My Beloved Partner

My Beloved Partner
153



Vero mengangguk saat Sandra bertanya padanya. Vero merenggangkan pelukan. "Meski kamu tidak terlahir dari rahimnya, dia tetap ibumu, jangan membencinya, papa akan membelamu jika kamu disakiti," kata Vero dengan lembut. Sandra mengangguk paham.


Lalu Vero mengajak putrinya ke dalam kamar agar ia bisa menenangkan diri. "Ganti baju lalu turun, kita makan bersama, kamu pasti belum makan kan?" Tanya Vero.


"Sandra sudah makan, Pa. Tadi temen Sandra ada yang ngadain syukuran," kata Sandra. Bisa aja neng Sandra, maksudnya syukuran buat acara jadiannya sama Alex kan. 🤣


Vero pun meninggalkan Sandra di kamarnya. Namun, ia mengecup kening putrinya sebelum keluar. "Jangan pikirkan kejadian hari ini, papa selalu ada buat kamu," kata Vero. Sandra hanya menjawab omongan papanya dengan sebuah anggukan kepala.


Setelah itu Sandra membersihkan diri. Usai mandi dan berganti pakaian, Sandra memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar. Ia mengirim pesan pada Alex.


Sandra : Maafin sikap mamaku yang udah keterlaluan sama kamu.


Sandra merasa tidak enak karena Alex ikut dimarahi ibunya di depan umum ketika berada di toko buku itu.


Alex melihat ponselnya bergetar. Ia melihat sebuah pesan dari Sandra masuk ke dalam ponselnya.


Alex : Nggak apa-apa. Jangan dipikirkan. Kamu lagi apa?


Sandra : Rebahan aja di kamar. Kalau kamu?


Alex : Lagi mikirin kamu.


Blush


Wajah Sandra memerah setelah melihat balasan dari Alex. Ia mengulas senyumnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Alex sering melancarkan rayuan gombalnya.


Sandra sedang mengetik...


Sandra : Dasar gombal


Mereka berbalas chat sampai Sandra ketiduran. Pukul sebelas malam Sandra terbangun. Lalu ia ingat belum mengerjakan PR nya. Ia pun mulai mengambil buku PR nya yang ada di dalam tas kemudian mengerjakannya sampai selesai. Setelah itu ia malah ketiduran di atas meja belajarnya.


Keesokan harinya Sandra bangun kesiangan. Vero mengetuk pintu kamar Sandra karena ia tak melihat Sandra pagi ini di meja makan.


"Sayang bangun!" Teriak Vero dari luar kamar putrinya.


Sandra yang mendengar suara ayahnya jadi terbangun. Ia melihat jam weker yang ada di atas mejanya. "Mam*pus gue udah jam enam," ucao Sandra ketika menyadari ia akan telat masuk sekolah. Sandra pun bergegas mandi dan mengganti pakaiannya.


Vero masih belum berangkat bekerja. Ia sengaja menunggu Sandra. "Bareng papa aja," seru Vero ketika melihat Sandra terburu-buru. Sandra mengangguk. "Yuk, Pa berangkat sekarang!" Ajak Sandra.


Sandra tiba di sekolah jam tujuh kurang lima menit. Tapi saat itulah gerbang sekolah ditutup. "Yagh, pak pak bukain pak," pinta Sandra pada penjaga sekolah.


"Maaf neng, nggak bisa, udah peraturannya dari dulu," kata penjaga gerbang itu.


Bahu Sandra meluruh. "Siap-siap kena hukuman nih gue," gumam Sandra.


Pagi ini Alex tidak melihat Sandra di dalam kelas. "Ci, Sandra nggak masuk hari ini?" Tanya Alex yang merasa cemas.


Ciara menggedikkan bahunya. "Emang Sandra nggak ngasih tahu elo, Bos?" Tanya Andi, teman sebangku Alex. Alex menggelengkan kepalanya.


"Coba hubungi nomornya," usul Andi.


Alex akan mengeluarkan ponsel tapi ia urungkan saat guru yang mengajar menegurnya.


...***...


Sementara itu, Pak Banu yang bertugas hari ini membawa anak-anak yang terlambat masuk ke lapangan basket. Dia terkejut saat melihat Sandra berada di barisan anak-anak yang terlambat.


"Sandra tumben sekali kamu telat?" Tanya pak Banu. Sandra hanya meringis menjawab pertanyaan dari gurunya itu.


Sandra berjongkok mengambil sebuah buku yang tak sengaja terjatuh ketika ia sedang membersihkan rak. Saat ia ingin mengembalikan buku itu, tangan Sandra tidak sampai.


Zidan tersenyum melihat tingkah Sandra yang lucu di matanya. Zidan berjalan mendekat ke arah Sandra. Dia mengambil buku dari tangan Sandra kemudian meletakkannya di rak yang paling atas.


Sandra kaget ketika menyadari ada seseorang di belakangnya. Lalu ia membalikkan badan. Dia terkejut ketika melihat Zidan berada di depan matanya.


"Eh, Zidan. Terima kasih sudah membantuku mengembalikan buku itu," kata Sandra. Zidan tersenyum pada gadis di depannya itu.


"Apa kamu sedang dihukum untuk membersihkan perpustakaan ini?" Tebak Zidan.


"Iya, pagi ini aku terlambat masuk sekolah jadi aku menerima hukuman dari Pak Banu," ungkap Sandra.


"Mau aku bantu?" Zidan menawarkan bantuan.


"Ah tidak usah ini memang sudah tugasku menyelesaikan hukuman," tolak Sandra.


"Biar cepat selesai," kata Zidan. Ia meraih kemoceng yang dipegang Sandra lalu membantu gadis itu membersihkan debu-debu yang menempel di perpustakaan.


Usai menyelesaikan hukumannya, Sandra membelikan minuman dingin untuk Zidan. "Ini," Sandra menyodorkan sebuah botol air mineral pada Zidan.


Zidan mendongak lalu menerima botol itu dari tangan Sandra. "Makasih," Zidan membuka botol itu lalu meneguk minuman dingin itu.


"Kamu nggak kembali ke kelas?" Tanya Sandra. Saat ini mereka duduk di depan perpustakaan.


"Iya bentar lagi," kata Zidan.


"Kalau gitu aku balik ke kelas dulu ya, aku udah ketinggalan banyak pelajaran," pamit Sandra.


"Tunggu, bareng aja kalau gitu, kelas kita kan searah," kata Zidan. Sandra tidak menolak.


Sesampainya di depan kelas Sandra, Zidan berpamitan. "Terima kasih buat bantuanmu," kata Sandra lalu ia melambaikan tangan. Alex tak sengaja menangkap adegan itu. Ia sampai mengepalkan tangan karena tidak suka melihat Sandra tersenyum pada laki-laki lain.


Sandra mengetuk pintu untuk meminta izin pada guru yang mengajar untuk mengikuti pelajaran. Sandra melirik ke arah Alex tapi Alex terlihat cuek. Sandra pun tak ambil pusing.


Ketika bel istirahat Sandra mengajak Alex ke kantin tapi Alex menolaknya. "Gue lagi gak pengen," Alex merebahkan kepalanya di atas meja dan berpura-pura tidur.


Andi, Agung dan Amar tidak mengerti kenapa Alex bersikap demikian pada Sandra. Sandra terlihat kecewa akhirnya dia mengajak Ciara ke kantin.


Ketika berada di kantin antrian siswa sangat panjang. Ciara dan Sandra jadi malas. "Kayaknya kita nggak bakal dapat jatah makanan hari ini?" Gumam Sandra sambil memegangi perutnya yang kelaparan karena tadi pagi tidak sempat sarapan.


"Iya nih rame banget," Ciara menyetujui omongan Sandra.


Tak lama kemudian seseorang memberikan roti dan minuman cup untuk Sandra. Sandra menoleh. "Zidan."


"Buat lo," Zidan memberikan apa yang ia pegang untuk Sandra.


"Nggak usah aku beli sendiri aja," tolak Sandra.


Zidan meraih tangan Sandra lalu meletakkan roti dan minuman itu di tangannya. Sandra mengerutkan keningnya. Sedangkan Ciara sedang sibuk memperhatikan wajah Zidan yang sangat tampan.


Ketika Sandra akan menyedot minuman itu, Alex tiba-tiba merebut minuman yang ada di tangan Sandra. "Gue haus," ucapnya dengan santai.


Sandra menggelengkan kepala melihat tingkah Alex. Sedangkan Zidan memilih pergi dari pada harus berdebat dengan Alex di depan gadis yang ia sukai.


...🤣🤣🤣...


Bang Alex kalau cemburu bilang aja nggak usah gengsi