
Keyla berangkat ke kantor dengan perasaan yang berbunga-bunga setelah semalam dirinya dilamar oleh Bagus.Berkali-kali ia memandang cincin yang tersemat di jari manisnya.
Tanpa ia sadari seseorang mengamati dirinya itu."Woi," Bia sengaja mengagetkan Keyla.Ia kesal kedatangannya tidak disadari oleh gadis itu.
"Senyum-senyum sendiri lo Key," ucap Bia lalu melirik ke jari manis Keyla."Elo udah dilamar sama Bagus? Katanya kemaren elo diputusin sama dia?" selidik Bia.
"Biasa aja kali Bi ngomongnya,gue yang dilamar aja biasa," Bia mengerutkan keningnya.
"Lo nggak seneng dilamar Bagus?" Bia menafsirkan omongan Keyla dengan pemikirannya sendiri.
"Maksud gue, biasalah gue bahagia banget," ucapnya dengan penuh semangat.
"Dasar lo," Bia hanya geleng-geleng kepala saat Keyla meninggalkan dirinya.
...***...
"Ehem"
Jaden berdehem saat melihat Bagis sibuk memainkan ponselnya sambil tersenyum tanpa menyadari kedatangan atasannya itu.
Bagus menoleh lalu menunduk merasa tidak enak karena ia salah tidak menyapa Jaden."Maaf pak."
"Ada yang mau kamu sampaikan Gus hari ini?" tanya Jaden.
"Tidak ada pak."
"Lalu apa itu di tanganmu?" Jaden menunjuk ke arah jemari Bagus yang terpasang cincin tunangannya dengan Keyla.
Bagus yang menyadari akan hal itu jadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Ia hanya meringis."Ini cincin tunangan pak," ucapnya lirih.
"Kamu tunangan sama siapa? Kok gak ngundang saya?" protes Jaden pada asistennya itu.
"Maaf pak, acaranya sangat mendadak jadi hanya dihadiri oleh pihak keluarga besar saja," terang Bagus.
"Jadi siapa gadis itu?" Jaden mengulangi pertanyaannya.
"Keyla," jawab Bagis dengan singkat.
"Keyla asistennya Bia?" Jaden kembali bertanya untuk memastikan pendengarannya itu masih berfungsi.Bagus mengangguk malu.
"Selamat Gus, aku ikut bahagia atas pertunangan kalian," Jaden memeluk Bagus lalu menepuk punggungnya beberapa kali.
"Terima kasih pak." Bagus agar riskan pasalnya baru kali ini Jaden memeluknya dengan hangat layaknya keluarga.
"Jadi kapan kamu akan menikah dengan Keyla?"
"Kami belum membicarakannya lagi, sementara ini kami ingin menikmati kebersamaan sebelum menikah," ungkap Bagus.
"Lalu apa yang membuatmu melamar dia tadi malam?" tanya Jaden seolah mengintrogasi asistennya.
"Saya melamarnya bukan karena desakan orang tua Keyla tapi saya ingin mempertegas hubunga kami," kata-kata Bagus membuat Jaden lega.
Kalau sampai Bagus mempermainkan Keyla tentu saja istrinya tak akan tinggal diam.Jaden pasti akan direpotkan dengan ide-ide konyol Sang Istri.
"Syukurlah, usiamu sudah matang,sudah sepantasnya kamu memiliki pendamping,lagi pula tidak ada ruginya," bisik Jaden ke telinga. Bagus.
Bagus merasa ada yang aneh dengan kata-kata Jaden tapi ia tak mau pikirannya berselancar kemana-mana.Untuk mengalihkan pembicaraan Bagus mengingatkan jadwal Jaden hari ini.
"Pak,mertua anda meminta untuk datang di pabrik perakitan mobilnya siang ini." Bagus membacakan jadwal Jaden melalui tabwlt yang ia pegang.
"Baiklah, mari kita bertemu calon mertumu juga," ledek Jaden.Yang dimaksud calon mertua Bagus adalah Didu.Kebetulan ia adalah asisten pribadi Rasya.
Bagus menjadi salah tingkah saat mendengar penuturan Jaden.Jantungnya menjadi gugup saat akan menuju ke perusahaan milik Rasya.
Setelah hampir satu jam berkendara menggunakan mobil,Jaden dan Bagus tiba di lokasi perusahaan milik Rasya.
"Selamat siang pa," sapa Jaden yang berada di ambang pintu ruangan kerja Rasya.
"Jaden,ayo masuk."
Bagus menoleh ke arah Didu.Ia mengagguk untuk menyapanya.Didu membalas yang sama pada Bagus.Jaden sekilas melirik ke arah keduanya.
"Pa, sebentar lagi kita akan mendapatkan undangan ke pesta pernikahan," terang Jaden untuk menyindir Bagus.
"Oh ya, dari siapa?" tanya Rasya antusias.
"Dari asisten pribadi kita," ucapan Jaden membuat Rasya menoleh ke arah Didu dan Bagus secara bergantian.
"Apa maksud kamu mereka akan jadi menantu dan ayah mertua?" tanyanya pada Jaden.Jaden pun mengangguk.
Rasya berjalan ke arah Didu."Wah kapan acara lamarannya?Kenapa tidak mengudang kami?" Rasya menepuk bahu Didu.
"Maaf, persiapannya begitu mendadak jadi kami hanya mengudang keluarga terdekat saja pak," Didu membela diri.
"Apa aku ini bukan keluargamu hm?"
"Maaf pak,kami pasti akan mengundang bapak ke acara pernikahan mereka nanti," ucap Didu sedikit tidak enak pada atasannya itu.
"Baiklah,aku maafkan tapi nanti aku yang akan menjadi saksi Keyla saat dia menikah," kata Rasya dengan tegas.
"Tentu," ucap Didu dengan senyum bahagia.
Ia tahu Rasya adalah orang yang baik.Mereka berteman sejak kuliah sampai sekarang.Tidak ada pertemenan yang selanggeng pertemanan mereka.
"Kalau begitu mari kita ke lokasi produksi aku akan menujukkan sesuatu yang membuatmu tertarik Jaden kau pasti akan suka," kata Rasya membuat Jaden penasaran.