My Beloved Partner

My Beloved Partner
70



Tin tin


Suara klakson mobil itu terdengar dari depan rumah. Sejenak kebinsingan itu berhasil membuat dirinya yang sedang bercinta dengan sang istri menghentikan aktivitasnya.


"Kak,"Bia memberitahu pada Jaden agar menghentikan aktivitasnya untuk melihat keluar rumah.


"Udah biarin aja,kita lanjut lagi,"kata Jaden acuh kini dirinya mencium bagian leher jenjang Bia.Suara desa han itu pun lolos begitu saja dari mulut Bia.


Tin Tin


"Ck,sialan cari mati tuh orang," umpat Jaden lalu turun dari tubuh Bia. Ia segera memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar panas tersebut.


Jaden membuka pintu untuk melihat siapa orang kurang ajar yang datang pagi-pagi mengganggu kesenangannya dengan sang istri.


Dilihatnya Julian turun dari mobil."Sialan lo bang,berisik tau gak," Jaden melempar sandal ke arah abangnya.Julian berhasil menghindar dan terkekeh.


"Elo gak ngantor?" tanya Julian.


"Ini hari Minggu Malih,ngapain week end ke kantor," jawab Jaden yang kesal dengan abangnya.


"Mo ngapain?" tanya Jaden kemudian.


"Gue mau pinjem motor lo," Julian melempar kunci mobilnya ke arah Jaden. Jaden pun menangkapnya.


"Mo kemana bang Jul?" suara merdu itu datang dari belakang Jaden.


"Ada aja kepo lo," cibir Julian."Udah sini kuncinya," pinta Julian seraya menengadahkan tangannya.


"Bentar ya bang Bia ambil dulu,yuk masuk," ajak Bia. Wanita itu lalu berjalan ke dalam kamarnya.


Tak lama kemudian Bia membawa kunci motor miliknya."Jangan sampai lecet ya bang,awas kalau lecet," ancam Bia.


"Iya, oh ya Bi nanti kamu belanjain baju ya buat Raina," pinta Julian.


Bia menengadahkan tangannya.Julian memutar bola matanya jengah tapi ia tahu maksud Bia."Nih,jangan boros-boros," kata Julian sambil menyerahkan kartu kredit no limit miliknya.


"Ih suka-suka dong,kalau belanjanya barang bermerk kan emang nguras kantong,iya gak sayang?" Bia meminta dukungan suaminya.


"Iya," jawab Jaden seraya tersenyum pada sang istri.


"Terserah elo deh,anggap aja bayaran buat elo," mendengar perkataan Julian senyum Bia mengembang lebar.


"Udah sono pergi lo," usir Jaden.


"Iya bawel," jawab Julian mencebik kesal.


Lalu setelah memastikan abangnya pergi Jaden mengangkat tubuh Bia dengan tiba-tiba."Kita lanjut sayang?" tanya Jaden pada istrinya."Lanjut,"jawab Bia sambil terkekeh.


Di sisi lain Julian sampai di rumah paman Raina yang akan diminta menjadi wali nikah gadis itu. Julian sengaja mengganti mobil mewahnya dengan meminjam motor milik Jaden agar dirinya tidak terkesan pamer.


"Selamat pagi bisa bertemu dengan Pak Hardian," Julian memberi salam pada pemilik rumah.


Seorang wanita memberikan tatapan tajam pada Julian."Bapak gak ada di rumah," jawabnya ketus. Wanita yang notabene istri Hardian itu segera menutup pintu tapi Julian mengganjal pintunya dengan kaki.


"Tolong,saya ingin bertemu dengan pak Hardian,ini penting," kata Julian memohon.


"Sudah saya bilang orangnya tidak ada di rumah,dia sedang pergi ke luar kota," kata wanita itu dengan nada ditinggikan.


"Siapa bu?" tanya Hardian yang keluar dari dalam kamar.


"Pak tolong beri waktu saya untuk bicara," mohon Julian.


Hardian melihat sekilas ke arah Julian. Saat dirasa aman dirinya pun keluar dari persembunyiannya.


"Bu biarkan dia masuk, dia bukan orang yang biasa menagih hutang," kata Hardian. Sang istri pun mematuhinya.


Julian menghembuskan nafasnya lega setelah dirinya dipersilahkan masuk."Terima kasih,"ucapnya saat sang pemilik rumah menyuruhnya untuk duduk.


"Anda ini siapa? apakah anda pengganti orang yang biasanya menagih hutang pada saya?" tanya Hardian baik-baik.


Sebuah ide pun terlintas di benak laki-laki berusia tiga puluh satu tahun itu untuk menaklukkan paman Raina yang katanya tak peduli dengan nasib calon istrinya itu.


"Perkenalkan saya Julian,saya calon suami Raina," mendengar nama Raina,Hardian dan istrinya saling melempar pandang.


"Ada keperluan apa datang kemari?" selidik laki-laki yang seusia Darren itu.


"Saya ingin bapak menjadi wali nikah Raina," kata Julian.


"Cih,untuk apa? hubungan saya dengan ayahnya dulu tidak begitu akrab, untuk apa dia meminta saya menjadi wali nikahnya,cari saja kerabatnya yang lain," tolak Hardian mentah-mentah.


"Pak tolong, apa anda tidak punya rasa kasian pada keponakan anda?" tanya Julian.


"Cih,dia sudah besar dan memiliki calon suami harusnya kamulah yang menanggung hidupnya,"


"Benar saya akan menanggung hidupnya setelah saya menikah dengannya,untuk itu saya minta tolong agar Bapak bersedia menjadi walinya," Julian kembali membujuk


Sang istri yang sejak tadi duduk di samping Hardian tampak membisikkan sesuatu."Apa yang bisa saya dapatkan jika saya menjadi walinya?" tantang Hardian.


"Saya akan melunasi hutang anda, bagaimana?" Julian memberikan penawaran yang mungkin sangat menguntungkan untuk Hardian.


Sudah beberapa tahun terakhir ini dirinya dikejar oleh dept collector. Usaha yang ia rintis harus bangkrut karena dirinya yang bergaya hidup mewah. Sedangkan modal yang dipinjam dari bank sudah habis.Ia pun tidak dapat lagi meneruskan usahanya.Sejak itu Hardian tidak dapat membayar hutangnya di bank. Hidupnya selalu dikejar oleh dept collector.


Hardian dan istrinya saling pandang seolah tak percaya bila Julian dapat melunasi hutangnya. Karena dilihat dari penampilan pemuda itu Julian nampak seperti orang biasa.


"Kamu jangan sombong anak muda,hutangku begitu banyak apa kamu sanggup melunasinya?" tanya Hardian.


Julian menarik ujung bibirnya."Tentu saja saya akan melunasi hutang anda tapi itu tidak gratis,"


batin Julian dengan seringai liciknya.


"Sebutkan berapa hutang anda,saya akan melunasinya," Julian mengeluarkan cek kosong dari dalam saku jaketnya.


Sang istri Hardian membelalakkan matanya. Nampaknya pemuda yang di hadapannya itu bukan orang sembarangan. Lagi-lagi ia membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.


"Seratus lima puluh juta," Hardian menyebut jumlah uang yang harus dibayarkan oleh Julian.


"Baiklah saya akan membayar uang yang anda sebutkan tapi tolong datang ke kantor saya yang ada di alamat ini," di luar dugaan Julian tidak jadi menulis jumlah uang yang diminta oleh paman Raina.


Julian berdiri kemudian pamit pada pemilik rumah. Ia tersenyum dalam hatinya melihat ekspresi kesal di wajah Hardian dan istrinya.Julian tidak bodoh dengan menyerahkan uang sebanyak itu secara cuma-cuma pada orang yang tidak pernah peduli pada calon istrinya.


Oleh karena itu dia meminta Hardian untuk datang ke kantornya. Tentu saja Julian merencanakan sesuatu agar Hardian tidak mengingkari janjinya.


"Sial dia menipuku," gumam Hardian seraya meremas kartu nama yang diberikan oleh Julian.


...❤️❤️❤️...


Gimana kisah selanjutnya apa paman Raina akan bersedia menjadi wali nikahnya? simak terus ceritanya ya,yg udah baca min kasih bunga lah hehe