
Sudah tiga hari Sandra tidak ada kabar sama sekali. Ciaraa teman satu bangkunya menjadi khawatir.
"Lex, elo sudah bisa hubungin Sandra?" Tanya Ciara saat berada di dalam kelas. Alex menggeleng. "Gue udah ke rumahnya, kata penjaga rumahnya, Sandra dibawa papanya pergi," kata Alex. Agung, Andi dan Amar saling menoleh satu sama lain saat mendengar jawaban Alex.
"Kemana Lex?" Tanya Ciara yang penasaran.
"Gue nggak tahu, gue nggak bisa hubungin dia soalnya hp gue rusak, habis dijatuhin sama Kristal," terang Alex. Tampak kekecewaan di wajah tampannya itu.
"Lo udah tanya ke mamanya, bos?" Kata Agung sambil menepuk bahu Alex.
"Percuma mamanya pasti nggak akan jawab, kata penjaganya mereka habis bertengkar hebat, itu yang membuat papanya keluar rumah." Teman-teman Sandra jadi sedih mendengar Sandra yang tiba-tiba menghilang.
...***...
Sudah satu setengah tahun setelah Sandra menghilang, akhirnya Alex dan teman-temannya menghadapi ujian kelulusan.
"Ci, nanti gue belajar di rumah lo dong, ada yang nggak gue ngerti nih," kata Andi.
"Alah modus lo," cibir Amar.
"Beneran tadz gue nggak bisa soal yang ini," Andi menunjukkan bagian yang tidak bisa ia pelajari.
"Sorry, Ndi. Bukannya gue nggak mau ngajarin tapi gue pengen fokus belajar, semenjak Sandra nggak ada, gue jadi nggak ada yang ngajarin," kata Ciara dengan wajah sendu mengingat sahabatnya.
"Eh si Sandra gimana ya kabarnya?" Gumam Agung.
...***...
Di sebuah daerah terpencil yang ia tinggali sekarang, Sandra sedang mengerjakan ujiannya. Ia juga mengikuti ujian kelulusan. Vero telah mengurus kepindahan sekolahnya secara diam-diam semenjak mereka pindah ke daerah itu.
Semua siswa keluar ketika bel pulang berbunyi. "Alhamdulillah, akhirnya selesai ujian," ucap teman Sandra bernama Laila.
"Kamu rencana mau nerusin kuliah dimana Zi?" Tanya Laila pada Zivanna Alexandra alias Sandra.
Sandra menggeleng. "Aku nggak tahu," jawab Sandra. Ia harus meminta persetujuan dari papanya terlebih dulu. Karena Sandra menyadari kalau orang tuanya tak sekaya dulu.
Sandra baru saja sampai di depan rumah yang sederhana tapi begitu sejuk dengan banyaknya tanaman bias yang ditanam di halaman rumah.
"Assalamu'alaikum, Pa. Sandra pulang," teriak Sandra.
"Waalaikumsalam nak." Sandra mencium tangan Vero. Sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan ketika ayahnya dulu masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Namun, sekarang Sandra bisa melihat ayahnya setiap dia pulang sekolah. Vero pergi ke kebun dari pagi jam lima sampai jam sepuluh saja, sisanya ia habiskan di rumah.
"Sandra, apa kamu ingin meneruskan pendidikanmu?" Tanya Vero pada putrinya.
"Sandra tahu kita belum punya tabungan yang cukup pa, aku tidak mau membebani papa," kata Sandra dengan bijak.
"Terima kasih nak. Seharusnya papa bisa membiayai kuliah mu jika saja perusahaan papa tidak bangkrut waktu itu," ucap Vero dengan wajah sendu.
Sandra memeluk papanya. "Jangan mengingat masa lalu pa, kita jalani apa yang sedang kita hadapi, tak perlu menengok ke belakang," kata Sandra berusaha menghibur papanya.
Sejak dinyatakan lulus Sandra bekerja keras membantu ayahnya menjadi seorang petani hingga dia mampu mengembangkan pertanian yang di kelola ayahnya itu maju. Terbukti dengan penambahan pegawai dan kemampuan menyetorkan hasil pertanian yang dikelola Vero ke beberapa supermarket.
Itu semua hasil kerja keras Sandra yang melakukan banyak promosi dan bisa bekerja sama dengan pihak supermarket. Sandra memang bertekad mengembangkan bisnis yang dikelola ayahnya saat ini. Dengan bekerja ia juga akan mengumpulkan biaya kuliahnya tahun depan.
Hari ini Sandra bertugas menyetor barang untuk pertama kali, ke supermarket di kota yang pernah ia tinggali. Sandra ikut mengecek pendistribusian bahan pangan berupa sayur-sayuran yang ia setorkan. Ia hanya ingin memastikan semua berjalan lancar.
Tanpa sengaja, Jaden yang saat itu sedang meninjau salah satu supermarket miliknya menoleh ke arah seorang gadis bertopi dan berambut panjang yang sedang berada di gudang pendistribusian bahan makanan yang masuk ke dalam supermarket miliknya.
Namun, Jaden tak menegur Sandra. Ia hanya mengawasi gadis yang pernah diperkenalkan oleh putranya itu sebagai teman sekolahnya itu.
Sesampainya di rumah Jaden bercerita pada istrinya. "Mama masih ingat teman gadis Alex yang waktu itu diajak kemari?" Tanya Jaden pada istrinya.
"Yang mana, Pa?" Tanya Bia balik sambil membuatkan secangkir teh untuk suaminya yang baru datang. Pasalnya sudah dua tahun yang lalu Alex mengajak Sandra. Kemungkinan Bia melupakannya.
"Mama lupa, Pa," imbuhnya. "Nih, tehnya," Bia meletakkan teh yang telah ia buat di depan suaminya duduk.
"Papa lupa namanya tapi papa ingat gadis itu pernah diajak Alex kesini, tadi papa lihat gadis itu di gudang pendistribusian barang yang ada di supermarket kita yang ada di cabang selatan Ma," ungkap Jaden.
"Oh mama baru ingat, Sandra yang papa maksud, gadis itu sudah lama pindah sekolah pa. Kata Alex dia pergi bersama orang tuanya entah kemana," terang Bia.
"Eh papa bilang dia mendistribusikan barang kan ke supermarket papa, kenapa papa nggak tanya sama pegawai papa dimana alamat Sandra yang sekarang," usul Bia.
Jaden terkekeh kecil. "Untuk apa Ma? Lagipula Alex dan gadis itu sudah lama tidak satu sekolah jadi mana mungkin mereka dekat," pikir Jaden.
"Eh si papa nggak tahu aja kalau Alex pernah naksir sama tu cewek," gumam Bia dalam hati.
...***...
...Cinta itu selalu tahu siapa pemiliknya, sejauh apapun ia pergi bila memang sudah jodohnya pasti akan kembali....
...***...
Keesokan hari nya Bia bercerita pada Alex tentang siapa yang dilihat oleh suaminya kemaren. "Lex, mama mau tanya boleh?" Alex mengangguk.
Saat ini Alex bersiap untuk ke kampus dan sedang memakai sepatunya. "Tanya apa mama sayang?"
"Terakhir kali kapan kamu dengar berita tentang Sandra?" pertanyaan Bia membuat Alex menghentikan aktivitasnya yang sedang mengikat tali sepatunya.
Alex mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa, Ma?" Tanya Alex. Bia sedikit ragu menjawab pertanyaan dari putranya itu. "Sebenarnya papa bertemu dengan Sandra kemaren di supermarket yang ada di cabang daerah," ungkap Bia.
"Benarkah? Kenapa papa tidak bilang padaku?" Cecar Alex pada ibunya.
"Tenang dulu Lex, ini hanya praduga papa, makanya mama ragu buat menyampaikan berita ini ke kamu," kata Bia.
Alex mencium pipi ibunya lalu berlari keluar. "Makasih ma atas infonya," teriak Alex. Bia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang bucin itu. Dia bisa melihat sifat Jaden yang menurun ke Alex yaitu pantang menyerah dalam memperjuangkan cintanya.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu meski kamu berada di belahan bumi lain. Aku akan mencintaimu, dan mengejarmu untuk mendekapmu kembali," gumam Alex.