My Beloved Partner

My Beloved Partner
96



Jaden yang baru keluar dari ruangannya tak sengaja melihat Dani sedang berbincang dengan keyla.Samar-samar ia mendengar laki-laki itu menyebut nama istrinya.


Ehem


Jaden berdehem untuk menunjukkan keberadaan dirinya."Ada apa ini?" tanya Jaden.


"Saya ingin bertemu dengan pimpinan di sini," terang Dani.


"Sementara ini saya yang memimpin langsung perusahaan ini,"


"What?" Dani seolah tidak percaya dengan omongan Jaden.


"Kenapa ada masalah? Keyla kamu bisa jelaskan peran saya di perusahaan ini!" perintah Jaden pada Keyla yang sekarang menjadi asistennya.


"Pak Jaden adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini,"


"Lalu kenapa posisi Bia bisa digantikan begitu saja,apa anda melarangnya untuk bekerja?" tuduh Dani.


"Darimana anda tahu," tantang Jaden.


"Saya tidak menyangka pemikiran anda sepicik itu, apa anda takut kalau saya bisa kapan saja merebut istri anda?" bisik Dani di telinga Jaden.


Jaden malah tertawa kencang mendengar ancaman Dani."Untuk apa saya takut,apa istri saya mau hidup bersama anda? Saya dan istri saya tidak bisa terpisahkan apalagi sekarang ada anak yang menjadi penghubung cinta kami," Jaden sengaja mengatakan tentang kehamilan Bia agar Dani menjauhinya.


Dani mengepalkan tangannya untuk menahan marah.Ia mengatur nafasnya agar tidak tersulut emosi."Baiklah seperti hari ini saya kurang beruntung, saya permisi dulu. Ia memilih pergi daripada harus berdebat dengan suami mantan pacarnya itu.


...***...


"Bi, mama pulang dulu ya udah sore soalnya besok mama ke sini lagi,"kata mama Ara.


"Gak usah ma, nanti ngrepotin mama Bia takut mama kecapekan kalau harus bolak-balik kesini, lagian Bia bisa ko minta bantuan sama asisten rumah tangga di sini," kata BIa.


"Ya udah jaga kandungan kamu baik-baik, ingat ya gak boleh kecapekan, gak boleh naik turun tangga dan gak boleh makan sembarangan," omelnya.


"Dih, kaya anak kecil aja dilarang ini itu," gerutu Bia sambil mengerucutkan bibirnya.


Setelah itu mama Ara pamit pulang.Ia pulang dijemput supir pribadinya.Tak lama kemudian Jaden tiba di rumah.


"Kak mau kemana?" tegur Bia saat melihat suaminya naik tangga.


"Ke kamar sayang,mau mandi kamu mau ikut?" goda Jaden sambil terkekeh.


"Dih, males udah mandi juga, kamar kita pindah di lantai bawah," terang Bia pada suaminya.


Jaden menuruni tangga."Kok bisa? Kamu sendiri yang mindahin barang-barangnya?" tanya Jaden khawatir.


Bia memutar bola matanya jengah."Ya bukanlah, tadi mama nyuruh orang buat mindahin barang-barang kita yang ada di atas ke lantai bawah.Kata mama biar aku nggak naik turun tangga."


Bia langsung menepis tangan Jaden."Kamu bau,mandi dulu sana,aku mual nyium bau kamu," ucap Bia sambil menutup hidungnya.


Jaden mencium bau badannya sendiri."Ya ampun gak bau-bau amat, ya udah aku mandi dulu ya, kalau mau nyusul aja, aku nggak keberatan," godanya lagi sehingga membuat wajah Bia memerah.


...***...


Di tempat lain Hardian merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.Sang istri terus saja menekannya.


"Bapak, kenapa tidak cari kerjaan, hiduo kita jadi susah gini," gerutu sang istri.


"Mau cari kerjaan dimana bu, umur bapak ini tidak akan diterima kerja di kantor mana pun," kesal Hardian menjawab tuduhan sang istri.


"Bagaimana kalau kita usaha pak," tanya Sang Istri meminta saran padanya.


"Modalnya darimana bu, kau tahu sendiri uang tabungan kita sudah habis, hutang saja kita tidak bisa melunasinya kalau bukan Julian yang membantu."


"Kalau gitu mintalah pekerjaan di kantornya pak, minta jabatan yang tinggi di sana!" usul istrinya itu.


"Aku tidak mau,mereka akan memandang rendah diriku karena mengemis pada mereka," sungut Hardian menjawab paksaan istrinya itu.


Kemudian laki-laki itu keluar dengan membawa motornya.Ia berhenti di depan kediaman Darren.Diam-diam ia mengamati rumah itu.


...***...


"Dad rencananya aku akan pindah ke rumah baru," kata Julian menyampaikan keinginannya pada sang ayah.


"Hei ada apa denganmu? Kau mau memisahkan aku dan cucuku hm?" tuduh Darren yang tak rela berpisah dengan Sovia yang sedang lucu-lucunya.


"Bukan begitu dad, kami hanya ingin mandiri," kata Julian menerangkan.


"Biilang aja kalian tidak ingin privasi kalian terganggu," sahut mom Celine.


"Salah satunya juga itu mom," seru Julian.


"Dasar anak kurang ajar, bagaimana denganmu Raina apa kau setuju pindah ke rumah baru?" tanya Celine.


"Aku ikut apa kata suami saja ma," jawab Raina dengan suara yang lembut.


"God job sayang," Julian mengelus kepala Raina sayang.


"Oh iya nanti kita adakan syukuran rumah baru sekalian syukuran kehamilannya Bia," kata mom Celine.


"Ide bagus mom," Raina setuju dengan usulan ibu mertuanya itu.