
"Bodoh, mendapatkan tugas sekecil itu saja kalian tidak becus," gumam Dewi mendapati orang-orang suruhannya tertangkap polisi.
...Flashback on...
Setelah ia mendengar bahwa Sandra akan makan-makan di rumah Alex, Dewi merencanakan sesuatu untuk mencelakai Sandra. Bagi Dewi, Sandra adalah penghalang cintanya pada Alex. Maka ia harus menyingkirkan gadis manapun yang akan merebut Alex darinya.
Malam itu Dewi sudah memprediksi kalau Sandra akan memanggil driver ojol untuk mengantarnya pulang. Benar saja, saat Dewi mengawasi dari jauh ia melihat Sandra mengutak-atik handphonenya. Lebih tepatnya Sandra meminjam handphone milik Nabil, karena handphone Sandra rusak.
"Gue pinjam hp lo," pinta Sandra sambil menengadahkan tangan. Tanpa bertanya Nabil langsung meminjamkan hp nya karena ia tahu handphone Sandra sedang rusak.
Sandra memesan taksi online. "Jam segini mana ada angkot San?" Kata Nabil sambil mengamati lingkungan sekitar. Apalagi mereka sedang berada di kawasan perumahan elit.
"Siapa bilang kita mau naik angkot? Kita naik taksi aja biar cepet," kata Sandra pada Nabil.
"Gue udah pesen taksi online," kata Sandra. Lalu ia mengembalikan handphone yang ia pinjam pada pemiliknya.
Di sisi lain Dewi meminta anak buahnya menghadang driver yang dipesan oleh Sandra. Anak buahnya menggantikan driver taksi online yang asli.
Driver asli dipukuli lalu ditinggalkan di pinggir jalan begitu saja. Sedangkan orang suruhan Dewi menggantikan driver asli tersebut.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan Sandra dan Nabil.
Driver itu membuka pintu mobilnya. "Dengan mbak Sandra?" Tanya driver yang usianya sekitar tiga puluh tahunan itu.
"Benar Pak," jawab Sandra lalu mereka naik ke dalam mobil tanpa curiga.
Setelah memastikan Sandra dan temannya masuk ke dalam mobil Dewi pergi. "Pastika. kalian menghabisi mereka," perintah Dewi pada anak buah yang tersisa.
...Flashback off...
Tak mau namanya disebut ketika polisi mengintrogasi para penjahat itu, Dewi langsung menemui pengacaranya untuk membungkam mulut mereka dengan sejumlah uang dan janji-janji yang ia berikan.
Dewi yang merupakan anak pengusaha kaya tentu saja tidak mau dirinya masuk dalam bui. Ia bisa menyelesaikan semua masalah hanya dengan uang yang diberikan oleh ayahnya.
...***...
Setelah Sandra mendengar cerita Nabil, gadis itu menemui Zidan ketika di kampus. "Zidan," panggil Sandra. Zidan yang sednag berbincang dengan temannya menoleh ke sumber suara.
Sandra berjalan mendekat ke arah sepupu Alex tersebut. "Aku mencarimu," kata Sandra.
"Ada apa San?" Tanya Zidan yang tak mengerti.
"Aku ingin berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan nyawaku kemaren, maaf aku terlambat mengucapkannya," kata Sandra dengan tulus.
Zidan tersenyum. "Tidak masalah, bukankah sesama manusia kita harus saling membantu," jawab Zidan dengan bijak.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas budi baikmu padaku?" Tanya Sandra yang merasa tidak enak.
"Tidak perlu, melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku," jawab Zidan. Sesungguhnya dia menginginkan lebih dari itu. Namun, Zidan sadar kalau dia tak mungkin menang melawan sepupunya, Alex.
Kejadian kemaren ketika Sandra tak mau ditolong olehnya membuat Zidan sadar kalau hanya ada nama Alex di hati Sandra. Buktinya Sandra mau dibawa ke rumah sakit setelah Jaden memanggil putra sulungnya itu.
"Apa kau akan pulang sekarang?" Tanya Sandra pada Zidan.
Zidan melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sepertinya begitu, aku akan menjemput kakakku," jawan Zidan beralasan.
"Oh, baiklah. Sekali lagi terima kasih Zidan," kata Sandra sambil tersenyum.
Setelah itu Sandra menuju le kantin untuk membeli minuman. Alex yang sejak tadi mengikutinya kini berani mendekat seteah kepergian Zidan.
"Hai," sapa Alex yang duduk di samping kekaksihnya.
"Oh ya Lex aku lupa kalau handphone ku rusak, maaf menyuruhmu menghubungiku kemaren," kata Sandra dengan penuh penyesalan.
"Nggak papa, namanya juga lupa nggak bisa dihindari. Nih." Tiba-tiba Alex memberikan sebuah paper bag untuk Sandra.
"Apa ini?" Tanya Sandra yang penasaran dengan isinya.
"Buka saja!"
Sandra pun melihat isi yang ada di dalam paper bag itu. Sebuah handphone yang masih terbungkus merk apel tergigit diberikan oleh Alex pada Sandra.
"Maksudnya apa ini Lex?" Tanya Sandra tidak mengerti.
"Anggap saja itu hadiah ulang tahun dariku," gurau Alex.
"Kamu nggak perlu beliin aku hadiah mahal seperti inilah, mending uangnya di tabung," kata Sandra.
"Sayang, kamu lupa kalau orang tuaku kaya raya, uangnya tidak akan habis sampai tujuh turunan," kata Alex jumawa.
Namun, Sandra terlihat sendu. "Kamu jangan sombong, lihatlah aku sekarang, dulu aku juga tergolong orang yang mampu, tapi roda itu berputar, ada kalanya kita juga akan merasakan di bawah."
Alex menyesal dengan kata-kata yang terucap dari bibirnya. Ia lupa kalau orang tua Sandra mengalami kebangkrutan. Tidak seharusnya dia sombong di depan Sandra.
"Maaf sayang membuatmu sedih, aku tidak bermaksud menyinggungmu," kata Alex sambil mengusap pipi Sandra dengan lembut.
"Mulai sekarang aku akan lebih menjaga omonganku agar tidak menyakitimu." Alex berjanji pada Sandra.
"Lupakan, aku senang kau memberikan aku handphone, aku ingin mengubungi papaku, aku sudah lama tidak mengabarinya pasti dia sangat khawatir padaku," kata Sandra membesarkan hati Alex.
"Baguslah, hubungi orang tuamu segera."
Sandra mencari nomor telepon orang tuanya yang ia simpan di dalam sebuah buku ketika ia sampai di tempat kosnya.
"Alhamdulillah ketemu, aku bisa mengubungi papa," gumam Sandra.
"Hallo, assalamualaikum Pa," kata Sandra setelah jaringan tersambung.
"Waalaikumsalam nak. Papa sangat merindukanmu. Kenapa baru hubungi papa sekarang?" Tanya Vero melalui sambungan telepon.
"Waktu itu handphone Sandra rusak pa jadi Sandra tidak bisa menghubungi papa, maafkan Sandra Pa."
"Tidak apa-apa nak. Yang penting papa sudah mendengar kabarmu, papa sudah senang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Vero cemas.
"Iya pa. Papa tenang saja, Sandra bisa jaga diri kok. Oh iya jaga kesehatan ya Pa,maaf tidak bisa mengurusi papa."
"Jangan bicara seperti itu. Kamu memang harus menuntut ilmu agar kamu bisa meraih cita-citamu nak. Apa uang yang papa transfer untuk biaya kuliahmu cukup?" Tanya Vero pada putrinya.
Sandra jadi teringat. Ia belum mengecek mobile banking yang ada di dalam handphone nya. "Cukup pa," jawab Sandra berbohong agar Vero tidak khawatir.
Setelah cukup lama melepas rindu, Sandra mengakhiri sambungan teleponnya. Ia kemudian merebahkan diri. Kuliah seharian membuatnya mengantuk dan lelah. Sandra pun memejamkan matanya.