
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB Jaden sudah mulai resah karena saat itu waktunya untuk menjemput Bia sang kekasih.
"Bang meetingnya bisa dilanjutin nanti gak habis jam makan siang, laper nih gue butuh makan." Jaden mengusap perutnya yang rata.
"Oke kita makan siang dulu." Julian menutup laptopnya.
Jaden segera melangkahkan kakinya keluar. Julian hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah adiknya.
"Jaden akhir-akhir ini aneh," kata Ruby.
"Dia selalu aneh kalau urusan sama cewek," jawab Julian.
"Kali ini siapa lagi yang jadi korbannya?" Goda Ruby diiringi gelak tawa keduanya.
Sementara itu Jaden yang melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke parkiran segera masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin lalu tancap gas untuk menjemput Bia di kampus.
Saat ia berhenti di taman tempat biasa Bia menunggu dirinya, Jaden tidak melihat siapa pun. Lalu ia putuskan untuk menghubungi ponsel Bia. Sayangnya yang menjawab hanya operator.
Lalu Jaden turun dari mobil dan mencoba bertanya pada salah seorang mahasiswi yang lewat.
"Kalian kenal Berlian gak?" Tanya Jaden.
"Oh aku tadi lihat dia di kantin bareng Keyla," kata mahasiswi yang mengenal Bia saat itu.
Setelah mengetahui keberadaan kekasihnya. Jaden akan mendekat namun urung ia lakukan saat Bia sedang terlihat adu mulut dengan temannya.
"Eh ada sobat misqueen," ejek gadis itu pada Bia.
"Elo ingat gak pas dia gak bisa bayar uang makan di restoran bintang lima itu denger-denger dia disuruh cuci piring girl pas tahu dia gak bisa bayar tagihan," ejeknya lagi seraya tertawa nyaring.
Bia mengepalkan tangannya karena menahan marah. Bia memicingkan matanya. Namun dia berusaha bersikap biasa agar tidak terpancing oleh omongan tak penting itu.
"Mau kemana lo Bi malu ya karena gak bisa bayar jajanan di kantin." Teman Bia terus mengejeknya hingga membuat kesabaran Bia habis. Namun belum sempat dia memarahi mereka Jaden datang. Laki-laki itu merasa kasian dengan kekasihnya yang terus dihina tapi sama sekali tidak membalasnya.
"Hemfh kalian tidak tahu diri baru sekali Berlian tidak bisa mentraktir kalian langsung menghinanya, bahkan kalian tega meninggalkan Bia saat dirinya butuh bantuan, teman macam apa kalian?" Ucap Jaden dengan penuh penekanan.
Jaden menarik tangan Bia lalu membawanya pergi. Keyla masih diam di tempat. Mulutnya menganga tak percaya mendengar pembelaan dari Jaden. "Sumpah keren banget cowoknya Bia," puji Keyla.
"Lepasin," Bia membuang tangan Jaden.
"Harusnya kamu biarkan aku yang menghina mereka tadi," protes Bia pada Jaden.
Jaden menahan tawanya. "Kalau kamu ingin marah marah aja kenapa tadi tidak langsung membalas omongan mereka."
Bia mengerucutkan bibirnya. Jaden jadi tak tahan melihatnya akhirnya Jaden mengecup bibir Bia pelan. "Lain kali bibirnya jangan begitu, mancing ya?"
"Ih dasar mesum," protes Bia. Ia menghentakkan kakinya ke tanah lalu berjalan lebih dulu. Wajahnya bersemu merah.
"Bi mobil aku bukan di sana," teriak Jaden tapi Bia tidak menghiraukannya.
"Ah sial," Jaden lalu masuk ke dalam mobil dan menyusul Bia.
Tin tin
"Masuk beb, ayo aku anterin kamu pulang," ajaknya sambil menyetir mobil. Mengikuti Bia secara perlahan.
⚡Duar
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Bia menoleh ke kanan kiri tidak ada tempat berteduh di sepanjang trotoar itu. Mau tak mau ia masuk ke dalam mobil Jaden.
Namun sedetik kemudian Bia mengerjapkan mata saat Jaden memanggil namanya. Bia pun menerima handuk pemberian kekasihnya itu."Terima kasih," ucapnya lirih.
"Kita mau langsung pulang atau mampir dulu beb?" Tanya Jaden dengan nada lembut.
"Langsung pulang aja," jawab Bia.
Jaden mengangguk mengerti.Kemudian melajukan mesinnya dengan kecepatan sedang karena jalanan saat itu sedang licin. Saat Jaden menoleh ke arah Bia, gadis itu tengah tertidur.
Baju Bia yang basah membuat bagian dadaa nya menonjol. Jaden jadi susah menelan ludahnya. Lalu ia menepikan mobilnya kemudian membuka jas yang ia pakai setelah itu ia gunakan untuk menyelimuti badan Bia yang basah.
Jaden tersenyum saat melihat wajah polosnya yang cantik tanpa polesan make up. Ia tak tahan untuk tidak mencicipi bibir ranum itu. Jaden mencium bibir Bia dengan lembut tanpa membuat pemiliknya bangun.
Setelah itu ia kembali melaju ke jalanan aspal menuju rumah Bia. Sesampainya di halaman rumah Jaden membangunkan kekasihnya itu. "Beb bangun sudah sampai," Jaden sedikit menggoyang tubuh ramping itu agar ia terbangun.
Bia mengerjapkan matanya. Saat ia terbangun jas milik Jaden sudah menutupi badannya. "Jas kamu??"
"Pakai aja dulu baju kamu basah," Bia pun mengangguk. Untuk kesekian kalinya hatinya berdesir mendapatkan perlakuan manis dari sang kekasih. Wajahnya menjadi merona. Ia pun melipat bibirnya ke dalam untuk menyembunyikan senyum bahagianya.
Jaden keluar terlebih dulu lalu memutari mobil untuk membukakan pintu. Perlahan Bia turun dari mobil. "Makasih," kata Bia sambil tersenyum manis pada Jaden. Jaden pun membalas senyuman Bia.
"Aku masuk dulu ya," pamit Bia. Jaden mengangguk.
"Bi kamu kehujanan?" Tanya Ara melihat baju putrinya basah kuyup. Ara mengerutkan keningnya saat melihat Bia memakai jas seorang pria.
"Iya ma, Bia mandi dulu ya ma," pamit Bia pada ibunya lalu menaiki tangga.
"Mandi pakai air hangat Bi biar kamu gak kena flu," teriak Ara.
"Pakai jas siapa dia, masa pakai jas papanya," gumam Ara lalu melangkahkan kakinya keluar untuk melihat apakah sang suami datang bersama Bia. Namun, Ara tak menemukan suaminya.
"Kalau bukan milik papanya berarti itu jas milik..." Ara menjeda perkataannya. Ia tersenyum-senyum sendiri.
"Assalamualaikum ma." Rasya memberi salam ketika baru sampai.
Ara mengamati suaminya yang pulang masih dengan setelan jas yang lengkap. Rasya heran melihat istrinya yang mengamati dirinya begitu intens. Ia pun merasa aneh lalu melihat ke dirinya sendiri.
"Ada apa sih ma? Baju papa ada yang kotor ya?" tanya Rasya bingung.
"Enggak papa Pa, mama cuma ingat pas Bia pulang tadi dia pakai jas cowok buat nyelimutin bajunya yang basah, aku kira itu jas papa, eh ternyata jas papa masih terpakai," terang Ara.
"Mungkin saja itu punya Jaden yang ia pinjamkan," tebak Rasya.
"Oh ya dia kerja apa sih? papa sudah cari tahu?"tanya Ara pada suaminya.
"Dia anak pemilik hotel Danz Smith," jawab Rasya.
"Hotel bintang lima yang di seberang kampus Bia itu?" tanya Ara memastikan.
"Iya, kamu tahu siapa ibunya?" Tanya Rasya. Ara menggeleng.
"Tentu saja aku belum kenal."
"Dia adalah pemilik restoran ayam geprek langganan kamu," kata Rasya.
"Ya ampun aku akan berbesanan dengan Mbak Celine." Ara nampak bahagia. Rasya memutar bola matanya jengah melihat ekspresi istrinya yang berlebihan.