
"Nama kamu siapa?" tanya Bia saat berada di dalam mobil.
"Saya Banu," jawab anak laki-laki itu pelan. Ia sedikit takut.
"Jangan takut. Arahkan kami ke rumahmu, kami akan mengantarmu pulang," sahut Jaden sembari menoleh ke belakang.
Banu pun mengikuti instruksi Jaden. Setelah itu Jaden menepikan mobilnya di sebuah perkampungan. Rupanya rumah Banu melewati gang sempit sehingga Jaden dan Bia harus berjalan lebih dulu untuk sampai ke rumah Banu.
"Ibu," Banu berlari menghampiri seorang wanita yang tengah hamil tua.
Wanita tersebut memeluk Banu. Lalu ia melihat ke arah Bia dan Jaden. Bia mendekat seraya tersenyum pada ibunya Banu.
"Perkenalkan saya Berlian dan ini suami saya, kami tidak sengaja bertemu Banu di tempat pengisian bahan bakar," kata Bia dengan lembut.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya pulang. Saya Arum, ibunya Banu," Arum memperkenalkan diri.
"Silahkan duduk,maaf rumah kami sederhana," kata Arum merendah.
"Tidak apa Bu," jawab Bia.
"Ayah Banu kemana?" tanya Bia yang tak melihat siapapun selain Banu dan ibunya di rumah itu.
"Suami saya tidak tahu pergi kemana, dia meninggalkan kami sejak dua bulan yang lalu," kata Arum. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi.
"Ibu jangan nangis," kata Banu menenangkan ibunya agar tidak lagi bersedih.Ia juga mengusap air mata yang mengalir di pipi ibunya. Arum tersenyum pada anaknya.
Bia merasa tercubit hatinya saat melihat penderitaan yang dialami Banu dan ibunya. Sungguh nasibnya lebih beruntung dibanding Arum yang harus ditinggal suaminya saat wanita itu mendekati persalinan.
"Berapa lama lagi ibu akan melahirkan?" tanya Bia.
"Mungkin sekitar sebulan lagi, saya tidak pernah memeriksakan kehamilan saya di bidan ataupun dokter jadi saya tidak tahu pasti tanggal kelahiran anak yang sedang saya kandung.Kami tidak punya biaya untuk itu, makan saja kami susah, bahkan lebih sering berhutang di warung," kata Arum berterus terang. Ia mencoba tegar di depan Banu.
"Kak," Bia menengadahkan tangan kanannya pada Jaden.
"Apa?" Jaden tidak mengerti maksud istrinya itu.
"Uang cash," bisik Bia.Jaden menggelengkan kepalanya. Suami Bia pun mengeluarkan dompetnya. Namun Bia langsung merebut dompet milik Jaden. "Kelamaan," protes Bia.
Ia pun mengambil sepuluh lembar uang lembaran warna merah.
"Bu, ini sedikit uang untuk ibu, semoga uang ini bisa membantu anda menyukupi kebutuhan sehari-hari," Bia menyerahkan uang itu pada Arum.
"Saya tidak berhak menerima uang sebanyak ini nona," tolak Arum secara halus.
"Tidak apa bu, kami ikhlas," sahut Jaden. Bia mengangguk pelan membenarkan ucapan suaminya.
"Terima kasih," ucap Arum sambil menitikkan air mata dan menggenggam uang yang diberikan Bia.Ia merasa terharu akan kebaikan sepasang suami istri itu.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Bia. Ia memeluk Arum dan menepuk punggungnya pelan untuk menguatkan perempuan yang sedang hamil besar itu.
"Banu om pamit ya," kata Jaden pada anak kecil berusia sepuluh tahunan itu.
Jaden dan Bia pun keluar dari rumah Arum dan berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir.
"Seenaknya saja parkir di depan rumah orang," umpat laki-laki paruh baya yang sedang berkacak pinggang di samping mobil milik Jaden.
"Maaf jika mobil saya menghalangi jalan," suara berat itu membuat laki-laki paruh baya tersebut menoleh.
"Rupanya anda pemilik mobil ini, singkirkan mobil anda mobil saya mau lewat," kata laki-laki sombong tersebut.
"Anda mengejek saya nona? asal kamu tahu saja orang terkaya di kampung ini,jadi wajar kalau saya bersikap sombong," kata laki-laki tua itu dengan percaya diri.
Laki-laki itu memindai penampilan Bia dan Jaden lalu memberikan komentarnya."Hm pakai setelan jas seperti sales keliling, paling mobil itu hanya pinjaman kantornya,"batin laki-laki tua itu.
"Aku tahu kalian hanya kacung kampret yang bekerja di perusahaan," tebak laki-laki tersebut.
Bia mengepalkan tangannya menahan marah. Ingin sekali ia menampar mulut laki-laki tua itu namun Jaden menahannya. Ia membawa Bia masuk ke dalam mobil.
Lalu seorang gadis turun dari sebuah taxi online. "Ada apa ini yah?" tanya gadis yang menggendong tas dan membawa buku di tangannya.
"Bu bos," sapa supir taxi online yang baru turun dari mobilnya.Bia mengangguk dari dalam mobil. Jaden segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Laki-laki yang sombong tadi heran saat Bia dipanggil Bu bos oleh supir taxi online tersebut.
"Cih, emangnya bos apaan?" cibir laki-laki paruh baya tersebut.Sang supir taxi online itu menggelengkan kepalanya melihat sikap sombong laki-laki di hadapannya itu.
"Beliau itu bos di perusahaan tempat saya bekerja pak," terang supir itu saat mendengar atasannya diremehkan.
"Maksudnya bagaimana?" tanya laki-laki itu tidak mengerti.
"Iya, jadi beliau itu anak yang punya perusahaan ojek online terbesar di negeri ini," kata supir itu menjelaskan pada laki-laki sombong tersebut.
Laki-laki sombong itu pun melotot mendengar penjelasan sang supir yang mengantar anaknya. Bahunya pun meluruh.
"Makanya pa kalau jangan suka merendahkan orang lain, bisa jadi orang yang kita remehkan lebih hebat dari kita sendiri," kata anak perempuannya menasehati.
Sesampainya di rumah Bia tak segera turun namun malah melamun di dalam mobil. Jaden heran melihat istrinya itu yang tidak juga melepas sabuk pengamannya.
"Sayang kamu mikirin apa?" tanya Jaden seraya mengusap wajah istrinya yang terlihat sendu.
"Aku hanya kasian mengingat Banu dan ibunya yang sedang hamil besar tadi, nasibku jauh lebih beruntung dibanding ibunya Banu,kasian sekali mereka," ucap Bia sambil terisak.
Jaden mengusap lembut pipi iatrinya yang basah."Jangan berfikir yang macam-macam sayang, ingat kau sedang hamil," kata Jaden menasehati istrinya.
"Justru itu aku takut kalau kakak akan meninggalkan aku seperti ayah Banu yang tega meninggalkan istrinya saat hamil besar," Jaden malah terkekeh mendengar celotehan Bia.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, apa kamu lupa siapa yang meninggalkan siapa?" sindir Jaden yang mengingat saat Bia sempat kabur ke Jerman ketika Jaden memintanya menikah.
"Maafkan aku," ucap Bia dengan penuh penyesalan di wajahnya.
"Aku tidak akan memaafkanmu," goda Jaden.Bia kaget."Asal..." Jaden menjeda omongannya.
"Asal apa?" tanya Bia tidak mengerti.
"Asal kau memberikan servis yang memuaskan," bisik Jaden diiringi gelak tawa.
Jaden pun keluar dari mobil dan meninggalkan Bia. Bia jadi kesal. Ia menghentakkan kakinya kemudian berjalan cepat mengikuti suaminya masuk.
"Tunggu,apa kau tidak mau menerima servisku malam ini,"Jaden pun menghentikan langkahnya lalu menoleh. Bia berjalan melewati suaminya yang terpaku di tempatnya. Ia segera menyusul sang istri.
***
Mohon maaf untuk adegan aye-aye bisa dibayangin sendiri ya. Aothor libur nulis adegan hot selama puasa hehe
Jadikan novel ini sebagai favorit kalian ya pliiss bestie because you are my beloved readers.