana pa, rumahnya bagus, mama jadi pengen rumah kita di desain ulang seperti rumah mereka, biar mama betah di rumah, nanti sekalian buat taman bermain anak ya pa, sebentar lagi kita kan punya cucu," kata mama Ara panjang lebar. Rasya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ma, pa, kalian ko bisa barengan?" tanya Bulan yang sedang memegang gelas berisi kopi di tangannya.
"Tolong buatin kopi papa sekalian ya sayang, mama mau naruh ini di atas dulu," pinta mama Ara dengan lembut.
"Mama gak bareng sama papa, kita cuma bareng pas parkir mobil di garasi," sahut papa Rasya sambil mengendorkan dasinya.
"Jangan lembur tipa hari pa, jaga kesehatan itu penting," omel Bulan yang begitu peduli dengan pamannya. Bulan menyodorkan kopi buatannya.
"Kopinya enak, kamu pinter juga ngeraciknya," puji papa Rasya.
"Iya Bulan di sana kan pernah jadi bartender jadi masalah meracik kopi itu kecil," kata Bulan sambil menjentikkan jarinya.
"Hehehe papa tahu aja kalau aku mau ngerjain tugas, habisnya yang punya gedung ini rewel banget orangnya minta ganti desain katanya gak sesuai dengan keinginannya," keluh Bulan pada Rasya.
"Yagh kadang emang ada yang seperti itu, kamu harus bersabar menghadapi orang kaya gitu, salah sedikit dia akan membatalkan proyek dengan kita," saran papa Rasya.
"Pa, mama sudah menyiapkan air panas buat mandi," kata mama Ara yang baru turun dari lantai atas.
Papa Rasya pun melangkahkan kakinya menaiki tangga. Bulan pamit ke kamarnya karena dirinya akan mengerjakan tugas.
Drrt Drrt
"Hai," sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Bulan.
Bulan mengernyit heran saat tidak ada nama yang tertulis dari pengirim pesan. Dia pun tak menghiraukan pesan masuk tersebut.
Atas kejeniusannya Julian berhasil mencari kontak Bulan melalui ponsel Bia yang ia hack.
Tak juga mendapatkan balasan dari Bulan. Julian merasa risau. "Apa aku ngaku saja kalau aku ini Julian agar dia mau membalas pesanku, atau aku telepon saja dia," Julian sedang bermonolog.
Kemudian Julian memberanikan diri untuk menelpon ke ponsel Bulan. Semenjak pertemuannya pertama kali di acara pernikahan Jaden dan Bia, Julian menaruh hati pada sepupu Bia itu.
"Baiklah aku akan menelepon," kemudian Jaden mendial nomor hp Bulan.
Bulan yang sedang sibuk di depan komputernya jadi merasa terganggu saat ada panggilan masuk tapi tak ada nama yang tertera di kontaknya. Bulan pun akhirnya membalik ponselnya untuk memutus panggilan yang masuk tersebut.
"Sial teleponku diriject," gerutu Jaden sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Baiklah nona kau rupanya ingin bermain-main denganku," gumam Julian dengan seringai licik.
...***...
Sementara itu di rumah Jaden
"Aku sudah siapkan air panas untuk kamu mandi," kata Bia pada suaminya.
"Terima kasih sayang," kata Jaden sambil tersenyum.
Jaden memiliki ide untuk mengerjai istrinya. Ia berjalan mendekat ke arah Bia sampai Bia terhimpit ke dinding.
"Mau ngapain sih?" tanya Bia sambil menahan dada Jaden dengan kedua tangannya.
"Mau cium kamu lah," goda Jaden mendekatkan wajahnya.
"Ihk kamu bau, dari tadi belum mandi juga," protes Bia sambil menutup hidungnya.
Jaden lalu pura-pura menjauh.Saat Bia mulai lengah ia mendekat dan mencuri ciuman di bibir istrinya. "Dasar mesum," protes Bia sambil memukul bahu sang suami.
Wajahnya sudah pasti merah merona mendapat ciuman mendadak dari suaminya. Jaden memang suka sekali melihat wajah istrinya yang malu-malu. Baginya itu sangat menggemaskan. Sehari saja tak menggodanya rasanya ada yang kurang.
"Mesum juga sah-sah aja sama istri sendiri," kata Jaden yang tidak merasa berdosa sama sekali.
"Sayang kamu gak ikut mandi sekalian," goda Jaden lagi seraya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Masuk nggak," geram Bia lalu melempar bantal ke arah suaminya. Sayangnya Jaden segera menutup pintu kamar mandi. Terdengar gelak tawanya dari balik pintu.
❤️❤️❤️
Pliss yang udah mampir baca kasih dukungan dong. Ngelike gak bayar 😉