
Alex dan Sandra tiba di rumah papanya agak sore karena jaraknya lumayan jauh dari kota yang mereka tinggali sekarang.
"Akhirnya nyampe juga," kata Sandra. Ia merenggangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk di kursi mobil.
"Apa kamu capek?" Tanya Alex pada Sandra.
"Tidak juga karena aku tidur dalam perjalanan."
"Ayo temui papamu!" Alex mengajak kekasihnya turun.
"Bersemangat sekali seperti laki-laki yang ingin...Oh tidak, apa dia ingin meminta restu atas hubungan kami?" Tebak Sandra. Wajahnya jadi bersemu merah.
Alex berjalan lebih dulu. Ia mengetuk pintu rumah Vero yang tertutup rapat. "Orangnya tidak ada di rumah," seru salah seorang tetangga yang lewat.
"Kemana Pak?" Tanya Sandra.
"Mungkin ada di kebun cari saja di sana," tunjuk tetangga itu.
Lalu Sandra mengajak Alex ke kebun yang Vero kelola. "Wow amaging, pemandangan hijau yang luar biasa." Alex kagum akan keindahan kebun sayur yang tertata rapi. Berkat kesuksesan ayahnya sekarang, Vero membeli beberapa petak tanah lalu ia menanaminya dengan berbagai sayuran.
"Sepertinya aku akan betah di sini," kata Alex. Sandra mengulas senyum.
"Papa," panggil Sandra ketika melihat Vero dari kejauhan.
Vero menoleh. Ia mengulas senyum lebar di wajahnya ketika melihat sang putri yang tengah berada di perkebunan sayur miliknya.
"Kamu sudah pulang nak?" Tanya Vero pada Sandra setelah ia berada di dekatnya. Lalu laki-laki itu menoleh pada pemuda tampan yang berdiri di belakang Sandra.
"Siapa dia?" Tanya Vero.
"Ini pacar Sandra namanya Alex, Pa." Sandra dengan percaya diri mengenalkan Alex.
Alex meraih tangan Vero tapi Vero menolaknya. "Tidak usah salaman, tangan om kotor habis berkebun."
"Mari kita pulang," ajak Vero.
Alex yang tidak biasa berjalan jauh menuruni bukit jadi terengah-engah. Sandra melihat kekasihnya itu banyak berkeringat. "Aku ambilin minum ya," kata Sandra lalu masuk ke dalam.
"Kalian sudah lama berpacaran?" Tanya Vero pada Alex.
Ekspresi wajah Alex tiba-tiba berubah serius. "Sejak kami SMA om, meskipun Sandra pernah pindah tanpa memberitahu, nyatanya kami dipertemukan tanpa sengaja di kampus." Alex menjawab dengan gugup pertanyaan calon mertuanya itu.
"Ya, waktu itu kami pindah begitu saja. Aku tidak memiliki kerabat di kota jadi aku putuskan ke luar kota untuk memulai hidup baru. Awal-awal tinggal di sini kami sangat kesulitan terutama mengenai ekonomi keuangan." Vero menghela nafas panjang. "Untungnya Tuhan berpihak pada kami, ini juga berkat kerja keras Sandra, penjualan sayur yang aku kelola bisa tembus ke supermarket yang ada di kota." ungkap Vero.
"Ya waktu itu saya dengar ayah saya melihat Sandra mensuplai hasil kebunnya ke supermarker cabang milik keluarga saya om. Dari situlah saya cari tahu kalau Sandra kembali ke kota. Waktu itu saya sempat mencarinya, tapi tidak ketemu. Baru setahun kemudian kami dipertemukan di acara OSPEK karena saya menjadi seniornya."
"Siapa nama orang tuamu?" Tanya Vero penasaran.
"Jaden Dans Smith," jawab Alex. Vero tak heran jika kekasih anaknya itu membawa mobil sport karena Jaden adalah pebisnis yang terkenal di kalangan koleganya.
"Aku harap kalian memang berjodoh." Alex mengulas senyum karena Vero seperti memberi lampu hijau pada hubungannya.
Sandra keluar. "Kalian ngomongin apa sih?" Tanya Sandra yang kini membawa minuman yang ia letakkan di atas nampan.
"Minum dulu Lex," Vero memerintahkan Alex meminum teh hangat yang dibuat Sandra.
"Calon istri baik banget dah," batin Alex sambil memandang kekasihnya. Ia mengulas senyum diam-diam.
Lalu tiba-tiba turun hujan sangat deras. "Musim hujan begini cuaca memang tidak menentu," kata Vero.
"Oh iya, ajak Alex masuk dulu. Kamu menginap atau tidak nak?" Tanya Vero.
"Sepertinya langsung pulang pa. Oh iya, Pa aku belum bilang kalau aku sekarang tinggal di rumah mama," kata Sandra sedikit ragu.
Vero mengerutkan keningnya. "Apa mamamu menerimamu?" Tanya Vero.
"Iya, bahkan mama mencariku waktu itu dan meminta maaf padaku. Aku sempat mengajak mama kemari tapi kata mama dia belum siap bertemu dengan papa. Aku rasa mama menyesal sudah menyia-nyiakan kita."
"Apa kamu memaafkan mamamu sayang?"
"Tentu saja pa. Aku sangat ingin dekat dengannya dari dulu. Ini kesempatanku. Aku tidak akan menyia-nyiakan itu Pa." Ucap Sandra dengan sendu mengingat ia tak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari mamanya. Kini sang mama yang memberikan kasih sayang pada Sandra tanpa Sandra harus memintanya sendiri, bagaimana bisa dia menolaknya.
Vero membawa Sandra ke dalam pelukannya. "Maafkan papa karena tidak bisa memberikan kamu keluarga yang utuh."
Alex melihat Sandra dan ayahnya jadi merasa terharu. Ia tahu seberapa dekat mereka.
Hari sudah malam, tapi hujan belum juga berhenti. "Apa sebaiknya kalian menginap saja, akan sangat berbahaya kalau menyetir dalam keadaan hujan lebat seperti ini. Apalagi ini sudah malam," usul Vero.
Sandra dan Alex pun berpikiran sama. Lalu Alex mengabari kedua orang tuanya kalau ia akan menginap di rumah orang tua Sandra.
"Abang, inget pesan mama ya..."
"Iya ma. Alex inget kok buat jaga kehormatan Sandra. Jangan khawatir ma Alex nggak akan ngapa-ngapain Sandra. Lagian di sini kita tidurnya terpisah kok," ungkap Alex pada ibunya.
Sandra terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. "Apa yang sedang kamu cari sayang?" Tanya Alex pada kekasihnya.
Sandra mendongak. "Sepertinya aku lupa membawa handphone," jawab Sandra.
"Tidak apa, kau beri tahu besok saja pada mamamu, aku harap dia mengerti." Vero memberikan solusi.
Kini mereka tidur terpisah. Alex hanya bisa tidur di depan televisi karena kamar mereka tidak cukup menampung orang lain.
"Tidak apa, hanya semalam." Ia mencoba membuat Sandra agar tidak khawatir. Sandra pun memberikan selimut agar pacarnya itu tidak kedinginan.
...***...
Di tempat lain Chloe sangat khawatir karena putrinya belum pulang juga. Ia pun pergi ke rumah Jaden untuk menanyakan perihal putrinya karena Sandra tidak bisa dihibungi. Sedangkan dia tidak memiliki nomor telepon Alex.
"Biar papa saja yang bukakan pintunya Ma," kata Jaden ketika ia mendengar suara pintu yang diketuk. Jaden terkejut saat melihat Chloe berada di depan pintu.
Bia menyusul suaminya. "Kamu lagi," kata Bia dengan dingin.
"Maaf aku bertamu malam-malam, Sandra belum pulang juga, apa Alex mengabari kalian?" Tanya Chloe.
"Alex bilang mereka akan menginap karena di sana sedang hujan lebat. Jadi tidak mungkin menyetir dalam keadaan hujan malam-malam begini," ungkap Bia.
"Oh syukurlah aku sudah mencoba menghubungi Sandra tapi ternyata dia tidak membawa handphonenya," terang Chloe.
Setelah mendapat jawaban Chloe pamit pulang. Ia merasa tidak enak mengganggu keluarga Jaden.