My Beloved Partner

My Beloved Partner
84



"Hei kamu apakan dia sampai menangis begitu?" tanya seseorang dengan nada berat sehingga membuat Bia tersentak kaget.


"Daddy."


Darren mendekat ke arah Bia dan cucunya."Kenapa Sovia bisa sampai menangis?" tanya Darren dengan lembut


"Ini salahku dad, aku membawanya berkeliling mencari kak Jaden sehingga ia mungkin kecapekan," Bia merasa menyesal.


"Kalian habis darimana?" tanya Darren seraya mengambil alih gendongan Sovia.


"Kita habis jalan-jalan di taman tapi aku menaruh curiga pada suamiku saat dia tidak menjawab teleponku, sehingga aku menyusulnya ke kantor," jawab Bia dengan jujur.


"Apa yang menyebabkan kamu curiga?"


"Dia berbohong padaku dad, katanya kemaren dia pergi ke luar kota untuk meninjau lokasi pembangunan hotel barunya tapi Bagus bilang tidak ada kunjungan keluar kota aku jadi curiga padanya,apa kak Jaden sedang marah padaku?" tanya Bia pada dirinya sendiri.


"Mungkin,kamu ingat-ingat lagi sayang apa yang membuat suamimu itu marah, mungkin kamu tidak sengaja melakukannya hingga kamu tidak menyadari kesalahanmu," perkataan Darren memang benar.


Bia menyadari kalau dirinya salah menyebut soal buket bunga yang ia terima.Tapi bukan salahnya karena tidak ada nama pengirimnya saat itu.Bia pun mengira suaminya yang mengirim bunga karena sebentar lagi perayaan anniversary pernikahan mereka.


"Aku yang salah dad," ucap Bia sambil terisak.


Jaden tak tega melihat istrinya menangis. Sejak tadi ia menguping pembicaraan antara dirinya dan Sang Ayah.Jaden memutuskan masuk setelah mendengar Bia menyalahkan dirinya sendiri. Ia membawa istrinya itu dalam pelukannya.


"Maafkan aku honey,aku telah mengabaikanmu,"katanya sambil memeluk erat Sang Istri.Bia mengangguk.


"Happy anniversary,"ucap Jaden pada istrinya.


Tak lama kemudian Julian datang."Mana anakku?" tanyanya panik mencari ke segala arah.


Darren berjalan mendekat ke arah Julian dan memberikan cucunya pada Sang Ayah."Oh Sovia daddy sangat mengkhawatirkan kamu,"ucap Julian seraya memeluk bayi mungilnya itu.


"Maafin Bia,bang,"ucap wanita itu lebih dulu sebelum Julian murka.


"Besok-besok jangan kaya gini lagi Bi, istri gue khawatir tau gak," tegur Julian.


"Sudahlah maafkan adikmu,"Darren menengahi.


"Gue bawa pulang Sovia dulu,Raina udah khawatir banget sama anaknya," Bia dan lainnya mengangguk.


"Terus kita mau ngapain?" tanya Bia bingung.


"Pulanglah sayang, buat bayi," bisik Jaden menggoda istrinya. Bia tersenyum malu-malu.


Sementara itu Darren tak mengizinkan putranya pulang di jam kerja.Ia menarik jas bagian belakangnya bagai induk kucing menarik anaknya."Ayo,ada meeting penting dengan pengembang," kata Darren dengan ekspresi datar.


Sedangkan Bia melambaikan tangannya ke arah Sang Suami sambil tersenyum mengejek.Jaden hanya bisa meluruhkan bahunya mengikuti ayahnya.


Setelah itu Bia turun ke lantai dasar untuk mengambil mobilnya.Ia putuskan untuk visit ke kantor sebentar.


"Bu bos, suka banget deh bolos kerja gak bilang-bilang sama gue," protes Keyla sebagai asisten pribadi Bia.


"Ada masalah apa Key?" tanya Bia.


"Mending elo ganti baju dulu deh,habis joging ya lo, ko jam segini badu kelar?" tanya Keyla saat melihat atasannya itu masih memakai pakaian olahraga.


"Iya tolong ambilin baju gue dulu ya, sekalian gue mau mandi," katanya.


"Ih jorok banget ke kantor belum mandi,"ledek Keyla.


"Eits belum mandi udah cantik dan wangi apalagi kalau sudah mandi," elak Bia dengan jumawa.


"Terserah bawahan mah cuma bisa iyain aja omongan bosnya,gue siapin baju lo dulu, mandinya gak usah berendem ya ada banyak berkas yang meati lo tanda tangani," kata Keyla.


"Ya ampun week end gue lembur dong," keluh Bia.


"Bodo amat, makanya cepetan lo mandi gue gak mau malam minggu gue kelabu gara-gara elo," kesal Keyla. Galaknya malah melebihi atasannya.