My Beloved Partner

My Beloved Partner
170



"Sandra," panggil Chloe.


"Mama," Sandra memeluk Chloe dengan erat.


"Jangan tinggalin Sandra, Ma. Sandra kangen sama mama," ucapnya sambil terisak.


"Tidak nak, mama tidak akan meninggalkan kamu," jawab Chloe.


"Ma, apa mama tidak merindukan papa? Tinggallah bersama kami!" Pinta Sandra.


"Tidak, aku tidak mau tinggal bersama papamu. Sandra mama harus pergi," Chloe mengurai pelukannya dan meninggalkan Sandra.


"Ma, mama, jangan pergi Ma!" Teriak Sandra tapi Chloe semakin menjauh.


"San, Sandra," panggil Nabil. Karena tidak menyahut ia mencoba membuka pintu kamarnya. Tenyata kamar Sandra tidak terkunci.


"Ya ampun ni anak gimana kalau ada maling yang masuk," gumam Nabil.


Nabil melihat Sandra meringkuk di atas kasur. Tubuhnya menggigil. Nabil segera memeriksa kening Sandra. Ternyata Sandra demam.


"Ya ampun, elo belum sembuh ternyata, kenapa kemaren langsung keluar dari rumah sakit sih," gerutu Nabil.


"Ma, mama," panggil Sandra dalam keadaan terpejam.


"Ya ampun lo kangen sama orang tua lo, kasian banget si lo San."


Nabil tidak tahu harus menghubungi siapa, ia pun mengabari Alex kalau Sandra sakit. "Lex, Sandra demam, dia menyebut ibunya dari tadi elo bisa ke sini kan?" Pinta Nabil melalui sambungan telepon.


Setelah menelepon Alex, Nabil siap-siap kuliah. Tapi sebelumnya dia mengompres kening Sandra dengan kain yang dicelupkan pada air hangat.


"Maaf ya San, gue harus kuliah pagi ini," kata Nabil lirih.


Di kediaman Jaden, Alex tampak buru-buru menuruni tangga. "Abang sarapan dulu!" Perintah Bia pada putra sulungnya.


Alex berbelok ke meja makan tapi ia meminta makanan yang dimasak ibunya untuk dibawanya ke kampus.


"Bekalnya jangan lupa dimakan ya Bang!" Pesan Bia.


"Dih, udah gede bawa bekal," cibir Kristal yang baru tiba di meja makan.


"Berisik lo," umpat Alex lalu ia mengacak rambut adiknya sebelum pergi.


"Hiss Abang," teriak Kristal. Setelah itu, Alex melajukan mobilnya dengan kencang.


Jaden yang baru turun menanyakan putranya. Dari kemaren setelah kejadian itu ia tak melihat putranya.


"Alex sudah berangkat Pa," jawab sang istri.


"Pagi banget Ma."


"Iya ada kuliah pagi katanya, dia aja nggak sempat sarapan tadi terus minta dibawakan bekal," kata Bia senang karena masakannya laris.


"Nasi goreng buatan mama memang enak, papa juga mau dong buat makan siang nanti," pinta Jaden.


"Papa, udah mama siapin bekal spesial untuk papa," kata Bia sambil menunjukkan sebuah kotak makanan yang berisi nasi lengkap dengan laku pauknya.


"Punya Kristal mana Ma?" Si bungsu pun tak mau kalah.


"Nanti mama ambilin tempat makan dulu ya, tapi Kristal bawa bekal nasi goreng gak apa kan?" Tanya Bia pasalnya ia tak menyiapkan bekal khusus untuk anaknya karena Kristal lebih suka jajan di luar ketimbang bawa bekal yang menurutnya seperti anak kecil.


...***...


Alex sampai di tempat kos Sandra. Nabil sudah menunggu Alex dari tadi. "Sorry Bil gue baru datang," ucap Alex ketika baru memasuki kamar Sandra.


"Lo mau jagain Sandra kan? Ntar gue izinin sama dosen," kata Nabil membuat kesepakatan.


"Oke, kalau anak-anak tanya jangan bilang kalau gue di sini, bilang aja nggak tahu," Nabil mengacungkan jempolnya.


Setelah Nabil pergi, Alex dengan telaten merawat Sandra. Ia mengganti kompresan di kepala Sandra yang sudah dingin.


"Ma, mama," ucap Sandra dalam keadaan tidur.


"Kasian banget kamu sayang, rupanya kamu merindukan mamamu," kata Alex sambil membelai rambut Sandra lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk mencium bibir Sandra sekilas.


"Heh kalian lagi ngapain? Mesum ya?" Tuduh ibu kos yang tiba-tiba datang.


"Bu-bukan Bu. Saya di sini sedang merawat Sandra yang sakit," kata Alex membela diri.


Sandra menyadari kalau kain yang digunakan Alex untuk mengompresnya masih menempel di kepalanya.


"Bohong, saya lihat kamu mencium dia," tunjuk ibu kos itu. Sementara itu Sandra memegang bekas ciuman Alex.


Alex tidak bisa mengelak karena apa yang dikatakan ibu kos itu benar adanya. "Ck, kenapa harus kaya gini sih." Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Keluar kamu atau saya seret," usir ibu kos itu.


"Tapi Sandra masih sakit Bu," Alex berusaha bertahan.


"Lex, sebaiknya kamu keluar dulu supaya kesalahpahaman ini berakhir. Terima kasih sudah merawatku," usir Sandra secara halus.


Alex menurut perintah Sandra. Ia pun memilih ke kampus. Ia akan mengikuti jam kuliah berikutnya. Nabil heran ketika Alex malah berada di ruang kelas saat ini.


"Lho, Lex kok elo di sini sih?" Tanya Nabil.


"Gue diusir sama ibu kos lo," kata Alex sambil mencebik kesal.


Nabil malah tertawa. Alex menjadi semakin geram. "Sorry Lex gue lupa izin sama ibu kos tadi," kata Nabil.


"Terus Sandranya gimana Lex?" Tanya Nabil cemas. Alex menggeleng lemah.


Sementara itu di tempat kosnya Sandra kembali tidur setelah meminum obat yang ia sediakan di kotak obatnya. Suhu badannya juga mulai turun tapi kepalanya masih terasa pusing.


"San," panggil Nabil yang sengaja pulang kuliah lebih dulu.


Ia melihat Sandra masih tiduran. Sandra terbangun ketika Nabil mengguncang tubuhnya dengan pelan. Perlahan Sandra bangun dan bersandar di ujung tempat tidurnya.


"Elo udah baikan?" Tanya Nabil.


"Masih sedikit pusing," akunya.


"Nih gue bawain makanan buat lo dari Alex," kata Nabil. Sebelum kembali ke tempat kosnya Alex memberikan uang agar Nabil membelikan Sandra makanan.


"Makasih banyak Bil," kata Sandra sambil menerima bungkusan dari gadis berkacamata itu.


Nabil menoleh ke samping ternyata ada bekal makanan yang belum dibuka oleh Sandra. "Elo dari tadi belum makan ya? Nih makanan lo masih utuh."


"Gue cuma tiduran dari tadi."


"Ya udah elo makan gih, nanti habis makan mau gue anterin ke dokter?" Tanya Nabil.


"Nggak usah gue udah minum obat kok, gue selalu sedia di kotak obat," jawab Sandra.


...***...


Di tempat lain, Chloe berjalan sempoyongan memasuki rumahnya. "Nyonya anda mabuk lagi?" Tanya pelayan di rumah Chloe.


"Tidak, aku hanya mengusir kesepianku," racaunya dalam pengaruh alkohol.


"Chloe, kamu semakin menyedihkan," tegur Ernest, sang ayah.


Ernest memapah putrinya lalu membaringkannya di tempat tidur. "Ini karena ulahmu sendiri yang menyia-nyiakan suami dan anakmu, lihat dirimu sekarang, kau jadi seperti ini," omel Ernest.


Setelah membawa Chloe ke kamar, Ernest keluar dari kamar putrinya. Semenjak pelayannya mengabarkan kalau Chloe sering mabuk-mabukan Ernest memutuskan tinggal di rumah Chloe sementara waktu. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putri semata wayangnya itu.


Sejak perceraiannya dengan Vero, Chloe menjadi kesepian. Ia belum juga menemukan jodoh pengganti. Padahal Chloe berharap ada laki-laki kaya yang mau menikahinya. Tapi harapannya pupus, laki-laki di luar sana hanya menginginkan hartanya. Ia beberapa kali ditipu oleh laki-laki yang dekat dengannya.


Alih-alih membantu berinvestasi, uang yang diinvestasikan Chloe malah dibawa kabur begitu saja. "Tak ada yang mau menerima kekuranganku selain mereka," ucap Chloe sambil menangis sendirian.


Ia menyesal telah mengusir Vero dan anaknya. Kalau saja waktu itu ia tidak menjadi ibu yang kasar, mungkin Sandra akan memilih tinggal bersamanya dibanding bersama mantan suaminya.


"Sandra," panggil Chloe sebelum ia tertidur.


...❤️❤️❤️...


Mau ingetin buat baca novel yang lain ya dear