
Keesokan harinya Raina pergi mengunjungi pamannya yang ada di dalam sel tahanan.
"Permisi pak, saya ingin bertemu dengan pak Hardian," kata Raina.
"Iya bu, tapi jam besuknya 10 menit lagi kalau mau menunggu silakan duduk di sana!" kata penjaga rutan tersebut.
Raina masuk ke ruang tunggu.Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu tahanan lain.
Ketika jam kunjung dimulai, Raina duduk di salah satu kursi.Petugas memanggil Hardian.Hardian terkejut saat melihat keponakannya.Namun, ia tak bisa menghindari pertemuan itu.Kini mereka duduk saling berhadapan.
Raina tersenyum ke arah pamannya."Apa kabar paman?" tanya Raina.
"Tanpa kujawab kau bisa lihat sendiri," jawab Hardian dengan ketus.
"Paman aku kesini karena aku peduli dengan paman, aku harap paman juga demikian, bukankah kita masih keluarga," kata Raina.
"Pulanglah,jangan kunjungi aku lagi," ucapan Hardian membuat Raina kecewa.
"Paman aku hanya ingin menyampaikan kalau aku sudah memaafkan paman," kata Raina.Hardian hanya terdiam mendengarnya.Setelah Raina pergi, Hardian menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.Hardian menangis menyesali perbuatannya dulu.Bagaimana bisa dia menyakiti hati keponakannya sendiri.
...***...
Raina pulang ke rumah mertuanya.Dia ingin menjemput Sovia yang dititipkan di sana.
"Sepertinya kau sedang ada masalah nak?" tanya mom Celine.Raina menggeleng.
"Tidak mom, aku baik-baik saja," elaknya.
"Bagaimana dengan pamanmu? Apa dia terlihat sehat?" tanya mom Celine lagi.
"Iya mom, tapi yang aku sayangkan dia tidak menerima kehadiranku,aku sedih mom padahal dia satu-satunya keluargaku yang masih hidup," Raina menahan air matanya.
"Jangan bilang begitu sayang, mommy, daddy, yang yang lainnya juga keluargamu, kami sangat menyayangimu ingat itu ya," kata mom Celine membesarkan hati anak menantunya.
Tak lama kemudian terdengar suara Sovia yang menangis.Raina segera menghampiri anaknya yang baru terbangun itu.Ia menggendong Sovia sambil menimangnya agar balita itu tidak menangis lagi.
"Sayang jangan menangis ya," Raina mencoba menenangkan Sovia tapi bayi itu masih saja menangis.Lalu Raina mencoba menyentuh kening anaknya."Demam," katanya.
"Sebaiknya kita bawa ke dokter sekarang," kata mom Celine memberi usul.
"Baik mom, aku bawa supir dia bisa mengantarku ke dokter, mommy tidak perlu khawatir," kata Raina.
Mom Celine mengangguk lalu Raina menggendong anaknya dan masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian mom Celine menelepon putranya Julian."Julian Sovia sakit,Raina sedang membawanya ke dokter," kata mom Celine dengan panik.
...***...
Raina tiba di sebuah klinik ibu dan anak yang dekat dengan rumah mertuanya.Ia menggendong Sovia yang masih saja menangis.
"Sovia kenapa?" tanya Jaden saat berpapasan dengan Raina.
"Dia demam daritadi menangis terus," kata Raina masih mencoba menenangkan anaknya.
"Cepat periksakan dia!" Raina pun masuk dan menemui dokter anak yang berjaga.
Bia saat itu baru saja keluar dari toilet."Siapa kak?" tanya Bia yang belum mengetahui keberadaan Sovia dan ibunya.
"Raina,dia membawa Sovia kesini sepertinya dia demam dari tadi dia terus saja menangis," ucapan Jaden membuat Bia mengkhawatirkan keadaan keponakannya itu.
"Bang Jul tidak ikut mengantar?" tanya Bia yang tidak menemukan saudara kembar suaminya itu.
"Mungkin dia belum tahu," kata Jaden.
Selang beberapa saat Julian berlari ke arah Jaden dan Berlian."Kalian juga ada di sini?" tanya Julian kala melihat adik dan iparnya.
"Aku sedang mengantarkan istriku periksa kandungan, temuilah Raina dan anakmu mereka ada di dalam," perintah Jaden.
"Tidak apa bu, anak ibu hanya demam biasa," kata dokter itu.
"Tapi kenapa dia menangis terus dok?" tanya Raina yang cemas.
"Mungkin karena badannya tidak enak jadi dia hanya bisa menangis karena anak sekecil ini tidak bisa mengekspresikan rasa sakitnya kecuali hanya dengan menangis," Raina merasa lega saat mendengar penjelasan dokter anak itu.
"Sayang bagaimana keadaan Sovia?" tanya Julian yang masuk ke ruangan praktek itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Maaf," ucapnya kemudian saat melihat ke arah dokter wanita itu.
"Tidak apa pak, anak bapak hanya demam biasa mungkin juga dia kecapekan," kata dokter menjelaskan.Julian ia ingat kalau Sovia baru bisa berjalan.Laki-laki itu merasa lega.
Setelah mendapatkan resep dari dokter,mereka keluar.Jaden dan Berlian menyambut mereka.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bia sambil mengelus Sovia.
"Tidak apa, dokter sudah memberikan obat,"kata Raina.
"Sayang kamu bikin kami khawatir, cepat sembuh ya sayang," kata Bia pada anak itu.
Sovia kini tertidur dalam gendongan Raina setelah lelah menangis.
"Apa anak kita akan selucu ini?" gumam Bia yang gemas melihat Sovia yang sedang tertidur.
"By the way apa jenis kelamin anak kalian?" tanya Julian penasaran.
...❤️❤️❤️...
Readers mau cewek apa cowok yang jadi anaknya Berlian?