
"Ada apa ini?" Tanya seorang pegawai wanita yang membawa tas di lengannya.
Pegawai itu menoleh ke arah Alex. Anda siapa?" Tanyanya dengan sopan.
"Saya Diamond Alexander putra Jaden Danz Smith," ucapan Alex membuat karyawan wanita itu menundukkan kepalanya. Ia tentu mengenal nama Jaden Danz Smith karena sering meeting di kantor pusat.
"Maaf atas kelancangan pegawai kami yang tidak sopan, ada apakah anda tiba-tiba datang kemari?" Tanya wanita yang berprofesi sebagai asisten manager itu.
"Sebenarnya saya mencari keberadaan seseorang bisakah saya meminta tolong pada anda untuk memberikan alamatnya," pinta Alex dengan sopan pada wanita itu.
"Mari ikut saya!" Alex dan Agung pun mematuhi perintah wanita itu.
"Anda ingin tahu alamat siapa?"
"Zivanna Alexandra," jawab Alex.
Lalu wanita itu mengetik nama yang disebutkan oleh Alex tapi ternyata tidak ada. "Elo tahu nama orang tuanya bos?" Tanya Agung. Alex menggelengkan kepalanya.
"Nyokapnya galak jadi gue nggak sempat kenalan waktu itu," jawab Alex dengan santainya.
Bahu Agung meluruh. "Yagh jauh-jauh kita ke sini tapi nggak nemu alamatnya," protes Agung.
...Jika dua orang ditakdirkan bersama, maka dari sudut bumi mana pun mereka berasal, mereka pasti bertemu....
Mungkin belum waktunya Alex bertemu Sandra. Nanti kalau udah ketemu othor nggak jadi crazy up. 🤣
"Elah nggak ikhlas amat lo, awas lo nggak gue bayar gaji lo," ancam Alex pada Agung.
Alex kembali menoleh pada asisten manager itu. "Baik terima kasih atas bantuannya, tapi katakan pada manager anda agar tidak korupsi waktu atau akan saya minta pada ayah saya untuk memotong gajinya," gertak Alex.
"Baik," jawab asisten manager tersebut. Ia terlihat takut melihat aura dingin pada tubuh Alex.
Setelah itu Alex pulang bersama Agung. Jika pada saat berangkat tadi Agung yang menyetir kini giliran Alex yang menyetir mobil tersebut.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mereka sampai di rumah Agung pada tengah malam. "Sorry ya Gung bikin lo pulang larut kaya gini," kata Alex saat menurunkan Agung di depan rumahnya.
"It's oke bos, gue sih oke-oke aja asal ada bayarannya," kata Agung santai menanggapi omongan Alex.
"Gue masuk dulu, lo pulangnya hati-hati," pesan Agung lalu ia melambaikan tangan pada Alex.
Alex melajukan mobilnya kencang tapi hawa kantuk menyelimutinya. Akhirnya ia putuskan mampir ke minimarket untuk membeli minuman kaleng agar dia tidak mengantuk di jalan.
Ia meminum minuman kaleng tersebut sampai habis lalu meremas botolnya dan membuangnya ke sembarang arah. Tapi tanpa diduga kaleng bekas minum Alex mengenai kepala seseorang.
Laki-laki itu memungut kaleng yang terjatuh setelah mengenai kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya lalu mata laki-laki itu tertuju pada Alex. "Sialan dia berani melempar kepala gue pakai beginian," gumam laki-laki itu.
"Berhenti!" Suara berat itu meneriaki Alex. Alex menoleh ke sumber suara.
Segerombolan orang berbadan tegap mendekat ke arah Alex. "Elo harus tanggung jawab karena udah melempar kaleng ke kepala gue," kata laki-laki berbadan tambun itu.
"Hajar!" Perintahnya hanya menjentikkan satu jari pada anak buahnya.
Alex yang mendapat serangan tiba-tiba terkena pukulan di wajahnya. Ia jatuh tersungkur ke tanah. Tampak darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Alex mengusap darah itu dengan punggung tangannya. Ia lalu meludah.
"Cuih beraninya main keroyokan," cibir Alex pada laki-laki itu.
"Lalu apa maumu?" Tanya laki-laki itu.
Laki-laki itu tersenyum mengejek. Dasar bocah tengil," umpatnya. Lalu laki-laki itu lebih dulu melayangkan pukulan ke arah Alex tapi Alex dapat menghindar. Kemudian Alex memegang tangannya berniat menarik tubuh laki-laki tambun itu sayangnya tenaganya tak kuat. Alex malah ditarik oleh pemilik tangan lalu Alex dibanting.
"Itu saja kemampuanmu?" Kata laki-laki itu meremehkan Alex.
"Sial dia kuat sekali aku bisa babak belur kalau begini caranya," batin Alex.
Dia pun memikirkan cara agar bisa memenangkan pertarungan itu. Lalu Alex berpikir untuk menyerang bagian vitalnya. "Apapun asal gue menang," gumam Alex. Ia berdiri lalu berlari kemudian menghindari pukulan yang diberikan oleh laki-laki itu dengan mulus. Tangan Alex langsung mengarah pada alat vital pria itu. Ia memukul dengan keras bagian vitalnya.
Laki-laki yang melawan Alex tersebut jatuh tersungkur. Alex berteriak kegirangan. "Sialan, kamu melukainya, bodoh," umpat laki-laki itu sambil meringis kesakitan.
"Apapun bisa gue lakuin, pasti sakit banget ya," ledek Alex.
"Hajar!" Perintah laki-laki itu pada anak buahnya.
Namun, sebelum mereka menghajar Alex, pemuda itu masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kencang.
"Woo," teriak Alex bersemangat saat bisa kabur dari penjahat tersebut.
Sementara itu Bia sudah mondar-mandir dari tadi. "Mama tenang dulu!" Pinta Jaden.
Bia menatap tajam ke arah suaminya. "Gimana bisa tenang pa, gak biasanya Alex pergi hingga larut malam seperti ini," kata Bia yang cemas memikirkan putranya.
"Anak laki wajar Ma kalau bandel-bandel dikit," kata Kristal yang coba menenangkan ibunya dengan guraunya. Sayang sekali Bia tidan menanggapi.
"Tapi Alex nggak kaya gini biasanya, dia selalu mengabari mama jika akan pulang telat," bantah Bia.
"Pa, hubungi nomornya lagi, mama khawatir banget ini," perintah Bia pada suaminya.
Jaden pun menurut pada perintah istrinya itu. Ia mencoba menghubungi nomor Alex tapi tidak aktif.
"Pa suruh orang suruhan papa buat nyari dia!"
Tak lama kemudian Alex datang. Bia langsung memeluk erat putranya.
"Kamu darimana pulang larut begini mana muka berantakan lagi," cecar Jaden. Ia lupa kalau preman itu sempat menghajarnya.
"Emm lagi belajar bela diri di rumah Agung, tapi Alex terkena samsak secara nggak sengaja Ma." Alex terpaksa berbohong.
"Tadi mama teleponin kamu tapi kenapa nomor kamu tidak aktif nak?"
"Orang handphone Alex dayanya habis," Alex memperlihatkan layar ponselnya.
"Lain kali jangan bikin semua orang panik ya Lex!" Perintah sang mama.
"Iya ma, lain kali aku nggak akan bikin mama khawatir lagi," janji Alex pada ibunya.
"Ya sudah istirahat besok kamu harus kuliah lagi kan?" Tanya Bia.
"Maaf sudah bikin mama khawatir," kata Alex merasa bersalah pada ibunya. Bia mengangguk.
Setelah itu Alex menuju kamarnya. Dia membuka sepatunya lalu merebahkan diri di atas kasur. "Sandra kapan Tuhan akan mempertemukan kita, aku sangat merindukanmu," gumam Alex sambil menumpu kepalanya dengan kedua lengannya sambil memandang langit-langit.
Sementara itu di tempat lain Sandra sedang memikirkan Alex. Ia tiba-tiba merasakan kerinduan yang amat sangat pada pemuda itu. "Kamu apa kabar Lex?" Gumam Sandra.
"Semoga kita akan dipersatukan suatu saat nanti, aku hanya bisa menjaga hatiku untukmu, sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan posisimu, doakan aku agar bisa menyusul dirimu ke kota," harapan Sandra