My Beloved Partner

My Beloved Partner
125



Bia dan Jaden tiba di Jerman tepat di hari pernikahan kakak sepupunya, Bulan. Bia sangat senang bertemu dengan anaknya. Namun, Bia dan Jaden hanya tinggal sebentar guna menyalami dan memberikan hadiah untuk kakaknya lalu mereka memutuskan membawa Al pulang ke Indonesia.


"Maafkan aku, Kak. Sahabatku juga menikah di hari yang sama denganmu, aku juga ingin memberikan ucapan selamat padanya," kata Bia pada Bulan.


Sementara Ara dan suaminya masih ingin tinggal sementara di sana.


Bia sebenarnya sedih tidak bisa datang tepat di hari pernikahan sahabatnya. Tapi dia usahakan pulang secepatnya agar tidak begitu terlambat memberi selamat pada Keyla.


Jaden dan Bia tiba di Indonesia sehari setelah acara pernikahan Keyla dan Bagus berlangsung. Setelah beristirahat sebentar di rumah, mereka mendatangi rumah Keyla.


Bia membawa sebuah hadiah untuk diberikan pada sahabatnya, Keyla.


"Assalamualaikum, Tante." Bia menjabat tangan Lulu.


"Waalaikumsalam, Bi."


"Keylanya mana tante saya mu ketemu dia?" Tanya Bia.


"Keyla ikut Bagus ke rumah barunya." Lulu memberi tahu.


"Owh boleh saya minta alamatnya, Tante?"


Lulu pun menulis alamat di ponselnya lalu mengirim ke ponsel Bia. "Terima kasih ya, Tan. Kami pamit." Jaden dan Bia keluar dari rumah itu.


"Kak Jaden kok nggak cerita kalau Bagus beli rumah baru?" Tanya Bia pada suaminya.


"Aku sendiri tidak tahu," jawab Jaden.


"Eh dia bobok, kasian anak mama capek ya?" Bia mengajak anaknya ngobrol padahal anaknya sedang tertidur.


Tiga puluh menit dari rumah orang tua Keyla, akhirnya Jaden dan Bia sampai di sebuah perumahan elite. Jaden menjalankan mobilnya lambat. Mereka masih mencari rumah Bagus. "Itu dia kak." Tunjuk Bia pada rumah bergaya minimalis modern yang cukup megah itu.


Mereka pun turun di depan gerbang rumah tersebut. "Mau ketemu siapa, Pak?" Tanya Satpam yang berjaga.


"Kami temannya Bagus dan Keyla bisa tolong panggilkan mereka!"


"Baik, tunggu sebentar."


Tak lama kemudian Bagus turun dan melihat ke arah gerbang rumahnya. Dia berjalan menghampiri Jaden dan istrinya itu. "Pak, silakan masuk," ucapnya tidak enak karena membuat Jaden dan istrinya menunggu di luar.


Jaden pun memasukkan mobilnya di halaman rumah yang lumayan luas tersebut.


Jaden menepuk pundak Bagus. "Kami tidak menyangka rumahmu lebih luas dari pada rumahku, Gus."


Bagus tersenyum. "Bapak berlebihan." Bagus merendah.


Bagus mengajak pasangan suami istri itu masuk ke dalam rumahya. "Sebentar saya panggilkan istri saya," kata Bagus lalu ia ke belakang.


"Bia," Keyla memeluk sahabatnya itu.


"Gak apa-apa gue paham. Duduk yuk!" Ajak Keyla.


"Nih gue ada sesuatu buat kalian." Bia menyerahkan dua buah tiket liburan ke Bali dan voucher di resort mewah milik paman Jaden, Devon.*


*Kisah Devon bisa kalian baca di novel terbaru aku ya CLICK YOUR HEART*


Mata Keyla berbinar mendapatkan tiket honeymoon dari atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Makasih banyak, Bi." Keyla memeluk Bia saking senangnya.


Saat itu Bia masih menggendong Baby Al yang tertidur. Namun, bayi kecil yang usianya hampir setahun itu menangis saat Keyla menghimpitnya.


"Ya ampun, anak gue lo himpit nih makanya dia nangis," protes Bia.


Keyla terkekeh. "Uluh uluh Al sayang bangun nak, main sini sama onty." Keyla menyodorkan tangannya tapi Al menolak. Keyla terlihat kecewa.


"Dia mah maunya nempel sama ibunya mulu ya kan, Al?" Al tersenyum menjawab pertanyaan ibunya itu meski dia belum mengerti.


Setelah lama berkunjung Jaden dan istrinya pamit. "Kami pulang dulu ya, nikmati liburan kalian!"


Keyla dan Bagus mengantar sampai keluar. Jaden dan Bia serta anak mereka pun kembali ke rumah.


...***...


Di tempat lain Raina merasakan perutnya kurang nyaman akhir-akhir ini. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Julian pada istrinya itu.


"Entahlah mungkin aku masuk angin perutku kurang nyaman," jawab Raina.


"Mau aku belikan obat?"


"Tidak, akan ku oleskan minyak kayu putih, itu lebih baik."


"Sovia mana?" Julian mencari kebenaran putrinya tapi ia belum melihatnya pagi ini.


"Dia masih tidur, semalam dia tidur agak larut," jawab Raina yang sedang memakaikan dasi untuk suaminya.


"Sudah." Tangan wanita berhijab itu merapikan jas suaminya.


"Ya sudah aku berangkat ya?" Julian mengecup kening istrinya. Entah kenapa ia suka sekali bau sang istri.


"Kamu wangi sekali sayang," puji Julian. Raina hanya tersenyum. Ia meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.


"Hati-hati," ucapnya seraya melambaikan tangan. Julian balas melambai dari dalam mobil.


Sesampainya di kantor, Julian yang baru memasuki lobi merasakan mual di perutnya setelah mencium bau parfum para pegawainya. Dia pun berlari ke toilet. Laki-laki itu memuntahkan semua sarapan paginya.


Apa aku salah makan hari ini? Atau aku juga ketularan masuk angin dari istriku?" batin Julian yang berada di depan cermin.