
"Sayang kau lebih cantik dari biasanya," puji Ara yang melihat putrinya berdandan sangat cantik.
"Hari ini aku mau meeting sama klien penting ma," kata Bia.
"Siapa?" tanya Rasya yang baru selesai menyantap sarapannya.
"Investor pa, dia akan membeli sepuluh persen saham kita, oh sepertinya aku hampir terlambat," kata Bia sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Setelah itu Bia memasuki garasi mobil. Saat ia akan menaiki mobil Rasya melarangnya. "Ayo papa antar kamu sampai kantor," ajak Rasya.
"Bia mau langsung ke tempat meeting pa, jadi aku bawa mobil sendiri aja," tolak Bia secara halus.
"Sayang ingat kamu sedang mengandung jangan sampai kamu kelelahan," kata Rasya penih perhatian.
Entah mengapa hati Bia menghangat bahkan di usianya yang sudah dewasa dan hampir menikah papanya begitu menyayanginya.
"Baiklah opa," goda Bia dengan memanggil Rasya dengan sebutan kakek.
"Benarkah aku setua itu? bahkan anakmu belum lahir," protes Rasya dan keduanya terkekeh.
Sesuai permintaan putrinya Rasya menurunkan Bia di sebuah restoran terkenal yang tak jauh dari kantornya.
"Apa aku perlu menemanimu?" tanya Rasya dari dalam mobil.
"No papa, Bia sudah besar. Bia bisa mengurus ini sendiri," tolak Bia.
"Bagaimana kau pulang nanti?" tanya Rasya yang masih mengkhawatirkan anaknya.
"Come on pa, aku anak pemilik perusahaan ojek online aku bisa memanggil anak buahku kapan saja," pongah Bia. Rasya hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi. Bia melambaikan tangan pada papanya.
Tak lama kemudian seorang laki-laki yang baru turun dari mobil memanggil nama gadis itu.
"Berlian," Bia pun menoleh.
"Hai Sam, baru sampai?" tanyanya pada Samuel yang merupakan calon pembeli saham milik perusahaan yang dinaungi oleh Bia.
"Mari kita masuk," ajak laki-laki berwajah oriental itu.
Di tempat lain Jaden merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh calon istrinya. Lalu dia membuka laptop dan diam-diam melacak keberadaan Bia. Keahliannya di bidang komputer tidak diragukan lagi. Jaden dan juga kembarannya Julian memang sudah jenius dari lahir.
Jaden menemukan gambar Bia yang sedang berada di sebuah restoran bersama seorang lelaki yang usianya tak terpaut jauh. Jaden jadi tidak suka menyaksikan keakraban mereka. Kemudian ia memutuskan untuk menyusul Bia ke restoran itu.
"Pak anda mau kemana sebentar lagi kita akan meeting," teriak Bagus yang baru sampai di ruangan Jaden.
"Atur ulang jadwalnya," perintah Jaden.
Jaden melajukan mobilnya kencang agar ia cepat sampai di restoran itu. Tak butuh waktu lama mobilnya sudah terparkir di depan restoran. Jaden segera menghampiri calon istrinya.
"Sayang," panggil Jaden pada Bia.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bia heran saat Jaden tiba-tiba datang mengganggu meetingnya.
"Aku ingin mengajakmu membeli cincin pernikahan kita," kata Jaden.
"Berlian siapa dia?" tanya Samuel.
"Jaden, calon suami Berlian," kata Jaden memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan. Namun Samuel tidak membalas uluran tangan laki-laki yang seminggu lagi akan menikah dengan Bia itu.
"Sombong sekali laki-laki ini," gerutu Jaden dalam hati.
"Sebaiknya meeting kita tunda dulu," Samuel memilih pergi karena kecewa mendapati wanita yang ia taksir sudah memiliki calon suami.
Bia menghembuskan nafanya kasar. "Ya ampun kau mengacaukan segalanya," umpat Bia pada Jaden.
Bia ikut keluar menyusul Samuel. "Tolong jangan berubah pikiran Sam," pintanya pada teman lamanya itu.
Samuel mengangguk ia lalu memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Bia.
"Tenanglah sayang calon suamimu ini sangat kaya aku bisa membayar kerugianmu, kalau perlu aku juga akan membeli sahammu, bahkan kalau perlu aku juga akan meyuruh daddy menginvestasikan dananya ke perusahaan milik mu," ucap Jaden dengan percaya diri. Namun Bia memutar bola matanya jengah.
"Sayang ayo ikut aku," ajak Jaden sambil menarik lengan Bia.
"Kemana?" tanya Bia tidak mengerti.
"Tentu saja memilih cincin pernikahan, kamu pikir aku berpura-pura tadi, mommy sudah menunggu di toko perhiasaan," kata Jaden.
Lalu laki-laki yang tinggi dengan badan yang atletis itu membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
"Hati-hati ya ibunya anakku," Bia jadi memicingkan matanya mendengar perkataan Jaden yang menurutnya itu berlebihan.
"Oh astaga ternyata kau tidak becanda rupanya," gumam Bi dan dengan langkah gontai Bia mengikuti langkah Jaden memasuki mobil.
Tak banyak yang mereka bicarakan saat berada di dalam mobil. Keduanya sama-sama canggung. Sesekali Jaden menengok ke arah Bia yang sedari tadi melihat ke luar jendela mobil.
Saat akan turun dari mobil, Jaden membantu melepaskan sabuk pengaman yang masih terpakai di badan Bia. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja dan itu membuat Bia dapat merasakan hembusan hangat yang keluar dari hidung laki-laki itu.
Namun Bia menahan nafasnya saat wajah Jaden begitu dekat. Ia bahkan sampai memejamkan matanya. Melihat Bia yang salah tingkah Jaden jadi menahan senyumnya.
"Ngarep buat dicium ya," ledek Jaden saat melihat tingkah Bia yang menggemaskan.
Bia lalu mendorong tubuh Jaden agar menjauh.Jaden jadi terkekeh. Setelah itu Bia keluar dengan tergesa-gesa. Jaden segera mengikuti Bia dari belakang.
Di sebuah toko perhiasan Mom Celine sudah menunggu putra dan calon manantunya. Ia tersenyum saat melihat keduanya memasuki toko perhiasan langganan Celine.
"Pilihlah sesukamu sayang," kata Celine pada Bia.
Bia bingung ia menoleh pada Jaden untuk meminta bantuan."Tolong tunjukkan koleksi terbaru kalian," pintanya pada pelayan tersebut.
Kemudian pelayan toko itu mengeluarkan dua model cincin. "Oh cantik sekali," kagum Bia melihat koleksi cincin yang mereka tunjukkan padanya.
"Kau suka yang mana?" tanya Jaden.
"Yang ini," tunjuk Bia pada cincin dengan model simple dengan berlian di tengahnya.
"Baiklah kita ambil yang ini mbak," kata Celine.
"Nak kapan jadwalmu memeriksakan kandungan?" tanya Celine.
Deg
Bia jadi gugup saat calon mertuanya menanyakan hal itu. Ia lupa bertanya pada mamanya. "Bia belum tahu ma," jujur Bia.
"Kalau gitu biar besok Jaden mengantarmu memeriksakan kandunganmu," kata Celine seraya menoleh pada anak lelakinya.
"Tapi mom besok aku ada meeting," tolak Jaden.
"Atur ulang jadwalmu, katanya kau ingin bertanggung jawab pada Berlian,"
"Baiklah ma," jawab Jaden sambil tersenyum pada Bia.Bia terpesona dengan senyum yang mengembang di wajah tampan Jaden.
"Kenapa dia terlihat tampan sekali, ah tidak tidak," Bia tampak menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Jaden dipikirannya.
"Baiklah ayo kita cari makan, apakah kau tidak merasakan lapar sayang?" tanya Celine seraya mengelus perut Bia yang masih datar.
Wajah Bia jadi merah merona. Ia sedikit terharu melihat calon mertuanya yang begitu perhatian padanya. "Aku sangat lapar tante," jujur Bia.
"Jangan panggil tante mulai sekarang panggillah mommy seperti Jaden, karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku," Celine mengelus rambut Bia sayang.
Ehem
"Yuk kita makan sekarang, sebelum anakku kelaparan," kata Jaden sehingga membuat Bia malu.