
"Dasar cowok sinting," umpat Sandra ketika ia mengingat kejadian barusan. Ia menggeleng cepat mengusir pikiran negatifnya. "Eh gue kok jadi mesum gini sih," gumam Sandra ketika berjalan di koridor sekolah sendirian.
Tak lama kemudian sebuah bola mengarah ke Sandra. Sandra tiba-tiba mematung. Beruntung Alex datang untuk menghadang dengan punggungnya.
Sandra membuka mata. Ia terkejut ketika melihat Alex berada di depan wajahnya. Jantung Sandra berdegup kencang dan wajahnya memerah.
"Elo nggak papa?" Tanya Alex kemudian.
Sandra mengerutkan keningnya. Ia menggeleng pelan. "Terima kasih, seharusnya aku yang bertanya seperti itu," ucap Sandra yang merasa tidak enak. Suara Sandra begitu lembut hingga membuat Alex mematung ketika mendengarnya.
"Bos," panggil Agung. Amar dan Andi juga mendekat ke arahnya. "Si bos mah dicariin malah sama cewek," ledek Agung seraya meminta dukungan dari dua sahabatnya.
Alex menatap mereka tajam. Lalu ia merangkul leher Agung dan membawanya ke kelas.
"Kelas kita di sini ya?" Tanya Andi.
"Menurut papan pengumuman sih gitu," sahut Amar.
Keempat pemuda berawalan huruf A tersebut masuk ke dalam kelas. Alex tak sengaja melihat Sandra sedang membaca buku di bangku paling belakang. Alex pun memilih bangku sebelah kanan Sandra yang kebetulan masih kosong.
"Bos kok kita mojok sih?" Tanya Agung. Lalu Amar menunjuk dengan matanya ke arah Sandra.
Alex duduk bersama Andi sedangkan Agung duduk bareng Amar. Tiba-tiba Agung mendekati Sandra.
"Neng, sendirian aja?" Tanya Agung yang mulai kepo.
Sandra menurunkan buku yang menutupi wajahnya. Gadis itu menghela nafas lalu berdiri. "Ya ampun cantik-cantik sombong banget sih," gerutu Agung. Tangannya yang usil lalu melepas ikat rambut Sandra. Rambut gadis itu terurai panjang. Sangat indah dan berkilau, eh jadi kaya iklan shampo.
Sandra menoleh. Semua laki-laki yang melihatnya kagum akan kecantikan Sandra termasuk Alex yang diam-diam memperhatikan wajah Sandra.
"Subhanallah," ucap Amar mengagumi kecantikan alami Sandra.
"Kembalikan nggak jepit aku," Sandra hendak meraih jepitnya dari tangan Agung tapi laki-laki itu menghindar.
Ketika Sandra ingin mengejar kakinya tersandung kursi. Untung saja Alex menangkapnya. Sejenak pandangan mereka bertemu. Sandra menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah.
"Lepasin!" Pinta Sandra. Lalu Alex melepaskan tangannya, gadis itu pun terjatuh. "Aw," pekik Sandra.
Kamu niat nolongin nggak sih?" sungut gadis berambut panjang itu.
Alex tampak cuek lalu duduk kembali ke kursinya. Lalu seorang siswi membantu Sandra bangun dengan mengulurkan tangannya. Sandra menerima ukuran tangan itu.
"Terima kasih," ucap Sandra.
"Hai, nama gue, Ciara." Gadis centil itu memperkenalkan diri.
"Gue Sandra," balas Sandra.
"Gue boleh duduk bareng lo kan?" Sandra mengangguk.
"Perhatian semuanya!" Seorang guru masuk ke dalam kelas mereka.
"Kegiatan belajar akan aktif mulai hari ini. Tapi sebelumnya kita mau voting buat ketua kelas atau dari kalian ada yang mau ngajuin diri?" Tanya guru bernama Dea tersebut.
"Bukan saya, bu tapi Alex," kata Sandra sontak membuat Alex membelalakkan mata ke arahnya. Pemuda itu mengepalkan tangan.
"Kalian semua setuju?" Tanya Bu Dea.
"Setuju," seru Agung, Amar dan Andi paling kencang.
"Zivanna Alexandra," gumam Alex menyebut nama lengkap Sandra. Keduanya saling bertatapan sengit seakan di antaranya ada kilatan yang keluar dari mata mereka masing-masing.
Setelah jam istirahat berbunyi Alex menghampiri Sandra. Pemuda itu menggebrak meja. "Maksud lo apa sih nunjuk gue jadi ketua kelas?" Andi mencoba melerai tapi Alex masih saja maju.
"Bukannya kamu senang kalau kamu populer?" Cibir Sandra.
"Gue nggak jadi ketua kelas juga udah populer kali." Perkataan Alex membuat Sandra memutar bola matanya jengah.
"Cia kantin yuk!" Ajak Sandra pada teman sebangkunya itu.
Bug
Tiba-tiba Alex memukul Agung. "Bos ko gue yang dipukul sih?" Protes Agung seraya mengusap lengannya yang sakit.
"Habis siapa? Dia cewek Gung. Nggak sepadan sama kekuatan gue," jawab Alex nyolot.
Andi dan Amar tertawa terbahak-bahak melihat nasih buruk menimpa sahabatnya. "Banyakin sabar aja Gung. Orang sabar disayang pacar," ledek Amar.
Agung melingkarkan tangannya ke leher Amar. "Ngomong tu gampang, tapi yang ngerasain sakit men," balas Agung.
Keempat pemuda itu memang suka berantem tapi mereka tidak serius. Seusai bel jam pelajaran terakhir Alex meminta teman-temannya untuk tinggal sebentar.
Dengan gagahnya dia maju ke depan kelas. "Karena sekarang gue yang jadi ketua kelas gue butuh pendamping maksud gue kita susun pengurus kelas lainnya."
"Besok aja ah Lex," tolak salah satu teman lelakinya.
"Gue minta sekarang," bentak Alex. Semua orang dikelas tersebut jadi menurut.
Alex menarik ujung bibirnya. "Yang pertama gue mau menunjuk sekretaris." Jari Alex memutar ke segala arah tapi berakhir menunjuk Sandra."
"Elo sekretaris gue," kata Alex.
"Alah bilang aja dia mau deketin Sandra pakai modus pilih pengurus kelas segala," cibir Agung yang bergunjing di belakang Alex.
"Agung." Laki-laki yang namanya disebut itu menjadi gugup. "Shiitt apa dia denger omongan gue tadi ya?" Batin Agung. "Elo bagian keamanan," kata Alex.
"Dan bendahara gue nunjuk Andi soalnya dia paling pinter ngitung duit anggaran kaya emak-emak." Meskipun Alex meledeknya Andi merasa bangga ditunjuk jadi bendahara.
"Terakhir bagian keagamaan gue nunjuk Ustadz Amar." Amar berdiri sambil melambaikan tangan ala Miss Universe.
"Huuu..." semua orang menyoraki tingkah noraknya.
"Emang geng somplak," cibir Sandra.
"Terima kasih atas perhatiannya kalian boleh pulang kecuali sekretaris." Ucapan Alex membuat Sandra melotot tidak percaya.