
"Pak anda sudah ditunggu di ruang meeting," ujar seorang sekertaris yang menyambut kedatangan Jaden di lobi.
"Siapkan jasku," kata Jaden karena dirinya masih memakai setelan casual saat menjemput Bia tadi pagi.
"Baik pak," jawab sekertaris itu.
Lalu Jaden mengambil berkas yang ia bawa tadi. Ia membuka map berwarna biru itu untuk mengecek kembali isinya. Sayangnya saat dibuka, isi map itu bukan materi meeting melainkan tugas kuliah. Jaden mulai panik.
"Apa jangan-jangan ketukar punya Bia ya," tebak Jaden setelah mengingat kembali saat dimana Bia mengambil map sebelum ia keluar dari mobilnya.
Tanpa pikir panjang Jaden langsung menelpon ke nomor Bia. "Angkat dong!" Jaden mulai resah karena gadis itu tidak juga mengangkat teleponnya.
Cukup lama Jaden menelpon barulah Bia mengangkat teleponnya.
"Ya hallo, ini siapa?" Tanya Bia yang tidak tahu dari siapa ia ditelepon.
"Bi ini gue Jaden, elo pegang map warna biru gak?" coba lihat isinya, kayaknya map kita ketukar deh tadi," pinta Jaden.
"Oh iya nih, terus gimana?" Tanya Bia yang bingung.
"Kamu bisa anterin gak? Tolong ya Bi, soalnya aku ada meeting sekarang tapi tertunda gara-gara map kita ketuker. Aku akan share location." Setelah Jaden menutup teleponnya ia mengirim lokasi terkini di mana dia berada.
Bia pun menerima pesan lokasi yang dikirimkan oleh Jaden. "Wah deket nih," gumam Bia.
Ternyata ia berada di hotel bintang lima yang ada di seberang kampus. Bia kemudian mempercepat langkahnya.
"Semprul ternyata jarak dari gedung gue ke hotel itu lumayan jauh," keluh Bia di tengah perjalanannya mengantar map milik Jaden.
Sesampainya di hotel Bia mendekati resepsionis berharap bisa menemukan Jaden melalui bantuannya.
"Mbak bisa tolong panggilkan Jaden!" Pinta Bia pada salah seorang resepsionis di hotel tersebut.
"Maksud anda pak Jaden anak pemilik hotel?" Tanya resepsionis itu memastikan.
"Gak tahu panggil aja," cuek Bia karena dirinya tidak tahu Jaden bekerja sebagai apa di hotel yang lumayan megah itu.
"Maaf mbak sebentar lagi pak Jaden ada meeting penting, kata sekretarisnya mbak bisa menunggu setelah meeting selesai," kata sang resepsionis.
Bia berusaha menghubungi nomor Jaden tapi tidak aktif. Lalu dari kejauhan nampak laki-laki yang ia kenal yang turun dari lift mengenakan setelan jas. Ia pun menurunkan telepon genggamnya.
"Jaden," panggil Bia seraya berlari ke arahnya.
"Ini map kamu, sekarang tukar sama punyaku," ucap Bia dengan nafas terengah-engah.
Julian yang merasa namanya bukan Jaden hanya terdiam menatap gadis itu. "Gadis pembuat onar ini kenal Jaden?" Batin Julian.
"Eh malah bengong," tanya Bia saat melihat laki-laki di depannya itu hanya terdiam.
"Bia," panggil Jaden dari arah lain.
"Berkas aku mana Bia?" Jaden menengadahkan tangannya ke arah Bia.
Bia terlihat bingung. Ia mengarahkan pandangannya ke Jaden lalu Julian secara bergantian. Tiba-tiba Bia pingsan.
"Bi kenapa pingsan segala sih?" Keluh Jaden lalu menggendong tubuh Bia dan membawanya ke lantai atas.
"Pak anda sudah terlambat, tuan besar marah," ucap Ruby sang sekertaris.
Jaden berjalan melewati Ruby lalu meletakkan Bia dia atas sofa. "Titip dia," perintahnya pada Ruby. Ruby pun mengangguk.
Jaden dan Julian segera menghadiri meeting di ruangan lain. Jaden melihat ke arah daddynya. Ia bergidik ngeri saat sang daddy berada dalam mode singa.
Setelah tiga puluh menit rapat usai. Jaden mendekati ayahnya untuk meminta maaf. "I'm sorry dad, tadi pagi map aku ketinggalan," Jaden beralasan.
Darren menatap tajam ke arah putranya yang tertunduk itu. "Perbaiki sifat cerobohmu itu," ucap Darren lalu beranjak dari kursi meninggalkan putranya.
Julian yang masih berada di ruang meeting mendekati adik kembarnya.
"Siapa gadis itu?" Tanya Julian yang penasaran dengan gadis yang pingsan tadi.
"Astaga Bia," Jaden teringat lalu ia bergegas menuju ruangannya dan meninggalkan Julian.
Jaden memasuki ruangannya. Dia melihat Bia sudah terduduk di sofa sedang meminum air yang diberikan oleh Ruby.
"Elo sudah sadar Bi? Kok bisa pingsan sih?" tanyanya khawatir.
"Gue gak papa, gue cuma kecapekan habis lari-lari tadi," jawab Bia dengan ekspresi datarnya.
"Elo udah makan? Jangan-jangan elo belum makan tadi pagi?" Tebak Jaden. Bia menggeleng.
Ruby yang melihat sikap Jaden pada gadis yang duduk di hadapannya itu merasa tidak aneh sebab Jaden terkenal suka berganti-ganti pasangan.
"Gue mau bicara sebentar," kata Bia sejenak pandangannya mengarah pada Ruby.
Jaden menoleh pada Ruby. "Bisa tinggalkan kami sebentar," ucapnya dengan ramah.
Setelah Ruby menutup pintu ruangan Jaden. Laki-laki itu mulai memberikan pertanyaan pada gadis yang sedang duduk di hadapannya.
"Mau bicara apa?" tanya Jaden serius.
"Balikin motor gue," rengek Bia sambil menarik ujung lengan Jaden.
Jaden menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja gadis itu. "Kirain ada yang serius," ucapnya seraya mengacak rambut Bia.
"Ini juga serius, gue bakal tebus motor gue kalau lo mau?" Bia berusaha meyakinkan Jaden.
"Mau tebus pakai apa? Emangnya punya uang?" Tanya Jaden pada Bia karena laki-laki itu tahu Bia tidak memiliki uang setelah semua fasilitas diambil oleh papanya.
Bia bingung menjawabnya pasalnya ia lupa kalau semua kartu kreditnya dipegang Rasya, papanya. Bahkan uang sehari-hari pun dijatah oleh Ara, mamanya.
"Selain uang deh kalau gitu, gue mau lo suruh ngapain aja asalkan motor gue balik," ucap Bia mantap.
Jaden tersenyum licik. "Kalau gitu mau jadi pacar gue,"
"Selain itulah," tolak Bia.
"Kenapa emangnya?" Tanya Jaden.
"Gue belum siap," jawab Bia gugup.
Meski banyak lelaki yang mendekati Bia tapi gadis itu belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Rasya sangat overprotektif terhadap putrinya. Ia melarang Bia menjalin hubungan dengan laki-laki manapun kecuali hubungan pertemanan.
"Gue takut sama papa," imbuh gadis itu.
"Om Rasya sudah kasih izin," balas Jaden
"Tapi..." belum sempat Bia menyelesaikan kalimatnya Jaden menutup bibir Bia dengan jari telunjuknya.
"Sssstt, kasih aku kesempatan Bia, kamu gak akan tahu rasanya pacaran kalau kamu gak mau mencoba," ucap Jaden sambil menatap ke dalam mata Bia. Ia juga menggenggam tangan Bia saat itu.
Bia mengangguk pelan. Ia terpaksa menyetujui perintah Jaden untuk menjadi pacarnya agar motornya kembali.
"Makasih Berlian," ucap Jaden seraya mengecup kening Bia singkat. Bia melonjak kaget dengan perlakuan Jaden.
Semudah itukah mereka jadian ataukah nantinya ada orang ketiga yang akan menjadi bumbu cinta di antara mereka?
...♥️♥️♥️...
Jangan lupa tinggalin jejak ya dears.