My Beloved Partner

My Beloved Partner
185



Zidan merengek pada ayahnya agar ia dipindahkan kuliah ke luar negeri. "Sebenarnya ada apa dengan kuliahmu di sini Zidan? Kenapa kamu harus pergi ke luar negeri?" Tanya Raina, sang bunda.


"Aku ingin menyembuhkan lukaku bun, aku sakit tiap kali melihat Sandra semakin lengket dengan Alex," batin Zidan.


Zidan menghela nafas. "Zidan cuma mau pindah jurusan aja Bun. Bukankah nenek punya bisnis di Perancis? Aku bisa sambil mengawasi bisnis kulinernya yang ada di sana," bohong Zidan.


"Memangnya kamu sudah siap bekerja? Dunia bisnis itu tidak semudah yang kamu bayangkan Zidan, apalagi kalau kamu kuliah sambil bekerja." Julian mencoba menasehati.


Sebenarnya dia tidak melarang anaknya pergi ke luar negeri tapi sang istri akan merasa kehilangan jadi iya tidak mau membuat istrinya merasa sedih.


"Ku mohon Pa," kata Zidan sambil menangkupkan telapak tangannya.


Julian melirik ke arah istrinya. "Baiklah, tapi sesekali kau harus pulang ke Indonesia jika kuliahmu sedang libur," kata Julian memberikan syarat. Zidan tersenyum mendengar keputusan ayahnya.


"Terima kasih, Pa," kata Zidan merasa lega.


...***...


Alex masih magang selama beberapa bulan di kantor ayahnya. Namun, ia selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama kekasihnya.


"Kamu terlihat seperti eksekutif muda kalau memakai setelan jas begitu, sayang," puji Sandra sambil mengagumi ketampanan Alex.


"Oh ya? Aku kira kamu menganggapku mafia karena selalu berjas hitam, oh ya sudah lama kita tidak jalan bareng bagaimana kalau nanti sore aku jemput ke kampus?"


"Kamu nggak capek Lex bolak-balik jemput aku?" Tanya Sandra.


"Ya nggak lah, capekku hilang tiap kali melihat kamu, bahkan aku selalu bersemangat kalau lihat senyum kamu yang manis itu," kata Alex membuat wajah Sandra bersemu merah.


"Oke mungkin aku pulang kuliah sekitar jam empat sore, kamu jangan terlambat ya?" Kata Sandra.


"Iya sayangku," Alex meraih tangan Sandra lalu mengecupnya.


...***...


Usai makan siang bersama Alex tiba-tiba Sandra merasa sedikit pusing. Ia pun ke klinik yang tersedia di dalam kampus untuk meminta obat. Lalu ia membeli air mineral untuk meminum obat yang diberikan oleh petugas yang ada di klinik tersebut.


Setelah itu ia kembali mengikuti kuliahnya sampai selesai. Meskipun ia merasa sangat mengantuk saat ini. Mungkin karena pengaruh obat yang sedang bekerja.


"Eh San, mau nebeng gue nggak?" Teman Sandra menawari tumpangan setelah kuliah selesai.


"Emm nggak usah nanti dijemput sama pacar gue," jawab Sandra sambil memasukkan buku-bukunya.


Sejak kejadian yang menimpa Sandra, baik orang tuanya maupun Alex melarang Sandra mengendarai mobil sendiri. Alex rela mengantar jemput kekasihnya walau kini sedang di luar kampus.


Lalu Sandra berjalan ke depan kampus.


Tin tin tin


"San, mau bareng kita nggak?" Tanya Andi yang duduk satu mobil dengan Ciara.


"Eh nggak usah nanti Alex jemput kok," kata Sandra.


"Oh ya udah kita duluan ya," pamit Andi lalu melajukan mobilnya.


Tin tin tin


Sebuah motor membunyikan klakson. Sandra menyunggingkan bibirnya. Ia tahu laki-laki yang berada di atas motor itu adalah kekasihnya.


"Tumben banget pakai motor, mobil kamu mana?" Tanya Sandra ketika motor Alex berhenti tepat di depannya.


Alex membuka kaca helm fullface yang ia kenakan lalu tersenyum pada kekasihnya. "Aku sengaja tuker sama motor biar kita bisa boncengan, kangen juga nggak pakai motor ini," jawab Alex.


Alex terlihat keren meski masih memakai setelan kantor, tapi ia menutupnya dengan jaket kulit warna hitam.


Setelah itu ia melepas jaket yang ia pakai. Kemudian ia memakaikannya pada Sandra. "Eh," Sandra jadi salah tingkah.


"Pakai biar nggak masuk angin," kata Alex penuh perhatian.


Kini Alex menyisakan kemeja yang lengannya ia gulung setengah sampai siku. Ototnya yang kuat terlihat sangat keras. Mengesankan bagi wanita mana pun yang melihatnya.


Awalnya Alex melajukan mobil perlahan agar mereka bisa sambil ngobrol. Lalu ia melihat Sandra menguap beberapa kali.


"Sayang, kamu jangan ngantuk di jalan ya," perintah Alex pada Sandra. Alex menambah kecepatan motornya agar cepat sampai. Tapi bodohnya dia malah membawa Sandra ke rumahnya.


"Loh sayang aku kok malah dibawa ke sini?" Tanya Sandra bingung. Padahal ia sangat ingin rebahan di ranjangnya yang empuk.


"Iya maaf kebablasan, kamu istirahat di kamar Kristal aja ya," saran Alex.


"Memangnya boleh?" tanya Sandra tidak yakin.


"Pasti boleh aku jamin."


Lalu Alex masuk bersama Sandra. "Mama kemana bik?" Tanya Alex pada asisten rumah tangganya.


"Keluar sebentar untuk berbelanja," jawab wanita paruh baya itu.


"Ayo aku antar naik ke kamar Kristal," Alex menggandeng tangan Sandra sampai ke kamar adiknya.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban dari dalam kemudian Alex membuka kamar Kristal ternyata tidak dikunci. "Masuk aja mungkin Kristal ada kegiatan sekolah jadi pulangnya agak telat."


Sandra pun masuk ke dalam lalu Alex keluar dan menutup pintu kamar Kristal. Alex berinisiatif membawakan makanan dan minuman untuk Sandra.


Ia pun turun ke dapur mengambil beberapa camilan dan minuman kaleng untuk kekasihnya. Namun, ketika dia masuk ke kamar Kristal, Sandra sudah terlelap di atas ranjang.


Alex mendekat dan duduk di samping Sandra. dia mengamati wajah cantik kekasih itu. Alex mencondongkan tubuhnya karena ia berniat mencuri jawaban dari kekasihnya.


"Kristal," teriak Bia saat ia masuk ke kamar putrinya tanpa sengaja. Tapi ia dikejutkan dengan perbuatan Alex yang mencium Sandra di dalam kamar.


"Alex," teriak Bia lalu seketika dia pingsan.


Sandra terbangun ketika mendengar suara keributan. Alex panik melihat ibunya tergeletak di lantai.


"Mama," panggil Alex. Ia pun menggendong mamanya dan menidurkannya di kamar Kristal.


"Ada apa ini?" Tanya Jaden yang baru sampai. Di belakangnya juga ada Kristal yang pulang bersama ayahnya tadi.


"Lho kak Sandra kok ada di sini?" Tanya Kristal bingung.


Jaden memberikan tatapan tajam pada Alex. Alex menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Sedangkan Sandra hanya menunduk.


Kristal mengambilkan minyak angin lalu dibuka penutupnya dan didekatkan ke hidung ibunya.


"Ahh kepalaku." Bia mengerjapkan mata sambil memegang kepalanya yang pusing.


Lalu saat Bia melihat Alex, ia tiba-tiba menangis. "Mama kan sudah bilang supaya kamu jaga wanitamu dengan baik ini malah dibawa ke sini, mau ngapain kamu tadi di dalam kamar berdua?" Cecar Bia sambil memicingkan matanya yang merah karena marah.


Jaden yang mendengar itu pun menarik kerah Alex lalu menamparnya. "Mau jadi bajingan kamu," bentak Jaden.


Alex meringis kesakitan. "Ini nggak seperti yang papa pikir, aku nggak ngapa-ngapain Sandra, beneran." Sementara Sandra hanya bisa diam karena saking takutnya.


"Sakit hati mama melihat kamu ma melecehkan anak gadis orang," kata Bia sambil terisak.