My Beloved Partner

My Beloved Partner
121



Bia mendapatkan pesan singkat di ponselnya.


"Temui aku sendiri di jalan XX dengan membawa uang seratus juta, jangan lapor polisi kalau anakmu ingin selamat"


"Kak coba lihat ini," Bia menunjukkan pesan yang dikirim oleh Santi padanya.


"Sial kita kecolongan." umpat Jaden.


Tak lama kemudian ponsel Jaden berbunyi. Ia melihat nama Bagus di layar ponselnya.


"Bagaimana Gus?" tanya Jaden.


"Saya sudah menemukan dia pak, lokasinya tidak jauh dari kota," jawab Bagus melalui sambungan telepon.


"Kita perlu menyusun rencana sebelum menemui Santi," kata Jaden. Bia mengangguk paham.


"Apa kita juga perlu menyediakan uang seratus juta yang ia minta kak?" Tanya Bia meminta pendapat.


"Kita bicarakan itu di rumah nanti." Jaden menyalakan mesin motornya lalu ia kembali ke rumah mereka.


Sesampainya di halaman rumah mereka, Bia turun dari motor kemudian membuka helmnya. "Kak bagaimana kita menyiapkan uang seratus juta, jam segini kan gak ada Bank yang buka."


Jaden menghela nafas panjang. Ia turun dari motornya. "Sayang tenanglah!" Bentak Jaden ketika melihat istrinya mondar-mandir tidak jelas.


"Bagaimana aku bisa tenang?" Bia berjongkok lalu menangis. Jaden merengkuh tubuh istrinya itu. "Anakku diculik mana ada ibu yang tenang disaat anaknya tidak berada bersamanya," ucap Bia di sela-sela tangisannya.


Setelah itu Bia hilang kesadaran. "Bi bangun Bi bangun!" Jaden menepuk pipi Bia tapi tidak ada jawaban. Jaden pun menggendong tubuh Bia membawanya masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan tubuh Bia di atas ranjang dengan hati-hati.


Dahi istrinya itu tampak berkeringat, tangannya dingin tapi saat kepalanya disentuh suhu tubuhnya terasa panas.


"Bi tolong siapkan air hangat untuk mengompres kepala nyonya, sepertinya dia demam," kata Jaden pada asisten rumah tangganya.


Jaden panik dan ia tidak bisa berpikir jernih lalu ia menelepon abangnya.


"Bang tolong gue Bang, tolong gue," ucap Jaden sambil terisak.


"Ngomong yang jelas, Kenapa lo?" tanya Julian yang merasa cemas. Tidak mungkin adiknya itu baik-baik saja kalau ia menelepon malam-malam seperti ini.


"Anak gue diculik," kata Jaden dengan lirih. Hatinya terasa tertusuk duri yang tajam mengingat nasib anaknya. Ia tidak bisa membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpanya.


"Tunggu di sana gue datang," kata Julian sebelum mengakhiri panggilan.


...***...


Raina terbangun saat melihat suaminya berganti pakaian. "Mas Julian mau kemana?" tanya Raina yang heran. Pasalnya ini sudah lewat tengah malam.


"Sstt aku akan pergi ke rumah Jaden, Al diculik," perkataan Julian membuat istrinya tercengang.


"Bagaimana ceritanya Mas?" tanya Raina dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran.


"Aku tidak tahu, tapi jangan kasih tahu mommy sama daddy dulu." Raina mengangguk paham.


"Hati-hati, Mas," Julian mencium kening Raina singkat lalu keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap.


Sesaat ketika ia baru keluar dari kamar, Julian melihat daddynya sudah berdiri di belakangnya. Ia terkejut.


"Itu dad, ada urusan di luar," Julian beralasan tapi sangat kentara kalau dia berbohong.


"Kamu mau menemui selingkuhanmu hm?" Tuduh Darren pada putranya.


Julian menghembuskan napasnya kasar. "No, jangan berpikiran buruk dad, aku akan ke rumah Jaden dia butuh bantuan anaknya diculik." Julian keceplosan saat berusaha membela diri.


"Apa?" teriak Darren.


"Sstt dad, jangan berteriak aku tidak mau mommy khawatir, aku akan ke sana sekarang."


"Daddy ikut," sahut Darren.


"Tidak dad, mommy akan curiga kalau daddy pergi lewat tengah malam begini, apa daddy tidak khawatir kalau daddy dituduh berselingkuh sama mommy, hm?" Julian membalas ayahnya.


"Dasar anak kurang ajar, pergilah jangan kembali kalau belum menemukan cucuku," usir Darren tapi tidak serius.


Setelah itu Julian membuka garasi mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Jaden. Saat ini pukul 00.30 pagi jalanan begitu lengang sehingga ia bisa sampai di kediaman Jaden dalam waktu yang singkat.


Tiga puluh menit dia tiba di rumah sang adik. Julian buru-buru turun lalu mauk ke rumah Jaden dengan tergesa-gesa.


"Jaden," panggil Julian.


Jaden sedang duduk di sofa sambil mengangkat kepalanya menghadap langit-langit rumahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Julian pada adiknya.


"Anak gue diculik oleh baby sitter yang gue pekerjakan Bang," jawab Jaden.


"Bia dimana?" Julian clingak-clinguk mencari keberadaan adik iparnya itu.


"Dia pingsan, sekarang sedang dirawat oleh Bi Saroh."


"Apa rencana kamu?" tanya Julian dengan wajah yang serius.


"Dia meminta uang tebusan seratus juta Bang."


"Jangan dikasih itu hanya akal-akalan saja, apa mereka berkelompok?" tanya Julian.


"Aku tidak tahu, Bagus sedang mengawasi pergerakan Santi."


...***...


Di tempat lain Bagus dan Keyla mengawasi Santi dari kejauhan. Mereka semalaman berada di dalam mobil. Saat Bagus menoleh ke samping, Keyla sudah tertidur dengan pulas.


"Ya ampun cewek tidur gak ada elegan-elegannya," gerutu Bagus saat melihat calon istrinya itu tidur dalam keadaan mulut terbuka.


Bagus membuka jaketnya lalu menyelimuti tubuh Keyla. Bagus kembali fokus sampai pagi. Ia tidak mau sampai kehilangan jejak Santi.


Keesokan harinya Keyla bangun lebih dulu. "Mas Bagus," Keyla membangunkan calon suaminya.


Bagus terkejut. Ia menutupi matanya yang silau saat terkena cahaya dari luar. "Bagaimana Key apa Santi sudah keluar?" kata Bagus yang belum sadar sepenuhnya.