My Beloved Partner

My Beloved Partner
11



Saat Ara melihat teriakan Bia Ara memasuki kamar putrinya. karena khawatir. "Ada apa sayang?" Tanya Ara saat Bia tiba-tiba berhambur ke pelukannya.


"Jaden, Ma," ucap Bia sambil terisak.


"Kenapa dengan Jaden? Apa dia berselingkuh?" Tebak Ara.


Bia melonggarkan pelukannya."Bagaimana mama tahu?" Tanya Bia.


"Mama cuma menebak," ucapnya pada Bia.


"Aku benci ma sama Jaden, mulai besok aku gak mau diantar jemput sama dia." Bia kembali mengeluarkan air mata.


Ara hanya bisa memberi dukungan dengan memeluk anaknya. Ia menemani Bia sampai Bia tertidur pulas. Setelah itu, Ara menutup pintu kamar Bia perlahan.


Setelah mamanya menutup pintu Bia bangun lalu mengambil ponsel di atas nakas. Ia pun memencet nomor yang ia tuju.


"Curhat dong ma," katanya pada seseorang di seberang telepon.


"Apaan, berasa tua gue lo panggil mama," protes Keyla.


"Key, kalau cowok lo selingkuh lo mesti gimana Key?" Tanya Bia.


"Tinggalin lah, minta putus," jawab Keyla cepat.


"Dih kagak ngasih solusi lo," cibir Bia.


"Cari tahu dia selingkuh karena apa? elo gak cantik lagi, atau dia menemukan wanita yang lebih cantik daripada elo, atau bisa alasan yang lain," ucap Keyla sok pengalaman.


"Misalnya apa Key?"


"Meneketehe, elo kurang perhatian kali sama pasangan lo, lo ingat-ingat lagi deh kapan elo ngasih surprise buat dia, pernah ngasih kado gak?" Bia menggeleng.


"Bi elo masih di situ kan?' tanya Keyla karena Bia tidak bersuara.


"Elo bener Key, gue gak pernah ngasih dia apa-apa, bahkan cinta yang gak perlu dibeli pakai uang pun belum gue kasih ke dia," ucap Bia dengan sedikit penyesalan.


"Terus gue mesti gimana Key?"


"Ck, elo kebanyakan nanya deh gue ngantuk nih," geram Keyla karena waktu istirahatnya terganggu. Namun, pada akhirnya ia memberi saran. "Samperin terus bicarakan masalah kalian baik-baik ogeb," umpat Keyla saking kesalnya pada Bia yang tidak mengerti sama sekali soal percintaan.


"Thanks ya Key udah ngasih banyak saran sama gue, kecil-kecil berisi juga otak lo," balas Bia tapi temennya itu sepertinya sudah terlelap.


...***...


"Bia kenapa ma?" Tanya Rasya yang sudah berada di belakang Ara hingga membuat istrinya itu terkaget.


"Kita bicara di kamar saja pa" ajak Ara sambil menggandeng lengan suaminya.


"Katanya dia melihat Jaden selingkuh pa," Ara mengadu pada Rasya.


Rasya mengerutkan keningnya. "Beraninya dia mengkhianati putriku," geram Rasya.


"Jangan emosi dulu pa, kita tanyakan padanya besok," Ara mencoba meredam emosi suaminya.


Keesokan harinya Jaden memberanikan diri datang ke rumah Bia seperti biasa untuk menjemput gadis itu.


"Pagi om," sapa Jaden pada Rasya.


"Jaden kita perlu bicara," kata Rasya dengan ekspresi datar tak seperti biasanya. Jaden mengangguk lalu Rasya mengajak Jaden untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"Benarkah kamu berselingkuh?" Tanya Rasya to the point.


Jaden menghembuskan nafasnya kasar. "Maafkan saya om, saya berbuat itu semata-mata untuk membuat Berlian cemburu," jujur Jaden.


"Saya tahu saya salah, oleh karena itu saya ingin meminta maaf pada Berlian," imbuhnya.


"Kamu gak perlu minta maaf," sahut Bia.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu karena aku tidak mengakui kamu kekasihku di depan temanku."


Jaden berdiri dan menghampiri Bia. Laki-laki itu juga meraih tangan Bia dan menggenggamnya. "Bi, aku tidak berniat selingkuh dari kamu, maafkan aku," ucap Jaden dengan penuh penyesalan.


Meski berat karena Jaden telah membuat Bia kecewa, namun gadis itu tetap memaafkannya. Walau hatinya masih sedikit nyeri mengingat Jaden mencium wanita lain.


Haih sudah baper malah Bia ngerusak suasana. Jaden pun tersenyum. Kini di antara keduanya tidak lagi saling membenci.Rasya merasa lega keduanya kembali akur. Sejujurnya Rasya tidak mungkin salah menilai laki-laki yang ingin mendekati putrinya. Kalaulah dia hanya ingin menyakitinya tak mungkin dari awal meminta izin segala kepadanya.


"Aku janji aku akan belajar mencintai kamu Jaden," ucapnya dalam hati setelah mendapatkan pencerahan dari sang guru.


Jaden dan Bia berpamitan pada Rasya. Mereka berangkat menggunakan mobil Jaden.


"Syukurlah masalah ini sudah selesai," batin Jaden yang merasa lega.


"Aku janji beb aku gak akan ngecewain kamu lagi," ucap Jaden seraya mengecup tangan Bia. Bia pun mengangguk mengerti.


Setelah tiga puluh menit membelah jalanan dengan supercar miliknya, mereka sampai di depan kampus Bia.


"Pulang kampus nanti aku jemput lagi ya," kata Jaden sebelum pergi.


"Iya ya udah sana, hati-hati ya," perkataan Bia membuat hati Jaden berdesir pasalnya selama dua bulan berpacaran baru kali ini gadis itu memberikan perhatian.


Tak lupa Bia melambaikan tangan ke arah kekasihnya.


"Cie cie yang udah balikan sama mantan," sindir Keyla yang baru datang.


"Gue belum putus kali sama dia," jawab Bia.


"Thanks ya Key karena lo gue bisa baikan sama Jaden," Bia memeluk sahabatnya itu.


"Traktirannya Bu jangan lupa," pinta Keyla.


"Gue kan gak baru jadian, berasa tua gue lo panggil gue ibu," geram Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Oh iya gue lupa elo masih jadi sobat misqueen," ejek Keyla.


"Shiiiit bocah ngejek gue," Bia mengejar Keyla karena kesal. Alhasil mereka kejar-kejaran seperti anak kecil.


...***...


Di tempat lain, Jaden baru turun dari mobilnya. Ia sangat bahagia karena sudah mendapatkan maaf dari Bia kekasihnya.


Julian yang juga baru sampai lalu menyamakan langkah dengan saudara kembarnya.


"Elo kelihatan ceria banget pagi ini, kaya anak ABG lagi jatuh cinta," ejek Julian.


"Emang," jawab Jaden sekenanya.


Keduanya memasuki lift yang kebetulan saat itu sedang sepi.


"Cerita dong ke gue!" Rengek Julian seraya menekan tombol lift.


"Kepo lo, makanya cari pacar," ejek Jaden pada kakaknya.


Julian memicingkan matanya. "Gue cuma belum menemukan wanita yang tepat," jawab Julian


"Cih elo terlalu pemilih, dengerin kata gue kalau elo naksir cewek tapi elo cuma liat mereka dari jauh, elo bodoh karena gak manfaatin kesempatan yang ada," terang Jaden.


"Gue punya cara yang beda buat milih jodoh gue, elo gak usah repot mikirin abang lo ini," Julian menonyor kepala adiknya.


"Dasar kakak durjana, selalu main kekerasan," umpat Jaden.


Ting


Ruby yang saat itu melihat pertengkaran kakak adik itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak heran dengan pemandangan di depannya. Pasalnya mereka bertiga tumbuh bersama sejak kecil.


"Kalian sudah dewasa tapi sikap kalian seperti anak kecil," cibir Ruby.


Jaden dan Julian keluar dari lift. Keduanya sama-sama tertawa. "Itu sudah biasa bukan," kata Jaden.


"Aku tidak heran kalau tidak ada cewek yang mau sama kalian," Jaden dan Julian saling berpandangan mendengar ucapan Ruby setelah itu tergelak.


"Kamu mengejek kami tapi kami sendiri juga jomblo," ejek balik Julian pada Ruby.


"Ah sudahlah jangan bercanda terus, kalian harus memeriksa proyek pembangunan hotel baru kita," sanggah Ruby saat dirinya dipojokkan.