My Beloved Partner

My Beloved Partner
91



Mulanya Jaden melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Sesaat kemudian laki-laki itu menaikkan kecepatan mobilnya.


Saat ia berhenti Jaden kaget melihat ke arah istrinya."Kak Jaden," teriak dia dengan emosi yang meledak-ledak.


Bukannya merasa bersalah jadi malah menertawakan kondisi istrinya yang rambutnya berantakan.


"Aku habis dari salon," keluh Bia.


"Yah habis ini aku antar ke salon lagi,"ucap Jaden dengan tawa mengejek sambil mengelus rambut Bia yang berantakan.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk kaca mobil mereka. Jaden menurunkan kaca mobilnya.


"Permisi Pak bisa turun sebentar!" Ucap laki-laki berseragam polisi tersebut.


Jaden kemudian membuka pintu mobil dan turun."Apa anda tahu kenapa saya memberhentikan mobil anda?" Tanya polisi tersebut. Jadinya mengakui kesalahannya kemudian hanya bisa pasrah.


Tak lama kemudian ia masuk kembali ke mobil. "Tuh kan apa aku bilang karena tilang polisi. Kakak sih panjang banget nyetirnya nggak kira-kira," ucap Bia sambil mengejutkan bibirnya.


"Hanya masalah kecil," jawab Jaden dengan enteng.


"Sekarang mau ke mana?"tanya Jaden pada istrinya.


"Anterin aku ke salon kakak harus tanggung jawab," tegas Bia.


"Baik tuan putri hamba hanya bisa menuruti kemauan tuan putri," ucap Jaden sambil terkekeh.


Sesampainya di salon mereka tidak sengaja berpapasan dengan mommi Celine dan Raina.


"Bia rambut kamu kenapa?" Mommy Celine terkejut melihat penampilan menantunya yang berantakan.


"Gara-gara kak Jaden nih mah."


"Kalian mau pulang?" tanya Jaden pada ibu dan kakak iparnya.


"Awalnya begitu tapi bagaimana kalau kita sekalian makan siang bersama?" Usul mommy Celine.


"Ngomong-ngomong di mana Sovia?" Tanya Bia yang tidak melihat keponakannya bersama kedua wanita tersebut.


"Ada di rumah bersama ayahnya," jawab Raina.


"Sovia aa…" Julian sedang berusaha menyuapi makan putrinya.


Gadis kecil itu malah mendorong sendok yang Julian pegang hingga sendok tersebut terjatuh ke lantai. Berkali-kali Julian berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut Putri kecilnya itu tapi tidak pernah berhasil.


"Gini banget ya ngajak anak kecil," gumam Julian.


"Mau daddy bantu?" Tanya Darren.


"Emang daddy bisa,"ucap Julian sedikit meremehkan.


"Kita mana pernah tahu kalau belum mencoba," Darren pun mengambil mangkok yang berisi makanan bayi itu. Laki-laki yang masih terlihat muda di usianya yang menginjak kepala 5 tersebut mencoba menyuapi cucunya.


Tanpa ada yang menduga Sovia mau membuka mulut. Namun ternyata makanan yang sudah masuk ke dalam mulut Sofia di lepeh kembali.


"Lho kok di lepeh?" Ucap Darren sedikit kecewa.


Lalu laki-laki yang merupakan suami Celine tersebut mencoba sedikit makanan yang ada di mangkok Sovia."pantas saja dia tidak suka makanannya rasanya hambar," kata Darren setelah mencicipi makanan tersebut.


"Aku hanya membuat bubur bayi instan sesuai petunjuk yang ada di dalam kotak nya," Julian membela diri.


"Ada apa ini?" Suara tersebut membuat Darren dan Julian menoleh.


"Mommy, Raina,"panggil Julian dengan suara manja.


"Bagaimana rasanya mengasuk bayi?" tanya Raina."Susah," jawab Julian dengan muka sendu.


Mom Celine dan Raina saking bertukar pandang.Sesaat kemudian itu mereka tertawa.


"Kalian ini baru diminta menjaga anak sebentar saja mengeluh bagaimana dengan kami para ibu-ibu yang hampir dua puluh empat jam bersama dengan mereka?"


Darren lebih dulu mengambil langkah untuk merayu istrinya. "Terima kasih sayang kau sudah menjadi ibu yang baik selama ini," ucap Darren sambil mengecup kening istrinya.


"Dad, malu sudah tua," protes Celine.


Julian juga tak mau kalah ia mengecup pipi Raina tanpa aba-aba.Wajah Raina memerah. Mom Celine dan Darren yang melihat kemesraan di antara keduanya juga ikut senang.


"Oh ya mommy ada kabar gembira," kata Celine.