My Beloved Partner

My Beloved Partner
118



"Bi kamu baru selesai?" tanya Jaden yang sedari tadi menunggu istrinya menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya aku juga habis pumping ASI sepertinya ASI aku jadi kurang lancar deh kak semenjak Baby Al jarang meminum langsung dari sumbernya," kata Bia dengan wajah yang sendu.


"Ya gak papa kan dibantu sama susu formula," kata Jaden dengan santainya.


"Tapi aku sedih sekarang udah jarang nyusuin dia," Bia menelusup ke dada bidang Jaden.


"Habis kamu sih disuruh gak usah kerja juga ngotot banget." Jaden tidak bermaksud menyalahkan istrinya tapi entah kenapa Bia tiba-tiba mencebik kesal pada suaminya.


"Aku hanya pengen bantu papa," gumamnya di balik selimut. Jaden hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin karena pekerjaan numpuk yang dibawa istrinya itu pulang, moodnya jadi nggak bagus.


Jaden pun tidur dengan menutup matanya menggunakan lengan. Ia terpejam setelah beberapa saat.


"Sayang, sayang bangun udah siang nih, kamu nggak berangkat kerja ya?" Suara berisik Bia yang membangunkan Jaden di pagi hari membuatnya sulit untuk kwmbali terpejam.


"Ayo mandi," ajak Bia. Bia menarik tangan Jaden dan tersenyum ke arahnya. Ia mengunci pintu kamar mandi. "Apa kita akan mandi bareng?" tanya Jaden di telinga Bia. Bia mengangguk malu.


"Apa kamu siap?" tanya Bia dengan suara yang dibuat semendayu mungkin agar suaminya tergoda.


Jaden menyalakan shower kemudian mereka mandi di bawah guyuran shower tersebut. Jaden menempelkan bibirnya perlahan. Bia menarik tengkuk Jaden seolah tak sabar dengan ciuman yang akan diterimanya. Tangan Jaden sudah bergerilya kemana-mana menyentuh setiap inci tubuh sang istri termasuk di bagian intinya. Bia sudah mulai terbuai.


"Hah hah kak Jaden," panggil Bia saat Jaden mulai tutun ke leher dan bagian dadanya yang menonjol.


"I love you Bi," Jaden membuka seluruh pakaian istrinya dan saat ia akan mencium bibirnya kembali Bia malah menamparnya.


"Pa pa pa pa," panggil Baby Al yang tertidur di atas dada ayahnya. Bayi itu menepuk-nepuk wajah ayahnya karena gemas.


"Ih papa kamu molor mulu ya nak," Bia terkekeh melihat tingkah anaknya yang lucu.


"Kak Jaden." Bia membangunkan Jaden dengan mencabut bulu kakinya.


"Aw sakit," Jaden terperanjat.


"Eh ada anak papa di sini." Wajah Jaden yang marah seketika berubah senang saat putranya sudah ada di atas ranjang yang ia tiduri.


"Kamu kok udah ganteng sih," ucapnya setelah itu mencium rambut Baby Al. "Wangi lagi," pujinya.


"Iya dong pa, mama juga udah cantik nih," pinta Bia sambil menyodorkan pipinya.


""Emm mama mah modus bilang aja mau minta dicium papa," ledek Jaden pada istrinya.


"Salah lagi," gumam Jaden.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Jaden turun ke meja makan. "Sayang, hari ini mau bareng gak ke kantor, aku gak ada jadwal meeting apapun hari ini jadi pulang kerja bis jemput kamu." Jaden menawarkan tumpangan.


"Aku bawa mobil sendiri aja kak soalnya aku yang bakalan lembur hari ini. Oh iya kakak nanti sempetin buat nganter Baby Al ke dokter ya buat imunisasi," pinta Bia pada suaminya.


"Kenapa nggak kamu aja sayang?"


"Lusa aku ada penting-penting dengan klien jadi laporan harus selesai paling lambat besok," tolak Bia.


"Sayang, kamu baik-baik ya sama mbak Santi," pesan Bia pada bayinya setelah itu mengecup pipinya lalu pergi.


Jaden hanya menggeleng melihat istrinya yang sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di depan laptop daripada bersama suami dan anaknya.


"Aku berangkat dulu ya mbak, nanti kalau udah jamnya ke dokter aku sempetin pulang," kata Jaden pada Santi. lalu ia beralih ke Baby Al. "Papa berangkat ya nak, kamu jangan rewel," pesan Jaden pada putranya.


...***...


Bia sudah sampai di kantor tepat waktu. " Hufh untung aja jalanan gak macet." Ia menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya.


"Bu bos, jam sembilan ada pertemuan dengan Pak Dani," kata Keyla mengingatkan.


"Okeh, tapi aku baca bentar proposalnya," kata Bia.


Setelah itu Keyla dan Bia menuju ke restoran XX untuk membicarakan bisnis dengan Dani. "Maaf aku baru sampai," kata Bia yang langsung mendudukkan diri.


"Tiga puluh menit, waktuku sangat berharga nyonya Berlian," kata Dani dengan ketus.


"Ck, aku juga sudah berangkat setengah jam sebelum jam janjian kita tapi jalanan macet, apa aku harus mengangkat mobilku supaya bisa menghindari macet," jawab Bia tak mau kalah.


"Kamu ini udah jadi ibu juga masih aja ceplas ceplos ngomongnya," cibir Dani pada mantan pacarnya itu.


"Dih, gini-gini dulu kamu juga tergila-gila sama aku," gumam Bia.


Mereka pun melanjutkan acara meetingnya. Setelah dua jam membahas pekerjaan, Dani dan Bia berpisah. Mereka kembali ke kantor masing-masing.


Jaden tidak menyangka ia berpapasan dengan istrinya saat lewat di depan restoran tempat berlangsungnya meeting antara Bia dan Dani tadi. Jaden mengeraskan rahangnya karena kesal. Ia pun memukul setir mobilnya.


"Pak anda baik-baik saja?" tanya seseorang yang duduk di samping Jaden.