
Keesokan harinya
"Sayang nanti sore jangan lupa ya kita ke butik buat fitting baju," Ara mengingatkan.
Bia memutar bola matanya jengah."Gak janji deh ma," batin Bia.
Malas sekali setelah acara memilih cincin kemaren kini dia harus fitting baju pengantin pula. Dan dia tahu itu akan memakan waktu yang tidak sebentar. Pikirnya.
"Iya ma," jawab Bia malas.
"Makannya yang banyak biar bayimu tidak kelaparan seperti kemaren,"
"Papa Rasya kemana ma?" tanya Bia yang tidak melihat papanya sarapan.
"Papa bertolak ke Jerman tadi pagi besok juga pulang, papa harus menyampaikan kabar gembira bahwa kalian akan menikah," kata Ara.Bia hanya manggut-manggut.
Setelah menyelesaikan sarapannya Bia pamit ke kantor. Saat jam makan siang ia ingin makan sesuatu.
"Ngajak Keyla seru kali ya," Bia pun menekan tombol di layar ponselnya untuk menghubungi Keyla.
"Tumben-tumbenan nelpon gue," kata Keyla.
"Key lo mau gak gue traktir?" kata Bia sambil menahan senyumnya.
"Okeh makan dimana kita?" tanya Keyla.
Tak lama kemudian setelah Bia menjemput Keyka dari kampus ia membawa Keyla berhenti di depan SD.
"Ko kita berhenti di sini Bi?" tanya Keyla yang bingung. Ia memindai di sekitar situ tidak ada restoran.
"Ya iyalah gue pengen makan cilok," kata Bia bersemangat.
"Dasar biawak kalau aja lo gak hamil mana mau gue jajan di sini," umpat Bia. Untung Bia sudah keluar terlebih dulu sehingga tidak mendengar umpatannya.
"Cobain Key," Bia menyodorkan cilok yang telah dia beli.Keyla memakannya. "Enak juga ni jajanan,"
Seakan mendengar isi hati Keyla, Bia berkata," tu kan bener enak," ledek Bia.
"Iya Bi, gue kira anak sultan gak doyan ginian," cibir Keyla pada sahabatnya.
Di tengah jalan sebuah mobil berhenti di samping gadis-gadis itu. Tampak seorang laki-laki yang keluar dari dalam mobil dengan setelan jas lengkap.
"Berlian?" panggil laki-laki itu.Bia menoleh begitu pun Keyla.
"Eh om," Bia tersenyum ramah pada Darren.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Darren.
"Ini," Bia mengangkat kotak sterofoam kecil pembungkus cilok.
Melihat itu Darren terkekeh. Mungkin calon menantunya itu sedang nyidam, pikirnya.
"Kenapa kamu harus antri, mau om bayar semuanya, sama yang jual sekalian mungkin," perkataan Darren membuat ketiganya tergelak.
"Gila sultan emang beda," batin Keyla yang kagum dengan kekayaan Darren.
"Gak perlu om," kata Bia. Darren menyela," panggil saja daddy," titah Darren.
"Kami sudah kenyang dad, kami permisi," pamit Bia dengan sopan. Darren mengangguk. Kemudian Keyla dan Bia memasuki mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Darren melihat kagum pada Bia yang begitu sederhana. Hanya makan jajan pinggir jalan yang tak seberapa harganya sudah membuat Bia senang.
Setelah itu Darren tiba di hotel J&B milik anak bungsunya,Jaden.
"Kau tahu dengan siapa aku bertemu siang ini?" Darren meminta Jaden untuk menebak.
Jaden menggedikkan bahunya. "Dengan mantan kekasih daddy??" goda Jaden namun malah mendapat lemparan pulpen dari daddynya.
"Sembarangan kalau ngomong, daddy ketemu calon mantu daddy," kata Darren seraya mengembangkan senyum di wajahnya.
"Lagi di depan SD," jawaban Darren membuat Jaden berfikir keras.
"Apa mungkin dia nyidam makanan pinggir jalan dad?" tebak Jaden langsung mendapat acungan jempol daddynya.
"Jenius, daddy gak habis pikir Berlian mau makan makanan rakyat itu, daddy jadi penasaran bagaimana rasanya,"
"Besok Jaden bawain dad kalau perlu Jaden beli sama yang jual sekalian," Darren jadi mengernyit heran bagaimana bisa Jaden meniru omongannya ketika bertemu Bia tadi.
Drrt drrt
Dilihat layar ponselnya, tertulis nama ibu mertua di sana. Jaden segera mengangkat telepon.
"Nak, cepatlah kemari ajak Berlian untuk fitting baju pengantin," kata Ara dari ujung telepon.
"Baik ma," jawab Jaden
Kemudian Jaden berpamitan pada daddynya sebelum meninggalkan kantor. Tapi dia ingin memberi kejutan pada calon istrinya itu.
Jaden melepas jasnya lalu menggantinya dengan jaket jins warna hitam ala anak muda zaman sekarang. Penampilannya sudah seperti oppa-oppa Korea. Sungguh wanita mana oun yang melihat Jaden akan langsung terpesona dengan ketampanannya.
Tin tin
Jaden membunyikan klakson motornya saat mendekati Bia dan Keyla yang baru keluar dari kafe milik orang tua Keyla.
Bia membelalakkan matanya saat ia melihat motornya itu dikendarai oleh seseorang. Lalu siapakah laki-laki itu, Bia jadi penasaran.
Saat Jaden melepas helm full face miliknya. Bia kaget tapi Keyla malah bereaksi lebih dulu.
"Oppa saranghae," kata Keyla yang berlari ke arah Jaden lalu menautkan ibu jari dan jari telunjuknya.
Bia memutar bola matanya jengah melihat sikap Keyla. Apalagi saat Jaden tersenyum pada sahabatnya itu, Bia rasanya berapi-api.
"Sayang," panggil Jaden dengan lembut pada Bia.
Bia yang tampak melamun kemudian mengedipkan matanya beberapa kali.
"Ngapain kamu ke sini bawa motorku?" tanya Bia sambil melirik motor kesayangannya yang belum dikembalikan Jaden sejak Keyla menyuruhnya membawa pulang saat Bia terjatuh dari motor.
"Agh aku kangen sama kamu," Bia lalu mendekat ke motor sport miliknya lalu ia mengelus sayang motor itu. Jaden menghela nafasnya. Bagaimana bisa calon istrinya itu lebih sayang pada motornya dari pada dirinya.
"Sayang aku ingin menjemputmu, mama menyuruh kita fitting baju," kata Jaden.
"Oh iya aku lupa, baiklah ayo," ajak Bia bersemangat.
"Key elo ikut gue, bawa mobil gue oke," Bia melempar kunci mobilnya pada Keyla. Untungnya Keyla dengan sigap menangkapnya.
"Lah ko gue ikut?" protes Keyla.
"Siapa tahu nyokap butuh lo buat bawain baju-baju gue dari butik," canda Bia sambil menaiki motor di belakang Jaden.
"Sayang apa kamu mau sedekah paha?" protes Jaden melihat Bia yang memakai rok di atas lutut.
Lalu ua melepas jaketnya untuk menutupi paha Bia. Wajah Bia jadi merah merona mendapat perhatian dari Jaden.
Kemudian ia juga memasangkan helm dengan benar pada Bia. "Pasang helmnya sampai terdengar bunyi 'klik'," Jaden menirukan gaya bicara tukang ojol.
Bia menahan tawanya. "Jalan bang," goda Bia.
Jaden dan Bia membelah jalan sore itu di atas motor milik Bia.Jaden melajukan motornya pelan agar Bia tidak mendapatkan goncangan mengingat dirinya yang sedang hamil muda.
Bia sangat senang akhirnya ia bisa mengendarai motornya lagi setelah sekian lama. Tanpa disadari gadis yang sedang hamil itu menelusupkan tangannya ke perut Jaden.Jaden menarik sudut bibirnya melihat tangan yang menelusup ke perutnya.
"Sayang kamu gak ngantuk kan?" tanya Jaden.
"Aku pinjam punggungmu buat bersandar aku pengen ngelakuin sesuatu yang dilakuin banyak pasangan di film Korea," katanya.Jaden menggelengkan kepalanya mendengar keinginan calon istrinya yang menggemaskan.Tapi ia sangat senang karena gadis itu memeluknya dengan sukarela.
"Ya ampun jiwa jones gue meronta-ronta ngeliat mereka semesra itu," Keyla mencebik kesal ketika melihat pemandangan di depannya. Ingin sekali ia menutup kaca mobil yang ia kendarai.