
Hari ini Bia memutuskan untuk kembali bekerja. Jaden dan Bia sepakat untuk menggunakan jasa baby sitter untuk mengurus baby Al.
"Tolong titip baby Al ya, Santi," kata Bia pada baby sitter barunya.
Bia mendapatkan rekomendasi dari yayasan yang menaungi para baby sitter. Menurut mereka Santi adalah wanita yang baik. Bia percaya akan hal itu.
"Ayo sayang kita sudah terlambat," kata Jaden pada istrinya.
Mereka pun berangkat kerja ke kantor masing-masing. Bia dan Jaden menggunakan mobil berbeda karena jadwal mereka tidak pernah sama. Bia selalu pulang cepat untuk melihat keadaan putranya yang kini berusia enam bulan.
"Bagaimana Baby Al hari ini apa dia sudah mau makan?" tanya Bia pada Santi.
"Dia mau makan bu."
"Baguslah, kamu siap-siap ya saya mau ajak kamu ke rumah orang tua saya." Santi mengangguk pelan.
Bia pun membawa Santi dan Baby Al ke rumah mama Ara. Mereka menggunakan supir karena Bia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayinya.
"Ya ampun cucu nenek dateng," kata Ara yang menyambut cucunya dengan wajah yang riang.
"Apa kabar ma?" tanya Bia seraya menyalami tangan ibunya.
"Baik sayang, eh dia siapa Bi?" tanya mama Ara yang baru pertama kali melihat Santi.
"Ini baby sitter aku ma, aku sudah kembali bekerja di kantor, jadi aku menyewa jasa baby sitter untuk mengurus Baby Al," terang Bia.
Mam Ara menarik tangan Bia dan membawanya menjauh dari Santi. "Apa kamu yakin dengannya sayang, kamu sudah selidiki dia?" tanya ma Ara yang mulai resah. Entah kenapa sejak ia pertama kali bertemu dengan Santi hatinya merasa tidak tenang.
"Aku sudah tanyakan ke yayasannya ma dia wanita yang baik dan tidak memiliki catatan krimina."
"Ish kamu ini kamu kan bisa minta mama buat jaga Baby Al," kata mam Ara kesal.
"Bia gak mau ngerepotin mama." Bia memeluk ibunya posesif.
"Ya sudah mama selalu berdoa untuk kalian, lain kali jangan sungkan minta tolong sama mama, kamu kaya orang lain aja," protes mam Ara.
Setelah itu mama Ara mengajak mereka makan malam. Rasya juga ikut makan di meja makan tersebut. Di saat orang lain makan Santi tampak sedang menyusui Baby Al. Ia memegang botol itu sambil menyanyikan lagu yang membuat Baby Al tertidur.
"Mama udah lihat sendiri kan, Santi wanita yang baik," puji Bia pada baby sitternya itu.
"Semoga firasat mama tidak benar," kata mama Ara.
"Mama tidak perlu khawatir kita semua ada untuk Bia jadi kalau terjadi sesuatu pada Baby Al kita bisa langsung menolongnya," kata Rasya meyakinkan istrinya.
"Bapak, Ibu nyonya tidak percaya ya sama saya?" Santi memberanikan diri untuk bertanya.
Bia tersenyum dan menoleh ke arah Santi. "Tidak, hal seperti itu wajar bukan seandainya kita baru mengenal orang," kata Bia berusaha menjawab dengan bijak.
"Yang terpenting bagi saya nyonya percaya pada saya sepenuhnya untuk mengurus Baby Al," kata Santi sambil menunduk.
"Iya saya percaya sama kamu," tegas Bia.
Sesampainya di rumahnya sendiri Bia meminta Santi membawa Baby Al masuk ke kamarnya.
"Dari mana saja sayang?" tanya Jaden yang sudah lebih dulu pulang ke rumah.
"Wah tumben kak Jaden sudah pulang jam segini, biasanya lembur," sindir Bia.
"Aku pulang telat salah pulang cepat juga salah, terus yang bener yang mana?" Tanya Jaden yang bingung.
"Pulang cepet tiap hari biar kita bisa quality time setiap hari," kata Bia dengan jujur. Sejak hotel Jaden ramai dengan para turis yang didatangkan Danny ke Indonesia melalui bisnis travelnya, Jaden jarang pulang sebelum jam sembilan malam, ia akan pulang di atas jam sepuluh di saat semua orang sudah bermimpi di peraduannya.
"Kamu dari rumah mama ya?" tebak Jaden.
"Iya kok tahu?" tanya Bia yang mengernyit heran.
"Iya papa Rasya yang memberi tahuku lewat pesan singkat yang dikirimkan padaku.
"Yuk kita masuk kamar, Baby Al juga udah tidur," ajak Bia sambil menarik tangan suaminya posesif. Ia tahu cara agar suaminya tidak marah lagi.
Bia mengunci pintu kamarnya. Ia berbalik badan tapi Jaden sudah mengungkungnya lebih dulu.
"Kamu ingin lakukan sekarang?" tanya Bia pada suaminya.
"Kenapa aku harus menolak?" goda Jaden. Wajah Bia pun tersipu malu. Mereka pun mulai dengan menyatukan bibir. Saat belum lama mereka berpagutan terdengar suara Baby Al yang menangis kencang.
"Apa yang terjadi?" tanya Bia pada Santi.
"Maaf Nyonya saya telat memberikan susu, saya ketiduran maaf," kata Santi dengan wajah menyesal.
Bia pun menggendong anaknya itu kemudian menimangnya agar tangisannya berhenti. "Malam ini Baby Al akan tidur bersama saya," putus Bia. Jaden tidur sendirian di kamarnya.
...***...
Hallo pembacaku part ini banyak yang typo tapi udah aku revisi ya 🙏, Misal kalian menemukan typo lagi bisa dikomentari langsung nanti aku revisi. Othor juga manusia biasa ya.