My Beloved Partner

My Beloved Partner
135



"Al gue turun sini aja," kata Sandra.


Al menepikan mobilnya. "Emang rumah lo di sini?" Tanya Al sambil melihat ke sekelilingnya.


"Bukan, tapi rumah gue udah deket, masuk gang jadi elo nggak bisa bawa mobil lo masuk," bohong Sandra. Ia tak mau Al mengetahui dimana rumahnya. Sandra tidak ingin suatu hari Alex main ke rumahnya.


"Ya udah," kata Al pasrah.


"Makasih ya elo udah nganterin gue, lain kali gue bisa pulang naik ojek," kata Sandra sambil melepas sabuk pengamannya.


"Ojek? Tadi elo bilang sama nyokap gue pas mau pulang katanya mau naik taksi," kata Al yang bingung.


"Oh itu, gue bohong, gue nggak mau aja kalau nyokap lo nggak ngebolehin elo berteman sama orang miskin kaya gue," lagi-lagi Sandra berbohong. Ia tak mau Alex tahu kalau dia anak orang kaya. Ia lebih senang kalau Alex mau berteman dengannya tanpa memandang status.


"Elo tenang aja, nyokap gue nggak mandang status kok, dia baik."


"Iya, gue percaya. Udah balik sono!" Sandra mengusir Alex. Tanpa menjawab Alex langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


"Dasar cowok sinting," umpat Sandra yang kesal.


Lalu dia berjalan beberapa langkah memasuki ke gerbang rumahnya yang menjulang tinggi.


"Eh non sudah pulang," sapa mbok Darmi, asisten rumah tangga di rumah Sandra.


"Mama sama papa ada di rumah?" Tanya Sandra.


"Mereka belum pulang, Non. Mungkin sebentar lagi," prediksi mbok Darmi.


"Ya udah aku masuk dulu ya, Mbok." Sandra pun naik ke atas. Ia merasa lega orang tuanya belum pulang. Karena kalau sampai mamanya sampai tahu ia tidak langsung pulang, Chloe akan memarahinya.


"Hii, gue ngeri sendiri mama marahin gue, syukur mereka belum pada balik," gumam Sandra seorang diri.


Sandra masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian ia telah berganti pakaian lalu turun ke bawah. "Mbok, hari ini masak apa? Aku lapar," kata Sandra dengan manja pada mbok Darmi.


Mbok Darmi memang sudah Sandra anggap seperti ibu kandungnya. Mbok Darmi bahkan lebih sayang dari pada mamanya sendiri. Sandra anak tunggal tapi tidak pernah mendapat kasih sayang utuh dari mamanya. Ia diperlakukan seperti anak tiri. Hanya dengan Mbok Darmilah ia selalu merasa terlindungi.


"Masak ayam kecap kesukaan eneng," jawab Mbok Darmi.


"Terima kasih, Mbok." Sandra memeluk Mbok Darmi sayang.


"Sandra." Suara teriakan itu terdengar sangat jelas di telinga Sandra dan Mbok Darmi.


Chloe mendekat. "Darimana saja kamu, kenapa kamu jam segini baru mau makan? Apa kamu kelayapan sepulang sekolah?" Cecar Chloe.


"Benar, Bu." Mbok Darmi membetulkan omongan Sandra. Ia percaya anak majikannya itu tidak berbohong meski Sandra tidak memberi tahu dimana ia mengerjakan PR.


"Ya sudah, mama masuk dulu." Chloe merendahkan nada bicaranya. Sandra mengangguk.


Gadis itu merasa lega bisa memberi alasan yang tepat pada ibunya. "Hampir saja ketahuan," bisik Sandra di dekat Mbok Darmi.


"Iya," jawab Mbok Darmi sambil terkekeh. Setelah itu Sandra mengambil nasi lalu menambahkan ayam kecap kesukaannya.


...***...


Alex sampai di rumahnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil menimang kunci mobilnya.


"Cie, yang habis nganterin pacar," ledek Berlian.


"Ihk, mama apaan sih." Wajah Alex terlihat memerah karena menahan malu.


"Masih kecil jangan kebanyakan pacaran. Sekolah aja yang bener!" Suara berat itu membuat Alex dan Berlian menoleh.


"Tumben pulang cepat?" Tanya Berlian pada suaminya.


"Aku sebenernya pengen lihat sih seperti apa calon pacar anakku," kata Jaden.


"Hah, abang punya pacar?" Kini giliran suara cempreng Kristal yang mendominasi.


"Heh, anak kecil kepo," cibir Alex.


"Kenalin dong, Bang," rengek Kristal. "By the way orangnya cantik nggak? Kalau nggak cantik nggak enak buat dipamerin." Bisik Kristal di telinga kakaknya.


"Dia hanya teman," sangkal Al. Memang mereka hanya berteman saat ini tapi tidak ada yang tahu besok yang akan terjadi.


Alex memilih masuk daripada meladeni omongan keluarganya. Setelah itu ia merebahkan diri di atas kasur. Ia menutup matanya dengan siku. Sekelebat bayangan Sandra yang sedang tersenyum hinggap di benaknya. Alex ikut tersenyum.


...***...


Keesokan harinya Al mampir ke sebuah tempat untuk memberikan sarapan pada anak-anak di pinggir jalan seperti biasa. Itulah yang menyebabkan Alex terlambat datang ke sekolah. Karena ia tidak langsung berangkat setelah memberikan makanan melainkan mengobrol lebih dulu dengan anak-anak kecil itu.


Tapi ketika dia akan memberikan makanan, Alex melihat seorang gadis berseragam SMA yang ditutupi sweater sedang mengobrol dengan anak-anak itu.


Namun, Alex tidak bisa melihatnya karena ia berdiri membelakangi Alex. Sesaat kemudian ia mengibaskan rambutnya. "Sandra," gumam Alex. Ia tersenyum lebar.


Alex dengan percaya diri berjalan mendekati Sandra. "Sandra," panggil Alex. Gadis itu pun menoleh ke sumber suara.