My Beloved Partner

My Beloved Partner
46



Semenjak Julian mengenal Bulan, ia melakukan berbagai cara agar selalu dekat dengan wanita pujaannya. Ruby mencebik kesal saat Julian mengajak Bulan untuk ikut meeting dengannya.


"Rupanya saya sudah tidak dibutuhkan lagi di sini," kata Ruby ketus sebagai sekertaris Julian ia merasa tidak dianggap.


Julian lebih memilih Bulan yang notabene hanya partner kerja untuk menemaninya meeting bersama klien.


Julian terkekeh mendengar protes Ruby. "Kamu tenang saja meskipun kamu udah gak aku butuhin tapi aku gak akan pecat kamu."


"Sialan lo," umpat Ruby.


Ruby dan Julian sudah berteman sejak kecil. Jadi tidak heran keduanya sangat akrab.Julian tahu Ruby cemburu tapi ia tidak cemburu karena menaruh perasaan pada Julian melainkan cemburu karena tugasnya ada yang menggantikan.


Ruby hanya merasa pekerjaannya akhir-akhir ini berkurang tapi ia seperti diabaikan oleh Julian.


"Selamat siang," Bulan memberi salam saat berada di ambang pintu.


"Tuh sekertaris baru lo dateng," gerutu Ruby pada Julian. Ia pun keluar tanpa menoleh ke arah Bulan.


"Jangan hiraukan dia Bulan, ayo kita ke hotel Jaden, katanya ada chef baru yang akan datang menggantikan chef lamanya yang resign," ajak Julian lalu diangguki oleh Bulan.


...***...


"Sayang kamu hari ini ada acara gak di kantor?" tanya Jaden pada istrinya.


"Gak ada meeting penting sih hari ini, aku bisa serahin semua pekerjaan ke Keyla kalau kakak mau ngajak aku pergi," kata Bia bersemangat.


"Kamu nih seneng banget kalau diajak jalan-jalan, kakak gak mau ngajak kamu jalan sayang, kakak cuma mau ngajakin kamu ke hotel," kata Jaden.


"Ngapain? emangnya ada pejabat penting yang harus disambut ya kak, kalau gitu aku harus pakai baju apa nanti?" tanya Bia yang panik.


Jaden menghembuskan nafasnya kasar. "Sayang, dengerin kakak, yang mau datang itu bukan pejabat tapi hotel kakak kedatangan chef baru, barangkali kamu mau nyoba masakannya jadi kakak ngajak kamu," Jaden mencubit hidung mancung Bia karena gemas.


"Oh ya asalnya darimana?" tanya Bia penasaran.


"Jerman," jawab Jaden singkat.


"Wah kebetulan sekali, ayo kak aku juga sudah lama gak makan makanan western," Bia menarik tangan Jaden.


Entah mengapa kalau ngomongin soal makan Bia semangat sekali. Sejak ia hamil ia tidak pernah merasakan mual. Malahan nafsu makannya bertambah. Selain makan tiga kali sehari ia biasa ngemil di sela-sela jam makannya. Tidak heran bobot tubuhnya semakin bertambah. Alhasil pipi Bia pun bertambah chubby tapi hal itu tidak mengurangi kasih sayang Jaden meski perubahan bentuk tubuh istrinya terlihat signifikan.


Jaden dan Bia kemudian berangkat menuju hotel J&B. Di sana mereka bertemu dengan Julian dan juga Bulan. Yang sejak menjalin kerjasama selalu terlihat bersama.


"Cie cie berangkat bareng," ledek Bia pada Julian dan Bulan yang baru turun dari mobil.


"Kak Mbul kakak udah pindah ke lain hati sekarang, ckckck kasian banget tunangannya," ledek Bia tak henti-hentinya.


"Kamu apaan sih dek?" protes Bulan atas tuduhan Bia.


"Yuk Yang kita masuk aja yuk," ajak Jaden agar Bia tidak membuat Bulan malu.


Mereka berempat pun menginjakkan kaki di resto yang ada di dalam hotel Jaden. Keempat orang itu duduk di satu meja yang sama.


"Tuan," sapa kepala pelayan resto tersebut.


"Tolong panggilkan chef baru kita, oh ya kami juga ingin mencicipi masakan andalannya, bisakah disiapkan segera?" pinta Jaden pada kepala pelayan itu.


"Baik tuan," kepala pelayan itu mengangguk patuh kemudian menuju ke dapur.


"Ya ampun Jang Ki Yoong oppa," lirih Bia yang menganggap chef baru itu seperti pemain drakor kesukaannya.


Jaden, Julian dan Bulan pun menoleh ke arah chef itu. Bulan tak kalah terkejut karena ia sangat mengenal baik laki-laki yang berseragam chef itu.


"Aiden," lirih Bulan namun terdengar oleh Julian. Julian pun mengerutkan keningnya. Sepertinya Bulan mengenal chef baru itu, pikirnya.


"Selamat pagi tuan," sapa Aiden seraya menganggukkan kepalanya.


Jaden berdiri dan menyapa Aiden. "Selamat datang di hotel kami, saya Jaden pemilik hotel ini," Jaden memperkenalkan diri.


"Terima kasih tuan,saya Aiden," kata Aiden seraya memegang sebelah dadanya.


"Silahkan mencoba masakan saya,saya harap kalian menyukainya," kata Aiden dengan sopan kemudian pergi. Sejenak Aiden menoleh ke arah Bulan.


Bulan hanya bisa memandangi punggung laki-laki yang ia cintai.Di antara mereka tidak ada yang tahu kalau Aiden adalah tunangan Bulan. Bahkan Bia belum pernah melihat wajah tunangan kakak sepupunya itu.


Aiden tidak pernah bilang pada Bulan akan kepindahannya ke Indonesia. Bulan sangat terkejut. Dia senang karena saat ini tunangannya berada di satu kota yang sama sehingga ia tak harus berhubungan jarak jauh lagi. Tapi di sisi lain Bulan merasa bersalah karena selama tinggal di Indonesia ia tidak pernah menghubungi Aiden. Apalagi setelah dekat dengan Julian yang terang-terangan menyukainya, Bulan seakan lupa ia sudah bertunangan.


"Emm enak sekali masakannya," puji Bia setelah mencicipi makanan yang dibuat Aiden.


"Sayang bagaimana kalau chef di rumah daddy diganti saja sama chef yang haru itu," kata Bia yang malah mendapat tatapan dingin dari suaminya.


"Emm maaf saya duluan, ada urusan yang harus saya selesaikan," Bulan pamit meninggalkan meja.


"Kak mbul mau kemana?" lirih Bia kemudian menoleh pada Julian. Julian hanya menggedikkan bahu.


"Pak anda harus menemui klien," kata Bagus mengingatkan atasannya.


"Eh gue juga mau balik ke kantor," kata Julian setelah mendapat pesan dari Darren agar memintanya kembali ke hotel Danz Smith.


"Sayang kamu gimana?" tanya Jaden pada istrinya.


"Aku mau ke rumah mama aja, udah lama gak kesana kak," kata Bia.


"Baiklah kabari aku kalau sudah sampai," Jaden mengecup kening Bia sayang.Bia pun mengangguk.


"Elo kaya mau pergi perang aja, tangan sampai gak mau lepas gitu," ledek Julian melihat kemesraan Jaden.


"Sirik lo, makanya cari pasangan yang pasti-pasti aja, lo sampai kapan ngejar-ngejar cewek yang udah punya tunangan," sindir Jaden pada kakaknya.


"Sialan lo, suka-suka guelah," Julian tidak mau kalah.


...***...


Sementara itu Bulan menelpon ke luar negeri.


"Hallo ma, apa mom tahu kalau Aiden pindah kerja?" tanya Bulan pada mamanya.


"No, mommy gak tahu sayang, memangnya kenapa Bulan?" tanya Andrea balik.


"Ah tidak ada apa-apa mom, oh ya Bulan tidak bisa balik ke Jerman dulu mom, di sini Bulan dapat proyek kerjasama sama kakak iparnya Berlian," kata Bulan.


"Baiklah sayang, salam buat om Rasya sekeluarga," kata Andrea sebelum menutup teleponnya.