My Beloved Partner

My Beloved Partner
162



Alex menghentikan mobilnya di depan tempat kost Sandra. Ia memindai ke sekeliling. "Apa bagusnya tinggal di sini?" Tanya Alex. Dia tidak tahu kalau ayah Sandra bangkrut.


Sandra menghela nafas. "Memangnya kenapa?" Tanya Sandra.


"Bukankah ayahmu seorang eksekutif?" Tanya Alex. Seingatnya Sandra adalah anak konglomerat seperti dirinya.


"Itu dulu," kata Sandra. Kini ia duduk di depan rumah yang tak terlalu besar itu.


Alex mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu?" Tanya Alex. Dia tak mau menebak-nebak. Salah-salah berbicara malah membuat Sandra tersinggung.


"Papaku bangkrut," kata Sandra dengan wajah Sendu. Alex terkejut mendengarnya.


"Maaf, aku tidak ada di saat kamu hidup susah," kata Alex sambil memegang tangan Sandra.


"Tidak, kamu tidak salah, memang itu bagian jalan hidup kami," kata Sandra.


"Sandra, maukah kamu memulai hubungan seperti dulu saat kita masih SMA, lagipula kita belum putus, hanya jarak yang memisahkan kita saat itu," Alex berkata dengan wajah serius. Ia menatap ke dalam mata Sandra.


Sandra bisa menangkap keseriusan Alex. Tiba-tiba ia menitikkan air mata. "Aku kira kita tidak akan bertemu, tapi hari ini membuktikan kalau kita masih memiliki ikatan benang merah yang belum terputus."


Alex tak mau menyimpulkan sendiri perkataan Sandra, oleh sebab itu dia bertanya sekali lagi. "Jadi apa keputusan kamu?"


"Ya aku mau menjalin hubungan denganmu lagi," kata Sandra dengan mantap.


Alex mengulas senyumnya. Berkali-kali ia mencium tangan Sandra yang sedang ia pegang. Sandra jadi tersipu malu.


"Heh, kalian lagi apa di sini?" Teriak ibu kos pada keduanya.


Sandra cepat-cepat melepas tangan Alex. "Ma-maaf Bu," ucap Sandra sambil menunduk.


Sandra memberikan kode pada Alex agar meninggalkan tempat kostnya. Ia mengambil polpen lalu menulis sesuatu di tangan Sandra. "Ini nomor telepon aku, sayang," ucapnya sambil mengedipkan mata.


"Sana pulang! Ganjen amat," umpat pemilik kos pada Alex ketika menggoda Sandra.


Setelah mengantarkan Sandra, Alex menjemput Kristal ke sekolahnya.


Tin tin


"Kok yang jemput Abang sih? Bang Agung mana?" Tanya Kristal. Kristal memang menyukai Agung sejak dia masih duduk di bangku SMP.


"Udah masuk, keburu hujan," kata Alex. Saat itu memang sedang mendung.


Kristal pun masuk dengan wajah cemberut. "Lo kalau suka sama cowok jangan dikasih tahu napa, jaim dikit jadi cewek," ledek Alex.


"Sing ngerti karepe wong meneng sopo?" Kristal berbicara dalam bahasa Jawa yang tak dimengerti oleh Alex.


"Gue nggak ngerti maksud lo apa?" Kata Alex cuek. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah.


"Ya ampun hujan-hujan gini syahdu ya kalau sama cowok," gumam Kristal.


"Lah ini lagi sama cowok," kata Alex sesekali menoleh ke adiknya.


"Bukan Abang."


"Anak kecil belajar dulu yang bener baru pacaran," kata Alex menasehati.


"Udah, Kristal berprestasi kalau di sekolah," kata Kristal menyombongkan diri.


"Jangan sombong, pinter aja tuh nggak cukup, mesti cantik dan baik hati," Alex berbicara sambil membayangkan wajah Sandra.


"Bang, abang, lagi nyetir lho jangan ngelamun," kata Kristal mengingatkan.


"Iya iya."


Tak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah. Saat itu masih dalam keadaan hujan. "Bang, payung dimana?" Tanya Kristal.


"Noh, di belakang," jawab Alex.


Saat akan meraih payung, Kristal tak sengaja melihat sebuah gelang perempuan yang jatuh di mobilnya. "Bang, ini gelang siapa?" Tanya Kristal. "Ini kan punya cewek," imbuhnya lagi. Kristal menaruh gelang itu di dalam dasboard.


"Owh punya Sandra kali," ucapan Alex membuat Kristal melotot.


"Abang udah nemuin kak Sandra? Dimana?" Tanya Kristal penasaran.


Setelah sampai di dalam rumah, Kristal menagih janji ke Alex. "Jadi gimana ceritanya Bang?" Kristal menunggu jawaban dari abangnya dengan antusias.


"Kristal pulang sekolah ganti baju dulu, ini kok malah ngobrol," tegur Bia pada putrinya.


"Iya, Ma." Bahu Kristal meluruh. Ia kecewa pasalnya sang abang belum menjawab pertanyaannya.


Alex hanya terkekeh melihatnya. "Di luar hujannya deres banget ya Lex, baju kamu sampai basah gini." Bia melihat bahu putranya yang terkena percikan air hujan.


"Iya Ma lumayan lebat," jawab Alex.


"Ya sudah sana mandi sama air hangat biar nggak kena flu," kata Bia dengan penuh perhatian. Alex mengangguk.


Sementara itu di tempat kos, Sandra tidak dapat keluar karena dia lupa membawa payung. "Perutku udah laper, tapi nggak bisa beli makanan." Ia mengelus perutnya yang sedang keroncongan.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk kamar Sandra. Ia bangun lalu membukakan pintu. "Eh elo Bil." Nabila tampak membawa sebuah bungkusan dalam kresek.


"Nih buat lo tadi gue dapat jatah makan di kampus, tapi gue udah makan, dari pada basi gue kasih ke elo aja itu sih kalau elo mau?" kata Nabil.


"Gue mau Bil, makasih ya," ucap Sandra sambil tersenyum lebar.


"Sini masuk kita ngobrol di dalam kamar gue," ajak Sandra.


"Kamar lo bersih banget, beda sama kamar gue," ucap Nabil.


"Makanya bersihin tiap hari."


"Nggak sempet gue tugas kampus numpuk jadi gue pentingin tugas dulu daripada bersih-bersih," ungkap gadis berkacamata itu.


"Elo ambil jurusan apa?" Tanya Sandra.


"Bisnis dan komunikasi," jawab Nabil.


"Sama dong, kita cuma beda semester aja," seru Sandra sambil mengunyah makanannya.


"By the way gue habisin ya makanannya," Nabil mengangguk. "Iya gue tahu di luar hujan elo pasti belum sempet beli makanan kan?" Tebak Nabil.


"Iya, laper banget gue. Mana tadi di suruh keliling lapangan dua puluh kali sampai pingsan lagi," kata Sandra dengan mulut yang penuh makanan.


"Hah, elo dihukum kenapa?" Tanya Nabil.


"Lupa bawa papan nama," jawab Sandra.


"Malam ini disiapin apa aja yang mau dibawa besok biar elo nggak kena hukuman lagi." Nabil memberi saran.


"Siap, bos."


...***...


Sementara itu di rumah Alex, Kristal tiba-tiba masuk ke kamar Alex tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kristal putar badan!" perintah Alex karena dirinya hanya memakai handuk yang dililitkan ke pinggangnya.


Kristal menutup matanya dengan telapak tangan. "Hih, bang Alex porno deh," gerutu Kristal.


"Elo yang masuk masin nyelonong aja, ketuk pintu kek," sungut Alex. Alex cepat-cepat mengambil kaos dalam lemarinya. "Ada apa?" Tanya Alex. Kristal membuka matanya.


"Tadi katanya mau cerita kalau abang ketemu kak Sandra dimana?"


"Di kampus," jawab Alex tanpa memandang wajah adiknya. Ia sibuk mengeringkan rambut nya yang basah.


"Hah serius?"


"Iya, dia baru daftar jadi mahasiswi tahun ini," ungkap Alex.


"Yagh, coba dia daftar tahun depan kita kan bisa seangkatan," protes Kristal.


Alex menyentil kening adiknya pelan. "Itu mah maunya elo," ejek Alex.


"Bang, ajak ke sini dong, aku kangen sama kak Sandra," rengek gadis usia tujuh belas tahun tersebut. Alex mengangkat alisnya bersamaan.