
Keesokan harinya Bia bangun kesiangan. Santi menyiapkan makanan untuk Jaden. "Tuan saya sudah masakkan sarapan untuk anda silakan di cicipi" kata Santi menawarkan masakannya yang sudah terhidang di atas meja makan.
"Terima kasih, biarkan Bibi yang memasak mulai besok, kamu hanya perlu mengurus Baby Al saja," kata Jaden dengan ramah.
Hal itu membuat Santi merasa diperhatikan oleh majikannya. Tapi Jaden berbeda ia bahkan tidak membedakan siapa pun meski orang itu bekerja padanya. Sebelum ini belum ada laki-laki yang memberikan perhatiannya secara langsung pada Santi.
"Oh ya panggilkan istri saya, kalau dia masih tidur biarkan dia, mungkin semalaman capek mengurus Baby Al," pinta Jaden. Santi mengangguk paham. Gadis itu pun menaiki tangga menuju ke kamar Baby Al.
Ternyata Bia sudah bangun dan memandikan Baby Al. "Eh mbak Santi, saya sudah memandikan anak saya kamu sudah sarapan kan? Tolong jaga dia sebentar saya harus siap-siap ke kantor."
Bia pun turun. Kini Baby Al yang sudah wangi dan tampan sedang bermain dengan bonekanya. "Beruntung ya kamu punya ayah seperti tuan Jaden yang baik hati, tapi ibumu malah rela menyerahkanmu padaku sepertinya dia tidak peduli denganmu, bagaimana kalau aku jadi ibumu saja," gumam Santi yang berbicara dengan bayi enam bulan tersebut.
Setelah itu Bia keluar dalam keadaan rapi memakai setelan kemeja pink yang dipadukan dengan blazer warna hitam.
"Mbak Santi aku mau berangkat dulu titip anak gembul ini ya," pamit Bia. Tak lupa ia menciumi pipi putranya hingga bayi itu terkekeh geli.
Jaden sudah berangkat lebih dulu. Ia mengira istrinya pagi ini belum bangun maka ia biarkan istrinya tidak masuk kerja. Sebenarnya Jaden melarang Bia untuk bekerja agar dia lebih fokus pada putranya, tapi Bia bersikeras membantu Rasya untuk memajukan perusahaan dengan tangannya sendiri.
Setelah semua orang pergi tinggallah Bi Saroh dan Santi yang ada di rumah itu. Baby Al ditaruhnya di atas box bayi dan dibiarkan bermain sendiri sedangkan Santi sibuk berselancar di dunia maya.
"Santi kamu sudah nyuapin Den Al apa belum?" tanya Bi Saroh.
"Nanti aja Bi, dia habis minum susu nanti gumoh," jawab Santi tanpa memandang Bi Saroh. Wanita yang usianya mencapai kepala empat tersebut hanya menggeleng melihat kelakuan Santi.
Di tempat lain Bia sibuk sekali bekerja. Banyak berkas yang perlu ia baca dan kaji. "Ya ampun ini tumpukan kertas apa tumpukan jerami sih pengen gue bakar deh, kesel banget hua..." keluh Bia karena pekerjaanya tak selesai.
"Sabar Bi, kita harus periksa dengan teliti oke,, namanya juga kerjaan kalau ditunda-tunda ya gini jadinya numpuk," kata Keyla dengan bijak.
"Gue pengen pulang gue kangen sama Baby Al," rengek Bia.
Setelah waktunya pulang kerja Keyla jadi mampir ke rumah Bia. "Baby Al tante Keyla bawa mainan nih," teriak Keyla saat masuk ke rumah Bia.
"Hish jangan teriak-teriak siapa tahu Baby Al lagi tidur," kata Bia sambil berbisik.
"Maaf mbak, Baby Al sedang tidur," kata Santi.
"Yagh, gak bisa main dong sama keponakan aku yang gemes itu," kata Keyla dengan nada kecewa.
"Ya udah si elo besok balik aja ke sini lagi," kata Bia.
"Oke deh, kalau mau nungguin dia bangun juga gak tahu jam berapa mending gue langsung pulang aja Bi," pamit Keyla.
"Iya hati-hati ya Key, jangan ngelayap inget harus pulang," ledek Bia pada sahabat sekaligus asistennya itu.
Setelah Keyla pulang Bia pun membersikan diri kemudian dia melanjutkan pekerjaany di rumah karena sebentar lagi deadline peluang usaha yang akan dia jalin dengan perusahaan besar di Bali.
"Sayang kamu kok kerja di rumah sih, emang gak bisa diselesaikan di kantor aja," kata Jaden.
"Waktunya udah mepet kak jadi aku harus selesaikan dalam waktu dekat," kata Bia tanpa memandang wajah suaminya.
Jaden membiarkan istrinya melanjutkan pekerjaannya. Setelah berganti pakaian rumahan, Jaden menengok Baby Al yang sedang tidur.
"Terima kasih mbak Santi untuk hari ini, kamu bisa tidur jika Baby Al sudah tertidur, jaga kesehatan," kata Jaden dengan suara yang terdengar merdu di telinga Santi.
Wanita itu jadi salah tingkah karenanya. Ia tersenyum dalam hati. Sebagai wanita normal ia tidak bisa menampik pesona Jaden.