My Beloved Partner

My Beloved Partner
182



Alex menelepon papanya untuk menanyakan kabar terbaru mengenai kasus yang menimpa Agung dan Sandra.


"Papa akan kirimkan video padamu, kamu akan tahu setelah melihatnya," kata Jaden melalui sambungan telepon.


Alex pun membuka video percakapan Dewi dengan sejumlah orang yang terlihat seperti preman. "Sudah kuduga dari awal aku curiga pada dia," geram Alex sambil mengepalkan tangan.


Setelah itu Alex meminta ayahnya mengirimkan beberapa bodyguard. Dia khawatir dengan keadaan Sandra. Setelah itu Alex menanyakan kepada beberapa temannya yang melihat Sandra. Mereka bilang Sandra pergi bersama Ciara.


Alex pun mengikuti mobil Ciara. Namun sebelumnya dia menghubungi Andi dan Amar agar segera menyusulnya.


Akhirnya Alex menemukan mobil Ciara berhenti di tengah jalan. Dia bisa melihat dari kejauhan kalau berapa orang sedang menghadangnya.


Alex beserta beberapa orang bodyguard yang mengikutinya turun dari mobil. "Biadab, serang mereka!"


Untungnya Alex datang di waktu yang tepat sehingga Sandra dan Ciara bisa dibawa ke rumah sakit namun yang membawa mereka ke rumah sakit adalah Andi dan Amar. Sementara Alex sedang menginterogasi para penjahat yang berhasil dilumpuhkan oleh anak buahnya.


Alex berjalan mendekat lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan penjahat yang kini dalam genggaman anak buahnya. Alex yang geram lalu menjambak rambut salah satu penjahat tersebut. "Katakan siapa yang menyuruhmu?" Sentak Alex.


Penjahat itu tersenyum sinis lalu meludah di depan Alex. "Aku tidak akan mengatakannya padamu," jawab penjahat itu.


Alex mengeluarkan senjata api dari saku celananya. Lalu ia menodongkan senjata itu ke pelipis penjahat yang ada di depannya. Tentu saja penjahat itu gemetar mendapatkan ancaman yang bisa menghilangkan nyawanya.


"Kau yakin tidak akan memberitahuku, dengan sekali tembak saja aku bisa membunuhmu," hingga penjahat itu bergidik ngeri.


"Katakan saja yang kamu tidak sebanding dengan uang yang dia berikan," kata salah satu temannya.


"Dia benar sekali, untuk apa kamu mempertaruhkan nyawa untuk orang yang hanya membayarmu dengan uang yang tidak seberapa. Aku bisa menggantinya 3 kali lipat, 5 kali lipat bahkan berapapun yang kau mau."


Panjahat itu berpikir sejenak. Alex kembali menarik pelatuknya untuk membuat penjahat itu ketakutan. "Aku tidak tahu nama gadis yang menyuruhku itu," akunya. Lalu Alex mengeluarkan handphonenya. "Apa dia yang menyuruhmu?" Tanya Alex.


"Kau tidak perlu menjawab. Kau hanya perlu mengangguk atau menggelengkan kepala saja. Kutanya sekali lagi apa dia yang menyuruhmu?" Penjahat itu mengangguk.


"Sudah kuduga. Bawa mereka ke kantor polisi segera!" perintah Alex pada anak buahnya.


Setelah itu Alex menemui Dewi. Pemuda itu mendatangi rumahnya. "Bisa bertemu dengan Putri anda Pak?" kata Alex ketika ia membukakan pintu adalah orang tua dari Dewi.


"Ada urusan apa Anda datang kemari?" tanyanya heran karena Alex membawa anak buahnya.


"Anda akan tahu setelah putri Anda mengakui perbuatannya."


"Dia tidak ada di rumah," bohong ayah Dewi.


Alex menaikkan sudut bibirnya. "Rupanya anda ingin melindungi Putri anda? Baik, kalau itu memang mau anda. Saya juga akan membuat anda di penjara dan membusuk di sana," ancam Alex dengan tatapan dingin.


Dewi yang melihat Alex dari atas balkonnya merasa ketakutan. "Sial. Apa mereka mengetahui rencanaku?" Wanita itu ingin sekali kabur tapi rumahnya seolah terkepung dengan anak buah Alex yang berjaga di sana.


"Panggilkan dia sekarang juga!" perintah Alex dengan tegas pada ayah Dewi.


Dewi pun turun menghadapi Alex. "Kenapa kau bawa banyak orang ke rumahku?" katanya Dewi pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura bodoh! Kami sudah tahu Siapa yang menjadi dalang atas kemalangan yang Sandra alami."


Perkataan Alex tersebut membuat Dewi semakin yakin kalau rencananya kali ini gagal total.


"Sebaiknya kamu menyerahkan diri!" perintah Alex dengan nada dingin.


Tak mau berlama-lama berdebat dengan Dewi, Alex menyuruh orang-orang yang membawa Dewi dengan paksa.


Kedua orang tua Dewi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak menyangka kalau anaknya terlibat kriminal.


Kini Dewi sudah berada di kantor polisi. Alex telah menyerahkan bukti-bukti yang bisa menjerat Dewi. "Tolong proses dengan cepat!" pinta Alex pada para polisi yang menangani kasusnya.


Setelah itu Alex menuju ke rumah sakit. Dia mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. "Aku tidak peduli kalau ada polisi yang menilangku kali ini. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Sandra," gumam Alex sambil menyetir.


Setelah sampai di parkiran mobil Alex segera turun. Ia melihat Andi dan Ahmad dari kejauhan. "Bagaimana keadaan Sandra dan Ciara?" tanya Alex.


"Kau lihatnya sendiri ke dalam," kata Andi.


Seluruh wajah Sandra harus diperban karena banyak terkena pecahan kaca mobil. Alex tidak tega melihat kekasihnya itu tak berdaya. tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja. Cepat-cepat Alex menyekanya agar Sandra tidak melihatnya bersedih.


"Kamu pasti akan sembuh sayang," kata Alex dengan nada bergetar. Sandra tidak bisa menjawab dia hanya mengangguk.


Chloe yang menemani putrinya saat ini merasa sedih. "Malang sekali nasibnya dia harus menderita berkali-kali," kata Chloe.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Sandra dengan baik tante," Alex berkata dengan wajah sendu.


"Kemungkinan tante akan membawanya ke Korea untuk menjalani operasi plastik," kata Chloe.


Alex merasa sedih karena laki-laki dia harus berjauhan dengan kekasihnya. Kini dia keluar dari ruangan Sandra.


Amar melihat Alex yang tanpa lesu. "Andi mana?" tanya Alex yang hanya melihat Amar sendirian.


"Ke ruangan Ciara."


"Bagaimana keadaan Ciara?" tanya Alex pada Andi.


"Dia dirawat di ruangan sebelah tapi lukanya tidak separah Sandra," jawab Amar.


"Kata mamanya Sandra harus menjalani operasi plastik di Korea," ucap Alex dengan bahunya yang meluruh.


"Sekalian liburan ya," Amar malah mendapat pelototan dari Alex.


Alex teringat akan Dewi. "ini semua gara-gara gadis sialan itu," geram Alex. Kini iya pergi ke kantor polisi.


...***...


"Apa sebenarnya motif kamu melakukan itu pada Sandra?" Tanya Alex dengan emosi yang memuncak.


Dewi memicingkan matanya. "Kau tidak sadar kalau aku mencintaimu sejak lama."


Deg


Alex terkejut dengan pengakuan Dewi. "Kamu rela menyingkirkan segala sesuatu yang menurutmu menjadi penghalang. Itu bukan cinta namanya tapi itu obsesi dan obsesi kamu sangat mengerikan," cibir Alex.


Dewi hanya bisa menitikkan air mata. "Aku menyesal karena obsesiku aku harus mendekam di penjara," kata Dewi.


"Terlambat untuk menyesal. Harusnya dari awal kau tidak mengulangi kejahatanmu, tapi kau melakukannya sampai tiga kali. Kamu tak lebih dari seorang kriminal."


Alex pergi setelah mengatakan itu. Dia berjanji akan membuat Dewi membusuk di penjara karena gara-gara dia wajah Sandra harus dioperasi. Itu artinya dia akan berpisah dengan Sandra meski sementara waktu.