My Beloved Partner

My Beloved Partner
34



"Loh mama ko di sini?" tanya Bia yang baru masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Iya, mama sementara gantiin kerjaan kamu, lha kamu ngapain ke kantor, bukannya ambil cuti," omel mama Ara.


"Tadi habis nganterin aku periksa ke dokter kandungan suamiku langsung ngantor ma aku sendirian di rumah," kata Bia.


"Owh kamu kan bisa telpon mama, atau main ke rumah mertua kamu kalau bosen," Bia menggeleng.


"Di sini aja, aku masih canggung sama mertua aku," kata Bia.


"Justru itu sayang, kamu harus sering-sering jalan sama mertua kamu, mbak Celine orangnya baik ko, mama kenal udah lama, oh ya kamu juga bisa minta di ajarin masak sama mertua kamu," kata mama Ara.


"Minta ajarin mama aja deh," Bia bergelayut manja di lengan ibunya.


"Kamu ini, sudah mau jadi ibu juga masih nempel sama Ibunya," cibir Ara lalu tergelak.


...***...


Sementara itu di hotel J&B


"Pak anda sudah datang," sapa Bagus asisten pribadi Jaden.


"Kita meeting jam berapa?" tanya Jaden sambil berjalan menuju lift yang disediakan khusus untuk petinggi kantor.


"Satu jam dari sekarang pak," jawan Bagus.


Jaden menoleh."Kamu sudah siapkan bahan meetingnya?" tanya Jaden.


"Sudah pak, saya sudah ringkas bapak bisa pelajari sebelum meeting diadakan," jawab Bagus seraya menunjukkan laporan yang ia bawa.


"Bagus..."


"Ya pak,"


"Saya bukan manggil kamu, tapi saya muji kenerja kamu,"


"Maaf pak, tapi terima kasih untuk pujiannya," kata Bagus kikuk.


Jaden pun sampai di ruangan kerjanya. Tapi laki-laki itu kaget saat melihat saudara kembarnya sudah duduk di kursi kebesaran milik Jaden.


"Tumben sekali kau datang ke sini," Jaden berdiri di depan Julian.


"Hey saudaraku sudah datang rupanya," Julian bangkit dari kursinya.


"Tidak usah basa-basi aku akan ada meeting sebentar lagi, katakanlah apa maumu?" tanya Jaden to the point.


Julian menoleh ke arah Bagus. Bagua mengerti maksud Julian. "Saya tunggu di luar pak," pamit Bagus pada atasannya.


"Sekarang katakan padaku apa maumu?" Jaden menggeser kakaknya.


"Bisakah kau cari informasi tentang Bulan melalui istrimu," pinta Julian.


Jaden memicingkan matanya. "Cih, kurang kerjaan,"cibir Jaden pada Julian.Ia kembali membaca ringkasan yang diberikan oleh Bagus.


"Ayolah, aku sangat tertarik padanya," rengek Julian.


"Keluarlah kalau tidak ada yang lebih penting," usir Jaden tanpa melihat abangnya.


"Dasar adik durhaka, kakakmu ini sedang meminta bantuanmu," Julian melempar bantal ke arah Jaden.


"Hish, kau sangat menggangu awas saja kalau kau tidak bisa dapat tender kali ini aku akan mengadu pada daddy," ancam Jaden.


"Apa yang akan kau adukan?" tantang Julian.


"Tentu saja meminta kepemimpinan hotel Danz Smith pada daddy,"


"Dasar serakah,"umpat Julian.


"Hahaha pergilah nanti aku akan tanyakan sesuatu tentang Bulan pada istriku,"usir Jaden dengan halus.


"Thank you bro," Julian pun akhirnya pergi.


Bagus kembali masuk ke ruangan Jaden."Pak saatnya berangkat sekarang," Bagus mengingatkan.


"Sial aku belum sepenuhnya mempelajari bahan meeting ini,"


"Bapak bisa pelajari di jalan, lebih baik kita yang menunggu klien dari pada kita datang terlambat pak," saran Bagus.Jaden menganggukkan kepalanya."Ya kau benar," kata Jaden.


...***...


"Sudah sore Bi, mau mama antar pulang?" tanya mama Ara.


"Aku ke rumah mama saja, suamiku belum menghubungi ma, aku takut sendirian di rumah," tolak Bia.


"Apa kita ke rumahmu saja? sekalian mama ajarin kamu masak untuk makan malam suamimu," kata mama Ara.


"Aku sangat senang punya mama pengertian seperti mamaku ini," Bia kembali bergelayut manja pada ibunya.


"Kita ke mall dulu belanja, kamu pasti belum ada bahan makanan kan?" tanya mama Ara.


"Bagaimana mama tahu?"


"Ya iyalah kan katamu kalian baru pindahan kemaren."


"Yuk ma kita belanja sekarang, aku sudah lama tidak jalan-jalan sama mama," rengek Bia.


"Huh kamu mana sempat orang kamu sukanya balapan daripada shopping," ejek mama.


...***...


"Ma kita mau belanja apa nih?" tanya Bia yang bingung melihat banyak bahan makanan sedangkan dirinya tak tahu akan memasak apa untuk makan malam nanti.


"Tenang kita mulai belajar masakan rumahan aja yang gampang, nanti mama ajarin kamu milih bahan-bahannya," kata mama Ara.


Mama Ara mengambil alih keranjang belanja yang putrinya pegang."Biar mama saja yang bawa belanjaannya," kata mama Ara dengan lembut.


Mama Ara mulai memilih bahan makanan yang ia mau. Bia tidak tahu menahu soal sayuran. Sejak kecil dia hanya tahu beres. Mama Ara bukannya memanjakannya tapi ia hanya mau anaknya fokus belajar. Toh selama ini ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk memasak.


"Udah ma?" tanya Bia.


"Udah."


"Kita ke lorong camilan yuk ma, aku sering merasa lapar," ajak Bia.


"Kita beli susu hamil juga Bi, eh ternyata kamu pakai heels," tegur mama Ara saat melihat ke bawah.


"Iya ma," Bia hanya bisa menurut.


"Besok-besok pakai sepatu yang flat ajalah bahaya kalau kamu jatuh," kata mama Ara yang merasa khawatir.


"Iya ma, mama mau sekalian anter Bia beli sepatu gak? pumpung kita masih di mall," kata Bia.


"Kamu jangan kecapekan lah, biar mama kirim sepatu dari butik langganan mama ke rumah kamu sayang," tolak mama Ara yang tak mau putrinya itu lelah.


"Mamaku emang the best," puji Bia seraya mengacungkan jempolnya.


"Heleh, kamu ini," kata mama Ara sambil terkekeh.


Seusai belanja mama Ara menepati janjinya untuk mampir ke rumah baru Bia.


"Wah mama mau ganti desain interior kaya gini juga ah, biar mama lebih betah di rumah," kata Ara yang kagum dengan desain dapur rumah Jaden.


"Ini semua kak Jaden yang bikin ma," kata Bia.


"Beruntung kamu Bi, punya suami kaya Jaden, seleranya bagus," puji mama Ara pada menantunya.


"Makasih ma," suara bariton itu tiba-tiba terdengar.


Bia dan mamanya sontak menoleh."Eh nak Jaden sudah pulang," kata mama Ara.


"Assalamualaikum ma," Jaden meraih tangan mertuanya untuk dicium.


"Waalaikumsalam nak," Ara merasa tersentuh.


"Bia kamu tidak cium tangan suami kamu?" tegur mama Ara yang melihat putrinya itu anteng saja.


Bia pun meraih tangan Jaden kemudian menciumnya."Dugh jantung aku, jangan loncat jangan loncat," batin Bia saat mencium tangan suaminya untuk pertama kali.


"Mama kapan datangnya?" tanya Jaden sambil melonggarkan dasinya.


"Baru saja, tunggu ya nak mama akan buatkan makan malam spesial untuk kamu," kata mama Ara bersemangat.


"Apa tidak sebaiknya kita pesan makanan di luar ma? Jaden tidak mau tangan mama yang halus itu bau bawang," goda Jaden.


Bia memutar bola matanya jengah mendengar suaminya merayu mamanya.


"Kamu ini ada-ada saja," mama Ara terkekeh mendengar rayuan gombal menantunya.


Bia pun membantu mamanya memasang. Ia hanya membantu mengupas bawang dan memotong sayuran yang dia bisa.


"Ya ampun masak aja sambil nangis, emangnya mama tadi marahin kamu Bi?" tanya mama Ara.


"Ini ma bawangnya jahat mata aku jadi perih dibuatnya," curhat Bia.


Jaden menahan senyum melihat istrinya yang menggemaskan itu. "Sini aku bantu," Jaden mengambil alih pisau yang dipegang istrinya.


Wajah Bia merah merona saat Jaden memegang tangannya. Pandangan mereka pun bertemu. Mama Ara yang melihat interaksi mereka kemudian berdehem untuk memberi tahu keberadaan dirinya.


...❤️❤️❤️...


Mohon dukungannya ya