
Julian sudah kembali dari rumah paman Raina. Darren yang melihat anaknya pulang kemudian menghampiri."Bagaimana hasilnya?" tanya Darren mengenai usaha Julian dalam membujuk paman Raina.
"Dia belum bilang setuju menjadi wali Raina dad," perkataan Julian membuat Darren mengerutkan keningnya.
"Apa dia mengajukan syarat?" tanya Darren lebih lanjut.
Julian menggeleng."Dia memang tidak peduli dengan Raina,tapi Daddy tidak usah khawatir aku akan membuatnya menjadi wali dalam pernikahan kami,"
"Jangan besar kepala apa Raina menerima kamu jadi suaminya?" ejek Darren dengan tawa renyah. Tangannya masuk ke dalam saku celananya kemudian berjalan meninggalkan Julian di ruang tamu.
Julian menoleh dengan tatapan sinis."Dasar orang tua bangkotan,anak sendiri disumpahi menjomblo," umpat Julian dalam hati.
Mom Celine membawakan jas dan tas kerja milik dad Darren. Ia membantu suaminya memakai jas dan dasi seperti biasa. Melihat suaminya itu tertawa mom Celine jadi penasaran.
"Ada apa sih dad?" tanya mom Celine oada suaminya.
"Tidak ada apa-apa sayang,aku hanya mengejek Julian, sayang kamu tahu gak artinya lampu merah itu apa?"
"Berhenti,"
"Kalau lampu hijau?"
"Apaan sih dad emang aku anak kecil ditanyain begituan," mom Celine mencebik kesal.
"Udah jawab aja?" desak Darren.
"Jalan,"
"Yuk kapan?" goda dad Darren yang malah mendapatkan pukulan di lengannya. Darren tertawa sambil mengusap-usap lengannya yang sakit.
"Gak usah kaya anak muda, kita ini udah tua udah punya cucu,"
"Tapi masih pantes kalau pacaran," goda dad Darren lagi.
"Udah sana berangkat," usir mom Celine. Tangannya meraih tangan suaminya untuk dicium.
Julian pun berpamitan dengan Raina dan anaknya."Daddy berangkat dulu ya," lalu Julian menyodorkan tangannya pada Raina.
"Heh ngapain?" bentak mom Celine.
"Julian kan mau ngajarin Raina jadi iatri yang baik mom,kaya mommy sama daddy," Julian membela diri.
"Belum boleh, kamu jadi laki gak sabaran," cibir mom Celine. Ia melangkah di antara Julian dan Raina menghalangi mereka agar tidak melebihi batas.
"Mom, bibi manggil," Celine menoleh lalu kesempatan itu digunakan Julian untuk mengecup kening calon istrinya meskipun singkat.
Blush
Wajah Raina terasa panas. Ia memegang kening bekas ciuman Julian. Jantungnya pun ikut berdetak tak karuan. Sampe-sampe dia memegangi daadaa nya.
Namun teriakan mommynya malah membangunkan Sovia,bayi kecil yang sedang tidur di gendongan ibunya.
"Ya ampun maafin oma ya sayang, kelakuan daddy kamu itu bikin oma pengen jewer kupingnya," Raina terkekeh mendengar ucapan mom Celine.
"Raina bagaimana kalau kita nikahkan kalian seminggu lagi?" tanya mom Celine. Raina mengangguk.
"Mom kita mau pesta," tanya Bia yang baru datang.
"Heh anak orang main sahut aja, dateng-dateng gak ngucapin salam," tegur mom Celine.
Bia meraih tangan ibu mertuanya."Assalamualaikum mertuaku yang cantik," goda Bia.
"Hissh kamu ini,gak kerja Bi?" tanya mom Celine.
"Keja mom, aku ke sini cuma mau ambil mobil kan kemaren aku pake motor, eh motornya malah dipinjem bang Jul, tahu tuh dibawa kemana," keluh Bia.
"Kenapa gak minta anterin suamimu saja?" tanya sang ibu mertua pada menantunya yang sedang sibuk memainkan pipi Sovia yang gembul.
"Tadi kak Jaden cuma ngedrop aku terus ngantir mom, soalnya nanti pulangnya kita gak bisa bareng, jadi repot kalau aku gak bawa mobil sendiri," yerang Bia.
"Sovia kamu udah mandi belum?" tanya Bia pada bayi kecil yang sudah mulai anteng itu.
"Sudah dong onty," jawab Raina mewakili anaknya.
"Eh ya mom beneran seminggu lagi bang Jul sama Raina nikah?" tanya Bia lagi.
"Iya mau mommy sih gitu," jawab mom Celine masih ragu.
"Okeh kalau gitu biar Bia yang urus semuanya sama mama, Bia udah dikasih ini nih sama bang Jul," Bia memamerkan kartu black card yang dibagi oleh Julian padanya.
"Lho ko bisa sama kamu?" tanya mom Celine heran.
"Awalnya bang Jul cuma minta tolong Bia buat beli kebutuhan calon istri dan bayinya, tapi kalau udah ada rencana mau nikah biar Bia aja yang urus," Bia menawarkan diri.
"Bagus deh Bi mommy jadi tenang kalau ada kamu," mom Celine memegang pipi Bia sayang.
Raina jadi iri melihat kedekatan antara Bia dan calon ibu mertuanya itu."Apa nanti aku akan diperlakukan sama seperti mommy memperlakukan Bia?" batin Raina.
"Mom saya permisi mau naruh Sovia di box nya," pamit Raina.
"Eh Raina, nenek titip salam buat kamu kemaren dia telepon katanya kangen sama kamu," Raina hanya membalasnya dengan senyum.
"Nanti kita undang juga nenek kamu, bagaimana pun beliau juga berjasa dalam hidupnya," kata mom Celine. Bia pun mengangguk setuju.
...❤️❤️❤️...
Dears aku gak kasih part yang panjang ya yang penting aku update tiap hari. Semoga kalian suka