My Beloved Partner

My Beloved Partner
104



"Dani, dia lagi," gumam Ruby.


"Sialan Julian lagi-lagi dia ngerjain gue," kesal Ruby.Lalu ia melangkahkan kaki ke arah Dani.Ruby tidak mengira Julian mengirimnya untuk menemui laki-laki yang menyebalkan itu.


"Selamat siang," sapa Ruby yang baru datang.


"Saya sudah cukup lama menunggu anda," sarkasnya.


"Maaf pak, mari kita mulai meetingnya sekarang," Ruby membuka berkas yang ada di tangannya.


"Kenapa buru-buru nona, bahkan kamu belum memesan minuman," kata Dani.


"Ngeselin nih orang tadi dia minta cepet udah diturutin minta selow, dasar plin plan," umpat Ruby dalam hatinya.


"Baiklah, saya akan pesan jus jambu saja," kata Ruby.Dani memanggil pelayan.Lalu setelah itu pesanan Ruby pun datang.


Dani terus menatap wajah cantik Ruby.Ruby merasa risih karenanya."Maaf pak apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Ruby sambil memindai penampilan nya sendiri.


"Tidak nona anda sangat cantik saya jadi susah menatap ke arah lain," goda Dani.Blus, wajah Ruby jadi memerah karenanya.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Ruby kemudian.Dani mengangguk.


Usai meeting Ruby berpamitan tapi naas rok yang dipakainya tiba-tiba robek tersangkut kursi yang ia duduki.


"Sial," umpat Ruby saat melihat roknya yang sobek.Dani mengulas senyumnya.Ia melepaskan jas yang ia pakai untuk menutupi bagian bawah Ruby.


"Eh," wanita itu tersentak kaget saat Dani memberikan jasnya.Ruby jadi tidak enak.


"Jalanlah aku mengikutimu dari belakang," kata Dani.Ruby mengangguk pelan.


Setelah itu mereka sampai di parkiran mobil."Terima kasih," ucap Ruby.Lalu saat ia berniat mengembalikan jas milik Dani, laki-laki itu menolaknya.


"Kembalikan saja besok, aku masih punya banyak di rumah, atau kalau kau mau kau bisa menyimpannya," goda Dani sambil terkekeh.


Setelah itu interaksi antara Ruby dan Dani semakin intens.Sebagai wanita normal Ruby pun terkesan dengan Dani.Dari awal ia sudah menunjukkan ketertarikannya.Hati Ruby menjadi luluh dan mereka menjalin hubungan.


***


"Kak kakak tahu nggak,"


"Nggak," Jaden menyela omongan istrinya.Ia mengambil camilan yang ada di dalam toples.


"Ih nyebelin banget," Bia mengambil camilan itu dari tangan Jaden.


" Makanya kalau makan pelan-pelan," kata Bia sambil menepuk punggung suaminya.


"Kamu lihat sendiri?" tanya Jaden setelahnya.


"Iya si Dani tadi ke kantor aku..." lagi-lagi omongan Bia disela oleh suaminya.


Brak


"Breng*sek udah diperingatin juga masih saja ganggu kamu," geram Jaden sambil menggebrak meja.


"Ih sebel deh dari tadi ngomong disela mulu," kata Bia mencebik kesal.Wanita yang sedang hamil itu pun berlalu meninggalkan suaminya ke dalam kamar.


"Sayang, sayang maafin aku," kata Jaden. Ia pun menggaruk tengkukmya yang tidak gatal.


"Salah lagi," ucap Jaden pasrah.


...***...


Sementara itu di kediaman Julian.Laki-laki itu senyum-senyum sendiri membayangkan kemarahan Ruby padanya.


"Kak Julian ngapain senyum-senyum sendiri?" tegur Raina seraya memberikan secangkir teh pada suaminya.


"Gak papa sayang, aku cuma ingat kejadian lucu saat di kantor," ungkapnya.


"Apa itu?" tanya Raina penasaran.


"Ah tidak apa, oh ya Sovia sudah tidur?" tanya Julian yang tidak melihat putri kecilnya.


"Iya," jawab Raina singkat.


"Oh iya kak apa aku boleh menjenguk paman? Meskipun dia jahat padaku tapi dia tetap keluargaku," pinta Raina pada suaminya.


"Tentu saja boleh sayang, tapi tidak usah bawa Sovia titipkan saja pada mommy, lalu berangkatlah dengan supir besok pagi," pesan Julian pada istrinya.


"Terima kasih kak, kakak yang terbaik," Raina memeluk suaminya.Julian mengecup kening Raina singkat.


"Sayang, aku kangen," rengek Julian.Raina yang bisa menangkap maksud suaminya itu menjadi malu mendengarnya.


"Aku juga, ya udah pumpung Sovia lagi bobok, yuk masuk kamar," ajak Raina sambil wmnarik tangan suaminya.


Julian langsung berbinar mendapat ajakan dari istrinya itu.Mereka pun melepas rindu di dalam kamar tamu yang mereka pilih sebagai tempat memadu kasih.