
Keyla masuk ke dalam ruangan Jaden di dampingi oleh asistennya laki-laki itu,Bagus.Jaden membalikkan kursinya saat Bagus memberithukan bahwa Keyla datang atas perintah sang istri.
"Ada apa Key?" tanya Jaden.
"Saya disuruh Bu Berlian mengantarkan berkas ini pada anda,pak," Keyla menyerahkan map yang ia pegang pada Jaden.
"Apa ini?" Jaden kembali bertanya.
"Itu proposal kerjasama yang diajukan oleh perusahaan travel pada perusahaan anda pak,"
"Kenapa gak wakil perusahaannya yang ke sini langsung kenapa harus melalui kamu?" tanya Jaden seraya membuka map tersebut.
"Kebetulan perusahaan tersebut juga bekerjasama dengan perusahaan kami pak," terang Keyla.
"Dani Pratama Wijaya, nama yang tidak asing tapi dimana ya saya mendengarnya?"Jaden berusaha mengingat-ingat kembali.
"Itu mantan pacarnya Bu Berlian," seloroh Keyla.Merasa kelepasan dalam berbicara Keyla pun menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Jaden yang mendengar ucapan Keyla kemudian mengepalkan tangannya untuk menahan marah."Nanti saya tinjau lagi proposalnya," ucapnya dnegan datar.
Setelah itu Keyla keluar di antar oleh Bagus."Punya mulut tuh dijaga jangan suka kelepasan," ledeknya.
"Iya, maaf aduh kalau sampai bos lo marah sama istrinya gimana nih?"Keyla panik. Sedangkan Bagus hanya menggedikkan bahunya.
"Bisa dibabat habis gaji gue bulan ini,"bahu Keyla pun meluruh membayangkan gajinya yang tak terbayar kalau sampai Jaden memarahi Bia.
Keyla tak memperdulikan nasib sahabatnya yang akan terkena amarah dari sang suami karena ulahnya.Ia malah mengkhawatirkan nasib gajinya.
"Udah gak usah khawatir ntar gue yang gaji elo," Keyla menatap Bagus intens.Bagus jadi salah tingkah karenanya.
"Dalam rangka apa?" selidik Keyla yang curiga ada udang dibalik bakwan.Eh.
"Elo gak usah kerja biar gue yang nafkahin."
Deg
Kata-kata Bagus seakan bisa menghipnotis seorang Keyla.Ia pun terpaku di tempatnya."Apa?? dinafkahi? Berarti dia..." Keyla tak meneruskan kata-katanya.
Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bagus yang tak melihat Keyla di sampingnya pun menengok ke belakang.Laki-laki itu menggeelngkan kepalanya. "Elo mau jadi patung di sini?" ledeknya pada Keyla.
Suara Bagus membuyarkan lamunan Keyla."Gak gue pasti salah denger, iya gue salah denger," Keyla pun melangkah lebih dulu sehingga membuat Bagus mengulas senyumnya.Rasanya menyenangkan menggoda asisten Bia tersebut.
Setelah itu Keyla kembali ke kantornya. Bia sudah menyambut kedatangan Keyla.
"Nanti ditinjau lagi katanya,"jawab Bia malas.
"Lho kok gak langsung ditandatangani sama kak Jaden, biasanya kamu paling pinter soal marketing," Keyla hanya menggedikkan bahunya.
Tak lama kemudian suami Bia itu datang ke kantor tanpa pemberitahuan terlebih dulu.Bia menjadi terkejut.
"Kak tumben datang ke sini tanpa ngasih tahu dulu," tanya Bia.
"Bi, kok bisa sih kamu kerjasama sama mantan pacar kamu si Dani Dani itu," sungut Jaden.
Bia mengela nafasnya."Kenapa kak, prospeknya bagus ko buat perusahaan kita," terang Bia mengungkapkan alasannya.
"Tapi dia itu kan mantan pacar kamu," tegas Jaden dengan emosi yang meledak-ledak.
"Kak Jaden cemburu nih ceritanya," ledek Bia pada suaminya.
"Kamu pikir aja sendiri," Jaden mencebik kesal. Ia mencubit hidung mancung Bia.
"Tenan aja, aku dan Dani gak ada hubungan apa-apa, murni karena pekerjaan gak lebih,"
"Kalau gitu buktiin dong!"
Cup
Bia mendaratkan kecuan singkat di bibir suamimya.Jaden menarik ujung bibirnya."Cuma segitu saja?" cibir Jaden yang berharap mendapatkan perlakuan lebih dari istrinya.
Bia memberi kode pada sang suami jika di ruangan itu masih ada Keyla dan Bagus.Jaden yang paham akan maksud sang istri menyuruh keduanya keluar dari ruangan tersebut.
"Ihk pasti mau mesum deh," cibir Keyla saat dirinya baru saja menutup pintu ruangan atasannya itu.
"Kenapa kamu iri sama mereka?" tanya Bagus.
"Irilah iri banget," batin Keyla.
"Kamu mau gak kaya mereka?" pertanyaan Bagus membuat Keyla mengerutkan keningnya.
Bagus meraih tangan Keyla sebelah dan menatap ke dalam mata gadis yang ada di hadapannya itu.
Blush
Wajah Keyla sudah pasti merah karena malu.Ia ingin sekali berpaling untuk menyembunyikan wajahnya tapi Bagus malah memegang bahunya."Aku serius," ucap Bagus dengan penuh penegasan