My Beloved Partner

My Beloved Partner
171



Ernest menyarankan agar Chloe mencari keberadaan Sandra dan ayahnya. Chloe pun menurut karena hidupnya sudah tidak berarti setelah kepergian mereka. Meskipun sudah bercerai dengan Vero tapi ia ingin memperbaiki hubungannya terutama agar Sandra mau mengakui dirinya kembali sebagai ibu.


Ketika Chloe sedang mengendarai mobil ia melihat gadis yang mirip dengan Sandra. Chloe pun menepikan mobilnya. Ia menepuk bahu gadis itu. Namun, ketika gadis itu menoleh ternyata dia bukan Sandra.


"Kemana aku harus mencarimu?" Gumam Chloe. Lalu ia teringat dulu Sandra punya teman laki-laki yang sering mengantarnya pulang. Dia tak lain adalah anak dari laki-laki yang pernah dicintainya.


"Aku harus ke rumah Jaden," pikir Chloe. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Chloe pun datang bertamu ke rumah Jaden siang itu.


Bia membukakan pintu ketika mendengar suara bel ditekan. Ia terkejut ketika melihat wanita masa lalu suaminya itu tiba-tiba berkunjung.


"Selamat siang," Chloe memberi salam dengan sopan pada pemilik rumah.


"Ada apa anda datang kemari?" Tanya Bia dengan ketus.


"Saya mencari anak laki-laki anda," ungkap Chloe.


Bia mengerutkan keningnya. "Kenapa mencarinya?" Tanya Bia kemudian.


"Saya ingin bertanya sesuatu padanya, bisakah saya bertemu dengannya?" Mohon Chloe.


"Sayang sekali dia sedang tidak ada di rumah," jawab Bia.


"Kemana dia?" Tanya Chloe lagi. Tapi Bia mengabaikannya.


"Kembalilah lain kali," ucap Bia lalu ia menutup pintu.


Chloe pulang dengan perasaan kecewa karena tidak mendapatkan informasi tentang putrinya dari Alex. "Baiklah aku akan cari ke tempat lain," gumam Chloe dengan lirih.


Wanita itu mengenakan kaca mata hitamnya lalu memasuki mobilnya kembali.


Untuk kedua kalinya ia melihat seseorang yang mirip dengan Sandra. Namun, kali ini Chloe mengabaikannya, ia tak mau salah mengenali orang lagi. Kejadian tadi cukup membuatnya malu.


Di saat yang bersamaan, Sandra melihat sang ibu yang sedang mengendarai mobil lewat di depannya sekilas.


"Mama," gumam Sandra dengan lirih. Ia sempat menitikkan air mata.


"Ada apa sayang?" Tanya Alex.


"Aku lihat mama," jawab Sandra sambil mengusap air matanya yang menetes di pipi.


"Dimana?" Alex mengedarkan pandangannya.


"Sudah pergi, dia lewat di jalan tadi. Sudahlah, ayo kita pergi katanya mau jemput Kristal," ajak Sandra.


Alex membukakan pintu mobil untuk Sandra. "Hati-hati kepalanya," Alex menutup bagian kepala Sandra agar tidak terbentur.


"Terima kasih," ucap Sandra sambil mengulas senyum.


Setelah menutup pintu mobil untuk Sandra, Alex berputar. Ia duduk di belakang kendali setir.


Alex membawa Sandra ke sebuah tempat latihan. Di sana ia melihat Kristal sedang berlatih karate. "Jadi Kristal latihan bela diri di sini?" Tanya Sandra antusias. Alex hanya mengangguk menjawab pertanyaan kekasihnya.


"Wih, keren banget dia," puji Sandra. Lalu gadis itu hendak turun dari mobil. Tapi ketika dia akan melepas sabuk pengamannya, Sandra merasa kesulitan.


"Sini aku bantu," Alex mendekat ke arah Sandra. Jarak mereka begitu dekat hingga Sandra bisa merasakan hembusan hangat nafas Alex.


Jantung Sandra berdegub kencang. Ia bahkan menahan nafas saking gugupnya. Usai melepas sabuk pengaman, tak sengaja mata Alex bertemu dengan mata Sandra.


Wajah Sandra memerah. Alex semakin mendekat. Sandra refleks menutup mulutnya agar Alex tidak menciumnya secara tiba-tiba. Alex tersenyum geli.


"Kamu kenapa menutup mulut? Memangnya nafasku bau?" Tanya Alex pada Sandra.


"Aku takut dicium sama kamu," jawab Sandra dengan jujur. Alex makin terkekeh.


"Kan sudah pernah," ungkap pemuda tampan itu.


Sandra melotot. "Jadi yang dikatakan bu kost itu benar, waktu itu kamu mencium bibirku?" Selidik Sandra.


Alex mengangguk. "Aku ingin mencium keningmu tapi saat itu keningmu sedang ku kompres jadi aku mencium bibirmu sekilas," akunya.


Sandra memukul bahu Alex. "Dasar maling," umpatnya.


"Kok maling sih sayang," protes Alex pada kekasihnya.


Wajah Alex berubah mimik. "Kalau sekarang boleh nggak?" Tanpa menunggu jawaban dari Sandra, Alex menempelkan bibirnya ke bibir Sandra dengan lembut.


Sandra tak menolak ciuman yang diberikan oleh Alex. Namun, ia belum tahu bagaimana membalasnya. Sandra merasakan jantungnya berdesir. Ada gelenyer aneh yang ia rasakan.


Alex tahu kalau itu merupakan ciuman pertama Sandra. Ketika Sandra mulai kehabisan nafas, Alex baru melepas pagutannya. Ia menempelkan keningnya ke kening Sandra. "I love you Sandra," kata Alex dengan mesra.


"Love you too," jawab Sandra dengan wajah yang bersemu merah.


Tok tok tok


Sebuah ketukan di kaca mobil Alex membuat pasangan muda-mudi itu tersentak kaget. Sandra merapikan rambutnya yang berantakan. Untung saja kaca mobil Alex hitam jadi tidak akan ada yang melihat keduanya berciuman di dalam mobil. Lalu Alex membuka pintu mobilnya dan menemui Kristal.


"Kalian ngapain aja sih di dalam mobil?" Protes Kristal.


Alex tidak menjawab. Kemudian Sandra membuka kaca mobil di sampingnya. "Yuk dek masuk, panas ini kita jajan es krim yuk!"


Mendapat tawaran yang menggiurkan, mata Kristal berbinar. Ia cepat-cepat masuk ke dalam mobil.


"Dasar bocah," gerutu Alex sambil menggelengkan kepalanya.


"Oh ya bang, nanti anterin aku ke minimarket ya?" Perintah Kristal pada abangnya.


"Iya sekalian beli es krim kan?" kata Alex.


Alex pun melajukan mobilnya. Tak jauh dari tempat latihan Kristal, ada minimarket di pinggir jalan. Alex berbelok dan menghentikan mobilnya di depan minimarket.


"Aku mau es krimnya yang gede ya bang," kata Kristal.


"Borong sekalian sama tokonya," jawab Alex kesal. Sandra malah terkekeh melihat Alex dan Kristal. Ia jadi iri karena tidak memiliki saudara kandung. Sejak kecil dia dibesarkan seorang diri.


"Nyari apa dek?" Tanya Sandra.


"Pembalut," jawab Kristal sambil berbisik.


"Nah itu di bagian sana," tunjuk Sandra.


"Idih, beli apaan sih itu, udah gede juga pakai diapers," ledek Alex.


"Hissh abang nyebelin tuh kak," adunya pada Sandra.


"Kalian ini kalau bareng selalu berantem, yuk dek kakak bayarin es krimnya," kata Sandra mengajak Kristal ke kasir.


"Eh nggak usah sayang, aku bayar pakai ini," Alex menunjukkan kartu kredit tanpa limit yang diberikan Jaden padanya.


"Ih, papa curang Kristal nggak dikasih itu," Kristal merasa iri dengan sang kakak.


"Kamu masih kecil nanti boros, beli atribut idola nggak penting sampai jutaan, apaan?" Ledek Alex.


"Ih nggak penting gimana, itu tuh merchandise idol boyband aku tahu," kata Kristal mencebik kesal.


Setelah membayar tagihan di kasir. Kristal mengajak Sandra dan Alex makan es krim di meja yang disediakan di depan minimarket.


"Panas-panas gini enaknya tuh makan es krim begini," kata Kristal sambil menyendok es krimnya.


"Kenapa nggak dimakan di rumah aja sih?" Protes Alex.


"Keburu mencairlah, lagian Kristal udah haus banget habis latihan," akunya.


"Kak Sandra mau?" Tawar Kristal.


"Nggak kakak beli minum tadi, gigi kakak suka ngilu kalau makan yang dingin-dingin," kata Sandra.


"Masak sih sayang, coba aku lihat?" Goda Alex.


"Hemm nyari kesempatan dalam kesempitan," ledek Kristal sambil memakan es krimnya.


"Berisik."


"Sandra," panggilan seorang wanita membuat ketiganya menoleh.