
Keesokan harinya Ciara melabrak Bella.
Brak
Ciara menggebrak meja Bella dengan kasar. "Elo kan yang mengunci Sandra di kamar mandi kemaren?"
Dari kejauhan geng A4 datang bersamaan saat Ciara memarahi Bella. "Eh rekam-rekam!" Perintah Amar pada Andi.
Andi mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Kemudian ia mulai merekam secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bella.
Bella berdiri. "Kalau iya memangnya kenapa?" Tanpa sadar Bella mengaku di depan teman-temannya.
"Dasar cewek licik lho, bisa-bisanya elo sejahat itu," umpat Ciara. Bella hendak melayangkan tangannya ke muka Ciara tapi Alex meneriakinya.
"Cukup." Bella menoleh. Ia sadar Andi sedang merekam pertengkarannya dengan Ciara. "Bawa sini handphone lo!" Bella hendak meraih tangan Andi tapi ia tak sampai. Lalu Sandra menyerobot ponsel Andi dari belakang.
"Udah jangan berisik, biar gue aja yang hapus," bohong Sandra padahal dia mengirim ke grub kelas.
"Ndi, gimana nih? Gue malah salah pencet," Sandra pura-pura menyesal. Bella yang ingin tahu mengambil alih ponsel itu dari tangan Sandra.
"Sialan lo, kenapa lo kirim ke grub kelas be*go," umpat Bella yang sangat kesal dengan sikap Sandra.
"Sengaja," Sandra menjulurkan lidah lalu berjalan ke bangkunya.
Saat Bella akan menarik rambut Sandra, Alex melindunginya. "Jangan coba-coba sakiti Sandra lagi atau lo berurusan sama gue ntar," ancam Alex dengan tatapan nyalang.
Bella pun memilih duduk di kursinya dari pada berdebat dengan Alex. "Awas lo ntar," gumam Bella dengan lirih.
Tak lama kemudian Pak Handi mulai mengajar pelajaran bahasa Indonesia. "Hari ini kita akan belajar bikin cerpen," Perkataan Pak Handi mendapat respon sorakan dari anak-anak yang diajar.
"Yah, gue paling males kalau disuruh ngarang," ujar Agung.
"Lah bukannya elo pujangga cinta, Gung? Elo kan sering merayu cewek-cewek," ledek Amar.
"Eh pak ustadz Amar, gue kalau ngerayu cewek nggak pakai puisi, elo kata ini zaman Dilan dan Milea, ogeb lo emang." Amar dan Andi jadi terkekeh. Sedangkan Alex, matanya tak mau beranjak dari Sandra.
"Bos, disuruh ngarang noh sama pak Handi," Agung mengingatkan.
"Males," jawab Alex. Pak Handi mendengarnya. "Alex mau saya sikat kamu?" Ancam Pak Alex.
Agung, Andi, dan Amar tertawa bersama mendengar Pak Handi menegur Alex. "Kalian bertiga juga mau saya sikat?" tegas Pak Handi.
"Elah emang kita kotor*an Pak disikat mulu," protes Agung yang menjawab.
"Bener-bener mau disikat ya kamu?" Geram Pak Handi yang langsung berjalan ke arah Agung dan menjewer kupingnya. "Ampun Pak," Agung merengek.
Saat jam pelajaran usai
"Gila panas bener kuping gue dijewer sama Pak Handi," keluh Agung sambil mengusap-usap kupingnya yang masih terasa sakit.
Alex, Andi, dan Amar tertawa terbahak-bahak. "Mules perut gue, mules sumpah," kata Amar sambil memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.
"Lagian elo juga punya mulut kebanyakan bicara sih, tau rasa kan lo kalau suka ngejawab omongan orang," ledek Alex.
"Bener tuh, Bos," timpal Andi menyetujui omongan Alex.
"Nih minum," Ciara memberikan segelas es teh untuk Agung.
Agung tersenyum lebar. "Makasih ayang, jadi makin cinta deh," goda Agung pada Ciara.
"Huek," Ciara pura-pura muntah di depan teman-temannya.
"Minum biar lo nggak kena sawan habis kena amukan Pak Handi," ledek Ciara diiringi tawa mengejek bersama Sandra.
Baru kali ini Alex melihat Sandra tersenyum selebar itu. Wajahnya terlihat sangat manis di mata Alex. "Tolong air liur dikondisikan, Bos," ledek Agung. Andi dan Amar tertawa tapi tidak dengan Alex dia merangkul leher Agung lalu memukuli kepalanya.
...***...
Seusai beristirahat di kantin semua siswa masuk kembali ke dalam kelas. Sandra terkejut ketika di mejanya terdapat sebuah bunga dan coklat tapi tidak menyertakan nama pengirimnya. "Dari siapa nih?" Tanya Sandra pada Ciara. Ciara hanya menggedikkan bahu.
"Bos, gebetan lo punya penggemar rahasia kayaknya," Amar mengompori.
Alex memandang tidak suka saat Sandra merasa senang karena mendapatkan bunga mawar dan coklat dari seseorang. "Gue juga bisa beli seagen-agennya. Alex sengaja mengeraskan suaranya agar sandra mendengar. Sandra hanya mencibir.
Setelah itu Bu Dea yang notabene pengajar bahasa Jerman masuk ke dalam kelas.
"Guten Morgen." Bu Dea berbicara dalam bahasa Jerman yang berarti selamat pagi.
"Gue paling males kalau belajar bahasa asing," bisik Sandra di telinga Ciara.
"Belajar sama Alex aja San, dia kan keturunan Jerman." Perkataan Ciara mengejutkan sandra. "Masak sih?" Tanya Sandra tak percaya.
"Iya ibunya tuh bule lho," kata CIara.
"Gue udah pernah ketemu ibunya, gue kira rambutnya itu diwarnai ternyata asli tho," bisik Sandra menimpali omongan Ciara.
"PR nya jangan lupa dikerjakan ya anak-anak," ucap Bu Dea sebelum keluar dari kelas itu.
"Lex, Sandra kayaknya kesulitan bikin PR dari Bu Dea, elo bisa bantu?" Kata Ciara. Alex tersenyum penuh maksud.