
Sandra mengamati jalan sekeliling. "Pak, kita salah jalur, ini bukan jalan ke tempat kost kita," ucapnya menegur sang driver taksi online tersebut.
Driver tersebut tidak menjawab, samar-samar dia menarik ujung bibirnya. Sandra menjadi curiga dengan driver tersebut. "Pak, kami turun sini!" Pintanya.
"Lho kok turun sini San," tegur Nabil yang merasa bingung. Lalu Sandra memberikan kode agar Nabil menurut.
Tiba-tiba mobil berhenti di tengah jalan yang di kelilingi sawah. Driver tersebut menoleh lalu menodongkan pisau kecil di tangannya.
"Diam kalian, ikuti perintah saya atau nyawa kalian taruhannya," bentak driver tersebut.
Sementara itu Zidan yang mengikuti mobil yang ditumpangi Sandra meminta drivernya berhenti setelah melihat mobil di depannya berhenti.
"Pak, tolong panggil polisi, saya rasa teman saya terancam nyawa di depan sana," tunjuk Zidan ke arah mobil yang ada di depan. Lalu Zidan memberikan sejumlah uang pada driver tersebut.
"Lalu bagaimana dengan anda nak?"
"Saya akan mengawasi supaya mengetahui pergerakan mereka, tolong ikuti saja perintah saya," pinta Zidan baik-baik. Ia tak mau melibatkan orang lain.
"Baik," jawab sang sopir.
Zidan turun lalu berjalan mengendap-endap. Namun, sebelumnya ia menelepon sang ayah. "Pa, aku lagi di suatu tempat, tapi nggak tahu dimana. Temanku lagi disandera sama driver ojol gadungan. Bawa orang ke sini buat menolong temanku," kata Zidan pada Julian.
"Apa? Jangan bergerak, tunggu sampai papa datang, kirim lokasimu sekarang!" Perintah Julian yang panik ketika mendengar nyawa putranya terancam.
"Ada apa Bang?" Tanya Jaden yang waktu itu masih di kantor Julian. Ia ikut bangun ketika melihat abangnya dalam keadaan panik.
"Ikut aku sekarang!" Perintah Julian pada saudara kembarnya.
"Zidan lagi nolongin temannya yang disandera sama driver ojol gadungan," kata Julian sambil berjalan. Jaden tak banyak berpikir ia pun menyamakan langkah kaki abangnya.
...***...
Di lokasi kejadian, Sandra dan Nabil ketakutan. Nabil menangis sesenggukan. "Lepaskan kami, kami akan berikan apa yang kamu mau," ucap Sandra berusaha bernegosiasi dengan penjahat itu.
Penjahat itu tersenyum licik. "Baiklah, aku mau tubuh kalian," kata driver tersebut. Lalu ia melangkah ke belakang. Ia berusaha menjamah tubuh Sandra. Sandra dan Nabil berteriak sangat kencang. Nabil berusaha menolong Sandra tapi penjahat itu malah mendorong Nabil sehingga gadis itu terbentur hingga pingsan.
"Bil, Nabil," teriak Sandra yang panik ketika melihat Nabil pingsan.
Zidan yang mulai cemas ia pun mendekat. Tak dapat melihat apa yang terjadi di dalam mobil tersebut, Zidan memecah kaca mobil dengan batu besar yang ia ambil di jalanan.
Penjahat itu mendorong Sandra lalu ia mulai merobek baju Sandra. Sandra berpasrah diri, mulutnya hanya bisa merapal doa. Gadis itu ingin melawan pun ia tak sanggup karena tenaganya hampir habis.
Kemudian suara keras yang terdengar dari luar membuat penjahat itu menoleh. Dalam dua kali pukulan kaca mobil bagian depan itu sukses dipecahkan oleh Zidan.
Penjahat itu urung menodai Sandra. Ia memilih keluar untuk melawan Zidan yang dianggap menghalangi aksinya.
"Dasar bocah sialan," umpat penjahat itu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil datang. Zidan tersenyum ketika melihat mobil itu. Namun, ekspresi wajahnya berubah saat melihat orang yang keluar dari mobil tersebut bukanlah ayahnya melainkan teman-teman penjahat itu.
Mereka berjumlah empat orang. Zidan memundurkan langkahnya. Ia melihat ke sekeliling barangkali ada yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Zidan menemukan sebuah kayu. Ia pun mengambilnya.
Para penjahat itu tertawa terbahak ketika melihat lawannya seorang diri. "Dia hanya anak kecil, kita bisa melumpuhkannya dengan mudah," cibir salah seorang penjahat.
"Biar kami yang hadapi, kalian angkat dua gadis yang ada di dalam mobil," perintah salah seorang yang dianggap ketua di antara mereka.
Zidan memukul punggung salah satu di antaranya. Tapi mereka membalas Zidan dengan mudah. Zidan yang tak pandai berkelahi, membuatnya kesulitan untuk melawan mereka. Ia pun jatuh tersungkur setelah mendapat sekali pukulan.
Ketika para penjahat itu mendekat ke arah Zidan sebuah helm mendarat di kepala mereka bergantian. Satu lemparan yang mengenai beberapa kepala mereka.
Penjahat yang mendapat pukulan keras di kepalanya itu pun menoleh. "Jangan main keroyokan," ledek Jaden.
Laki-laki yang mengenakan jaket kulit itu berjalan mendekat ke arah mereka. Zidan mengulas senyum ketika melihat pamannya datang. Tak lama kemudian sebuah mobil tiba di tempat itu. Julian turun bersama dua orang bodyguardnya.
Jaden mulai memukul penjahat yang menyerangnya. Ia menangkap tangan penjahat itu lalu ia berputar dan menendang pantat penjahat itu hingga dia jatuh tersungkur.
Julian menyuruh anak buahnya menghadapi mereka. Sementara dirinya mengajak putranya menolong teman-teman wanitanya. Zidan berdiri dan menolong Sandra dan Nabil yang berada di dalam mobil.
Sandra tampak meringkuk ketakutan. Badannya gemetar karena menangis. "San elo udah aman," kata Zidan.
Sandra menepis tangan Zidan. Ia berulang kali mengusap tengkuknya. "Pergi, pergi," teriak Sandra.
"Zidan apa yang sudah dilakukan penjahat itu pada temanmu?" Tanya Julian yang melihat tampilan Sandra yang berantakan. Zidan menggeleng. Sementara itu Julian mengangkat tubuh Nabil ke dalam mobil.
Tak lama kemudian polisi datang dan mengamankan para penjahat itu. Jaden yang telah berhenti menghajar penjahat mendekat pada Zidan. Ia melihat keponakannya itu masih berdiri di samping mobil.
Jaden menepuk bahu Zidan. "Kenapa?" Tanyanya pada Zidan.
"Sandra tidak mau turun om," akunya.
Mendengar nama Sandra disebut Jaden langsung melihat gadis yang ada di dalam mobil. Lalu ia berpikir untuk memanggil anaknya. Seingatnya Alex dekat dengan Sandra sesuai perkataan sang istri.
Jaden pun menelepon Alex. Ia meminta Alex datang ke lokasi kejadian. "Kita tunggu Alex saja!" Jaden memberikan arahan pada keponakannya.
Tak mau hatinya terasa sakit, Zidan memilih pergi bersama sang ayah mengantar Nabil ke rumah sakit.
"Titip Sandra om," ucapnya sebelum pergi. Jaden mengangguk.
Sementara itu Alex menyambar jaket lalu berjalan cepat ke garasi mobil. Ia mengeluarkan mobil sport miliknya.
"Alex mau kemana?" Teriakan Bia tak dihiraukan oleh putranya.
Alex mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat yang dimaksud ayahnya.
Tak butuh waktu lama, Alex tiba di tempat itu. Di sana hanya tinggal Jaden dan Sandra.
"Pa bagaimana keadaan Sandra?" Tanya Alex.
"Lihatlah sendiri!" Perintah Jaden.
Alex terkejut saat melihat Sandra meringkuk di dalam mobil. "Sayang," suara yang dikenali itu membuat Sandra mendongak.
"Alex," Sandra memeluk Alex dengan erat.
"Aku takut Lex," ucap Sandra di tengah tangisannya.
Alex mengelus rambut Sandra yang berantakan. "Kamu sudah aman." Alex pun mengangkat tubuh Sandra dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Sebaiknya kamu bawa Sandra ke rumah sakit." Jaden memberikan saran pada putranya. Alex menuruti perkataan ayahnya. Sementara itu Jaden mengendarai motornya mengikuti mobil putra sulungnya menuju rumah sakit.