My Beloved Partner

My Beloved Partner
38



Akhirnya Jaden dan Bia tiba di rumah Darren. Di saat yang bersamaan Julian juga baru turun dari mobil. "Kalian ngapain ke sini?" tanya Julian saat ia bertatap muka dengan saudara kembar dan iparnya.


"Kami diundang daddy untuk makan malam," jawab Jaden.


"Sayang kau sudah datang?" Mom Celine menyambut menantunya yang cantik. Lalu ia menggandeng tangan Bia dan membawanya masuk ke dalam rumah. Julian dan Jaden mengikuti dua wanita beda generasi itu masuk ke dalam rumah.Semua orang langsung duduk di meja makan.


"Berlian, apa kamu tahu alasan daddy mengundang kamu ke sini?" tanya Darren pada menantunya.


"Tidak dad," jawab Bia lirih.


"Jaden tidak menjelaskan padamu kalau dia meminta daddy untuk menanam modal di perusahaanmu?" tanya Darren memastikan.


Uhuk


Uhuk


Bia tersedak saat ia meminum air putih. Ucapan ayah mertuanya itu membuat dirinya kaget. Pasalnya ia tak tahu menahu kalau ayahnya mertuanya akan berinvestasi di perusahaannya.


"Kak Jaden tidak bilang apa-apa dad," jujur Bia pada ayah mertuanya.Lalu ia menoleh ke arah suaminya.


"Sureprise sayang, kau tahu daddy sangat baik sehingga ia akan menanam modal di perusahaan milikmu sebagai hadiah pernikahan," dusta Jaden yang malah mendapat lemparan sendok dari ayahnya.


"Dasar pembohong, kalau kau tidak merengek minta padaku mungkin aku tidak berfikir sampai sana," geram Darren pada putranya.


Julian terkekeh melihat pertengkaran antara adik dan ayahnya itu. Sedangkan Celine dan Bia merasa bingung.


"Jaden bilang pada daddy kalau dia pernah mengacaukan meetingmu dengan salah seorang investor. Jadi dia meminta daddy membayar ganti rugimu," terang Darren.


"Dad," protes Jaden yang meminta daddynya agar diam.


"Benar dad, kak Jaden memang pernah berjanji demikian waktu itu, ia berjanji akan mengganti rugi setelah kegagalanku mendapatkan investor besar, namun waktu itu aku kira dia hanya becanda dad jadi aku tidak menanggapinya,tidak disangka ia masih ingat perkataannya sendiri," kata Bia sambil terkekeh kecil.


"Jangan khawatir nak, daddy tidak keberatan menanamkan modal di perusahaan milikmu," kata Darren dengan nada yang lembut.


"Terima kasih dad," jawab Bia seraya tersenyum senang.


"Sudahlah kita sedang di rumah, bisa tidak membicarakan hal selain pekerjaan?" protes mom Celine pada semua orang yang ada di meja makan.


Bukannya mendengar kata-kata istrinya,Darren malah kembali membicarakan soal pekerjaan.


"Lalu bagaimana dengan perkembangan proyekmu Julian?" tanya Darren pada anak sulungnya.


"Aku belum berhasil mendapatkan desainer interiornya dad," jawab Julian dengan santai.


"Bukannya waktu itu bang Julian meminta kontak kak Bulan padaku?" sahut Bia yang berusaha mengingat-ingat.


Ehem


Jaden sengaja berdehem. "Sepertinya ada udang dibalik batu," tebak Jaden yang berkata dengan santainya.


Julian memberikan tatapan tajam pada adiknya. Namun bukan Jaden namanya kalau tidak jahil.


"Bang Julian sedang men..." belum Jaden menyelesaikan perkataannya Julian sudah lebih dulu membungkam mulut adik kembarnya itu dengan tangannya.


Jaden meronta-ronta. Celine yang melihat kerusuhan di meja makan menjadi geram. "Kalian ini sudah dewasa, kenapa seperti anak kecil," sungut mom Celine.


"Mom tenanglah," Bia berusaha menenangkan ibu mertuanya.


"Mereka keterlaluan sayang, ini acara makan malam atau acara apa rusuh sekali dari tadi," kata mom Celine sambil cemberut.


"Maafkan kami mom," Jaden mendekat lalu memeluk ibunya sayang.Begitu juga dengan Julian ia juga melakukan hal yang sama dengan Jaden.


Bia bisa melihat kehangatan keluarga tersebut. Tidak ada jarak antara mereka. Terlihat jelas satu sama lain saling menyayangi. Bia jadi teringat dengan orang tuanya. Ia pun begitu dekat dengan mereka.


Setelah acara makan malam selesai Jaden dan Bia berpamitan. Namun sebelum Bia pergi ia meminta izin untuk berbicara dengan Julian pada suaminya.


"Bang Jul, apa benar bang Jul tertarik pada kakakku?" tanya Bia polos.Julian mengangguk pelan.


"Bang jika abang benar-benar menyukai kakakku, menangkan hatinya dengan cara yang benar, jangan sampai kakakku mengalami kejadian yang sama denganku," kata Bia seraya melirik pada suaminya.


"Aku janji padamu adik ipar, aku akan mendekati Bulan dengan cara yang berbeda dengan cecunguk itu," Julian menunjuk Jaden dengan dagunya.


Julian dan Bia sama-sama tertawa saat Julian mengatai Jaden.


"Aku percaya padamu bang, jangan rusak kepercayaanku oke?"


"Oke," jawab Julian seraya mencubit pipi Bia gemas.


Jaden yang melihat interaksi keduanya jadi tidak terima. "Lepaskan tanganmu," sentak Jaden.


"Jika saja Berlian tidak kau hamili lebih dulu mungkin dia akan memilihku dibanding kamu," ejek Julian yang sengaja memanas-manasi saudara kembarnya itu.


"Sialan kau," Jaden pura-pura melayangkan tinju ke arah kakaknya. Julian pun tertawa puas.


"Sudahlah ayo kita pulang," ajak Bia seraya menarik tangan suaminya agar menjauh dari Julian.


"Ingat baik-baik perkataanku bang Jul," teriak Bia saat ia telah memasuki mobil. Julian hanya membalas dengan lambaian tangan.


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan pulang. Jaden menghentikan mobilnya di sebuah tempat pengisian bensin.


"Tunggu di sini sebentar," pinta Jaden pada istrinya. Bia pun mengangguk. Saat ia melihat ke luar jendela, ada seorang anak yang terlihat sedang dalam bahaya.


"Serahkan uangmu," pinta beberapa anak punk yang berusaha merebut uang anak yang berprofesi sebagai pedangan asongan itu.


Bia tidak tinggal diam. Ia pun keluar lalu mendekati anak tersebut. "Berhenti," teriak Bia ketika ia melihat anak kecil itu dianiaya oleh beberapa anak punk.


"Mau apa kalian?" sungut Bia lalu membawa anak kecil itu ke belakang punggungnya.


"Jangan ikut campur," gertak salah seorang anak punk.


"Kalau aku tidak mau minggir kalian mau apa?" tantang Bia sambil menarik ujung bibirnya.


"Macem-macem dia sama kita," ejek anak-anak yang berkaos hitam dengan dandanan lusuh tersebut.


Saat seorang anak punk hendak menyentuh kulit halus Bia. Jaden menahan tangan anak tersebut. "Jangan sekali-kali tangan kotormu itu menyentuh kulit putih istriku," ancam Jaden.


Melihat badan Jaden yang begitu kekar nyali anak punk itu menciut. Namun salah satu di antara mereka memprofokasi teman-temannya agar menyerang Jaden.


"Hah badan besar tapi dia masih kalah jumlah dengan kita," ejek salah satu di antara mereka.


"Sayang minggirlah, aku ingin memberi sedikit pelajaran pada mereka," kata Jaden dengan lembut pada istrinya. Bia pun mengangguk. "Hati-hati," ucap Bia khawatir.


"Maju," tantang Jaden dengan sikapnya yang tenang.


Kemudian satu per satu dari mereka mulai menyerang Jaden. Jaden hanya menghindar sama sekali ia tidak balas memukul. Laki-laki yang notabene suami dari Bia itu hanya menangkis serangan-serangan yang diberikan anak-anak punk yang berjumlah lima itu.


Salah seorang anak punk hendak memukul Jaden, lalu Jaden menangkap tangannya dan melempar tubuhnya sehingga bertabrakan dengan anak punk lain.


Tidak ada satu serangan pun yang berhasil menumbangkan Jaden. Malah mereka yang babak belur akibat pukulan dari teman mereka sendiri.


Bia dan anak kecil yang ia lindungi tersenyum senang saat Jaden kembali dengan keadaan selamat.


"Lebih baik kalian cari pekerjaan yang halal, jangan sampai kalian bertemu denganku lagi," kata Jaden sambil melempar empat lembar uang ratusan.


Tentu uang tersebut menjadi rebutan bagi anak-anak punk itu. Mereka berjumlah lima tapi uang yang dilempar hanya empat lembar. Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa salah satu di antara mereka tidak akan kebagian.


"Kakak hebat," puji anak kecil yang Bia tolong.


"Terima kasih," kata Jaden sambil mengusap rambut anak tersebut dengan lembut.


"Mari kami antar pulang," tawar Bia kemudian menoleh pada suaminya untuk memohon agar anak itu diperbolehkan naik ke mobil mewah Jaden.Jaden mengangguk dan memasang senyum manis di wajahnya.


...❤️❤️❤️...


Udah balik senin lagi, sisakan vote kalian buat othor ya, jangan lupa koment dan favoritkan.