My Beloved Partner

My Beloved Partner
68



Setelah acara makan bersama Dani selesai Bia tidak lagi stay di kantor. Bia memilih untuk ke rumah mertuanya.Ia ingin menengok bayi kecil yang sekarang tinggal di rumah itu.


"Sovia,onty datang nih," teriak Bia dari luar rumah seraya menenteng sebuah paper bag.


"Berlian jangan teriak-teriak ah," tegur mom Celine.


"Maaf mom," tangannya meraih tangan wanita yang ada di hadapannya itu untuk disalami.


"Keponakan aku mana mom?" tanya Bia antusias.


"Lagi nyusu di kamar," jawab mom Celine.


"Aku ke sana ya mom," kata Bia dengan senyum yang merekah di wajah cantiknya. Mom Celine hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah menantunya.


"Sovia..." panggil Bia pelan. Kepalanya menyembul di balik pintu.


"Masuk,Bi," kata Raina.


"Apa dia sedang tidur?" tanya Berlian sedikit berbisik.Raina mengangguk.Ia memperlihatkan bayi kecil itu sedang meminum ASI dari sumbernya.


"Aku bawa camilan sama susu buat kamu biar ASI kamu semakin lancar," kata Bia sambil tersenyum.


Raina sedikit terharu. Ternyata wanita yang ada di hadapannya itu tidak hanya cantik tapi juga baik."Makasih ya repot-repot," kata Raina tidak enak.


"Kalau udah selesai aku boleh gendong gak?" Bia meminta izin pada wanita cantik yang berhijab itu.


Rauna mengangguk.Ia memberikan Sovia pada Berlian. Berlian sangat senang."Kamu tahu tidak tante iri sama mama kamu yang bisa gendong kamu tiap saat," Bia mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Andai saja waktu itu aku lebih berhati-hati ketika menaiki tangga, mungkin anakku sudah mulai berjalan sekarang," Bia mulai berkaca-kaca mengingat kejadian setahun yang lalu.


Raina mengusap punggung Berlian dengan lembut."Jangan sedih,kamu bisa menganggap Sovia ini sebagai anak kamu," kata Raina membesarkan hati wanita yang sedang menangis di hadapannya itu. Berlian membalas senyuman Raina.


"Maaf,aku malah curhat sama kamu," ucap Bia sedikit menyesal.


"Tidak apa-apa, aku yakin pasti ada hikmah di balik musibah, kamu masih bisa punya anak lagi kan?" tanya Raina.


"InsyaAllah, tapi kata dokter menunggu setahun lagi sampai rahimku siap dibuahi,bukankah begitu kalau kita habis menjalani operasi sesar?"


"Iya dua tahun lagi aku baru boleh hamil adiknya Sovia," Raina langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


Bia terkekeh mendengarnya."Apa kamu yakin akan menikah dengan bang Jul?" tanya Berlian.


Pertanyaan itu membuat seseorang yang ada di balik pintu mengerutkan keningnya.


"Bang Jul itu orang yang kurang peka,sedikit dingin dibandingin suami aku, kamu mesti sabar kalau ngadepin dia," seloroh Bia seenaknha mengomentari kepribadian Julian.


"Tapi dia baik,dia bukan tipe orang yang suka merayu. Ia akan menujukkan perhatiannya melalui tindakannya," kali ini ucapan Bia membuat pemilik sifat tersebut bernafas lega.


"Nah gitu dong belain gue,"


"Sepertinya kamu tahu banyak tentang dia,apa kamu naksir Julian sebelum menikah dengan suamimu?" tebakan Raina membuat Bia mengerutkan dahi.


"Ya ampun gaklah, dulu aku memang tidak bisa membedakan antara kak Jaden dan bang Julian tapi seiring berjalanannya waktu aku bisa mengenali mereka dengan baik,"


"Asal kamu tahu ya bang Jul dulu naksir sama kakak aku,tapi cintanya ditolak karena kakak aku sudah bertunangan," bisik Bia pada Raina.


"Bukannya kamu anak tunggal Bi?" tanya Raina yang bingung dengan perkataan Berlian.


"Iya, yang ditaksir itu kakak sepupu aku yang tinggal di Jerman," terang Bia.


Ehem


Julian keluar dari tempat persembunyiannya."Kamu ngomongin apa sih dek?" tanya Julian pura-pura tidak tahu.


"Loh bang kok jam segini udah balik sih?" protes Bia.


"Lah suka-suka aku dong,aku kan bosnya," kata Julian menyombongkan diri.


"Aku kangen sama Sovia," imbuh Julian. Ia mengambil alih gendongan dari tangan adik iparnya. Istri Jaden tersebut memberikannya dengan hati-hati.


"Alah alesan, abang gak kangen sama ibunya?" tanya Bia diikuti senyum mengejek. Raina yang merasa dirinya disinggung menjadi malu. Wajahnya merah merona.Julian menatap sekilas wajah di balik hijab itu. Cantik dan menggemaskan ketika merasa malu.


"Ya kangenlah," jawab Julian dengan lirih tanpa memandang sang penanya tapi terdengar oleh semua orang.


Bia lalu memberikan ruang untuk keduanya. Ia pamit pada Raina dengan hanya memberikan kode bahwa dirinya akan keluar. Raina menggeleng cepat.Ia sebenarnya merasa canggung ketika ditinggal bertiga saja bersama Julian dan bayi yang masih tertidur itu.


...***...


Sementara itu Jaden menanyakan kabar Samuel pada adistennya Bagus.


"Dia sudah kalah tender pak sesuai rencana kita," kata Bagus memberi laporan.


Brak


Samuel menggebrak meja saat tahu dirinya kalah tender lagi akibat ulah Jaden.Darahnya mendidih dan dadanya naik turun. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan marah.


"Kurang ajar si Jaden,aku akan buat perhitungan sama dia," ucap Samuel dengan seringai liciknya.