
"Selamat datang tuan Dani,"Jaden menyambut kedatangan laki-laki itu dengan mengulurkan tangannya.
Dani menyambut uluran tangan Jaden. Kemudian Jaden mempersilakan Dani untuk duduk."Terima kasih telah memenuhi undangan makan siag saya," kata Jaden.
"Todak usah terlalu formal, usia saya lebih muda daripada anda jadi seharusnya saya yang menghormati anda."
"Ck, sialan dia pikir gue udah kakek-kakek," batin Jaden. Jaden berusaha tenang dan tidak termakan omongan Dani.
"Baiklah kita langsung saja ke intinya, anda mengajukan kerjasama dengan perusahaan saya bukan begitu?" tanya Jaden. Dani hanya mengangguk pelan.
"Saya rasa tidak buruk," kata Jaden.
"Cih tdak buruk katanya,menyebalkan sekali suami Bia ini," cibir Dani dalam hati.
"Saya bersedia menandatangai kontrak kerjasama dengan perusahaan anda asal...." Jaden menjeda omongannya.
"Asalkan anda tidak mengganggu istri saya, saya tahu anda pernah memiliki kedekatan dengan Berlian tapi untuk saat ini pura-pura lah kalian tidak mengenal sebelumnya," tegas Jaden dengan nada dingin.
"Baiklah," jawab Dani singkat. Jaden pun bersedia menerima kontrak kerjasama tersebut.
"Baiklah kita buktikan siapa di antara kita yang akan Berlian pilih," ucap Dani sebelum meninggalkan tempat itu.
Jaden sudah mengeraskan rahangnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar."Sialan," umpat Jaden.
"Baiklah aku juga tidak akan membiarkan istriku jatuh ke tanganmu," janji Jaden pada dirinya sendiri.
...***...
"Bi, elo dapet kiriman bunga nih,"kata Keyla seraya menyerahkan sebuah buket bunga lili untuk Bia.
"Dari siapa Key?" tanya Bia.
"Gue gak tahu gak ada nama pemgirimnya," kata Keyla lalu dia keluar dari ruangan Bia.
"Pasti dari kak Jaden, besok kan anniversary perikahan kita yang ke dua," gumam Bia sambil mencium wangi bunga lili kesukannya.Bia sangat senang menerima buket tersebut karena selama menikah Bia sama sekali belum pernah menerima hadiah dari suaminya.
"Terima kasih,"ucapnya sambil mendongak.
"Buat apa?" tanya Jaden yang bingung dengan sikap sans istri.
"Kakak kan yang ngirimin bunga pas di kantor tadi?" Jaden tida menjawab ia hanya tersenyum yang sedikit dipaksakan.
"Dari siapa bunga itu?" batin Jaden.
"Kak aku siapin air hangat dulu ya," Jaden mengangguk.
Ia melihat sang istri begitu bahagia. Jadwn tidak mau merusak suasana hati Bia saat ini. Biarlah toh dia tidak menjawab saat Bia bertanya itu artinya dia tidak berbohong.
Seusai mandi Jaden tidak banyak bicara. Bia merasa suaminya itu agak murung sejak kepulangannya tadi.
"Kakak ada masalah di kantor?" tanya Bia seraya meletakkan secamgkir teh panas di atas nakas.
"Gak ada," jawabnya singkat.
Bia mendudukkan diri di samping Jaden."Terus kenapa dari tadi diam aja?" tanyanya lagi.
"Dia pasti mau ngeprank gue deh, mungkin ini bagian dari surprisenya besok," batin Bia seraya mengulum senyum.
"Mau aku pijitin?" Jaden menggeleng. Ia lalu menarik selimutnya lalu tidur membelakangi sang istri.
"Ya udh tidur aja, met tidur suamiku," Bia mengecup pipi Jaden singkat. Namun tidak ada respon dari laki-laki yang ia cintai itu.
Bia pun sedikit kecewa. Akhirnya ia tertidur tapi menghadap ke suaminya.
Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat Bia mengerjapkan matanya.Ia bersandar di kepala ranjang. Dilihatnya sang suami sudah rapi dan sedang bercermin.
"Kak, pagi sekali mau ngantor jam segini?" tanya Bia dengan suara parau.
Apa yang terjadi selanjutnya?