
Flashback on
Pagi itu saat Ruby akan keluar dari gerbang rumahnya menggunakan mobil, sebuah mobil menghalangi jalannya.
Ruby mengerutkan keningnya.Setelah mengamati, seseorang yang ia kenal keluar dari mobil tersebut dengan kacamata hitam yang ia kenakan.
"Dia lagi, menyebalkan," Ruby memukul kendali setirnya karena kesal.
Laki-laki itu mendekati Ruby.Lalu ia mengetuk kaca mobil wanita itu.Ruby menurunkan kaca mobilnya.
Dani membuka kacamatanya."Bisa kita bicara sebentar," pinta Dani.
Mau tak mau Ruby pun turun dari mobilnya.Ia menutup pintu mobil lalu berbalik badan.Tapi tak sengaja bibirnya menempel di bibir Dani di saat yang sama.
Ruby membelalakkan matanya.Lalu ia mendorong tubuh Dani." Maaf," ucap Ruby karena malu.Wajahnya sudah pasti merah seperti tomat cerry.
Dani mengulas senyu di wajahnya."Kamu sengaja menciumku pagi-pagi ya," sarkasnya.
"Ti tidak pak, anda yang terlalu mepet sehingga bibir saya menyentuh bibir anda," ucap Ruby lirih sambil merutuki kecerobohannya.
"Tidak papa saya suka," ucapan Dani membuat Ruby yang awalnya merasa bersalah malah mengumpatnya dalam hati.
Ruby menatap Dani dengan kesal."Sialan nih cowok, sengaja emang dia nempelin bibirnya tadi, kurang asem pagi-pagi udah disosor aja, cuih," umpat wanita itu dalam hati.
"Jangan cemberut, ikut saya!" Dani menarik paksa tangan Ruby.Gadis itu sempat menolaknya tapi cengkeraman tangan Dani begitu kuat sehingga ia tak sempat melawan.
Ruby akhirnya pasrah kemana laki-laki itu membawanya."Saya harus bekerja pak, bos pasti marah kalau saya datang terlambat," kata Ruby.Dani menoleh sekilas lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ruby sampai memejamkan mata saat menaiki mobil yang dikendarai oleh Dani.Dani juga merupakan pembalap seperti Berlian.Jadi bukan hal yang luar biasa baginya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan hotel tempat Ruby bekerja.Ya Dani mengantarnya ke hotel Danz Smith.Jaden palsu alias Julian pernah bilang kalau Ruby bekerja di cabang hotelnya.Dani masih belum mengetahui kalau Jaden dan Julian adalah saudara kembar.
Ruby membuka matanya setelah mesin mobil yang dikendarai oleh Dani berhenti.Rambut Ruby terlihat berantakan.Dani terkekeh karenanya."Apa?" sungut Ruby saat melihat Dani menertawakannya.
Tangan Dani terulur untuk menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Ruby.
"Eh," Jantung Ruby sudah pasti berdegub kencang dibuatnya.
"Rapikan rambutmu dulu sebelum kamu masuk," ledek Dani disertai tawa mengejek.
Ruby turun dari mobil kemudian membanting pintu dengan kasar.Ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata terima kasih pada Dani.
Julian yang baru datang melihat Ruby akan memasuki lift.Jullian pun mempercepat langkahnya agar bisa menyamai langkah Ruby.
"Pagi-pagi udah menggerutu," cibir Julian menoleh ke arah Ruby sekilas."Rambut kamu kenapa? kamu habis naik ojek ya?" tebak Julian.
"Iya mana drivernya nyebelin lagi," Ruby membayangkan wajah Dani yang menyebalkan.Sekilas ia mengingat ciumman singkat dengan laki-laki yang mengantarnya tadi. Ruby menggelengkan kepalanya cepat untuk mengusir pikiran aneh yang datang.
"Gak ,gak amit-amit," Ruby memukul kepalanya sendiri.
"Kamu kenapa sih, aneh banget pagi ini," kata Julian.Ia lun mendahului langkah sekertarisnya.
Disisi lain Dani tampak senang setelah mengantarkan Ruby.Ia menimang kunci mobilnya dan bersenandung kecil.Para karyawan yang melihatnya merasa aneh.
"Tumben bos wajahnya keliatan ceria biasanya datar kaya papan seluncuran."
"Sstt jangan bicara sembarangan nanti dia dengar," larang karyawan yang lain.
Dani masuk ke dalam ruangannya. "Bagaimana kerjasama dengan perusahaan Jaden?" tanya Dani pada anak buahnya.
"Sejauh ini baik-baik saja pak, profit yang kita dapatkan juga lumayan," lapor anak buah itu pada Dani.
"Atur pertemuanku dengan pimpinan mereka tapi aku mau nona Ruby yang menghandle meetingku kali ini," kata Dani.
Kemudian Jaden mendapat laporan dari Bagus kalau Dani meminta sekertaris Jaden untuk menemuinya dalam hal meeting perencanaan proyek ke depannya.
Jaden mengerutkan keningnya.Otaknya yang cerdas mampu menangkap maksud Dani dengan baik." Oh aku tahu siapa yang dia maksud," gumam Jaden.
Lalu suami Berlian itu menghubungi Julian dan kembali meminta bantuannya." Cih dasar merepotkan," gerutu Julian setelah mendapatkan panggilan dari adik kembarnya.
"Ruby tolong wakilkan Jaden untuk meeting dengan kliennya karena dia akan menemai Berlian periksa kandungan hari ini," bohong Julian agar Ruby percaya.
"Loh pak Jaden kan punya asisten sendiri pak?" protes Ruby tak terima dengan perintah Julian.
"Bagus harus menghandle hotel ada tamu penting yang harus disambutnya untuk mewakili Jaden," lagi-lagi Julian berbohong.
"Numpuk dosa gue aja tuh anak nyuruh gue bohong sama Ruby, sorry girl," batin Julian yang merasa bersalah.
"Baiklah," jawab Ruby tak bersemangat.
Kemudian dia menuju ke tempat meeting sesuai jam yang dijadwalkan.Saat ia smapi di tempat itu, Ruby melotot melihat laki-laki menyebalkan yang ia kenal duduk di meja yang seharusnya diduduki oleh kliennya.