
Saat Berlian melihat laki-laki yang ia kenal keluar dari ruangannya ia langsung mendekat dan menyodorkan rantang makanan yang ia bawa. "Nih dari mama," ucapnya pada laki-laki di hadapannya.
Julian yang tidak merasa mengenal wanita yang menutupi wajahnya dengan masker itu kemudian menoleh ke arah Ruby. Ia bertanya dalam diam pada sekretarisnya itu namun Ruby menggedikkan bahu.
"Ih mau gak makanannya?" tanya Bia pada laki-laki yang ia anggap Jaden itu.
Jaden baru datang lalu mendekat ke arah abangnya. "Diterima dong bang pemberian pacarnya," suara bariton itu membuat Bia menoleh.
Bia kaget saat melihat wajah laki-laki yang sama di depannya. Ia jadi bingung. "Kalian??" tunjuknya ke arah Jaden lalu Julian.
Jaden yang mengenali suara itu lalu mengerutkan keningnya. "Kamu??" tanyanya pada gadis cantik di depannya.
Bia lalu membuka masker. Sontak Jaden kaget ternyata pacarnya yang datang namun dengan tampilan yang berbeda.
"Beb ngapain ke sini? tumben kamu cantik banget," tanyanya kaget.
"Kamu Jaden? terus dia?" tanya Bia seraya menunjuk Julian.
"Ini saudara kembarku Julian," terangnya.
"Mama nitip ini buat kamu," Bia memberikan rantang makanan buat Jaden.
"Makasih," kata Jaden lirih sambil tersenyum pada kekasihnya.
Ruby menjadi bingung pasalnya dulu gadis itu pernah mengaku dekat dengan Julian lalu mengapa hari ini ia menjadi pacar Jaden. Apa mungkin waktu itu ia mengira Julian sebagai Jaden secara keduanya adalah saudara kembar, pikir Ruby.
"Masuk beb," ajak Jaden pada Bia.
Bia mundur selangkah. "Aku mau langsung pulang," tolaknya.
"Kalau begitu tunggu sebentar aku ambil kunci mobil," kata Jaden.
"Aku diantar supir,kamu gak perlu repot-repot nganter aku pulang," tolaknya lagi.
Jaden tersenyum miring. "Suruh supir kamu pulang bilang aku yang akan mengantarkan kamu pulang," Bia menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu kabari kalau sudah sampai rumah," Jaden akhirnya mengalah,ia tidak mau Bia merasa tidak nyaman.
Bia pun melangkahkan kaki memasuki lift untuk turun ke lantai bawah. Jaden hanya bisa melihat kepergian kekasihnya. Namun, Jaden jadi penasaran kenapa Bia menolak diantar pulang selain alasan karena ia menggunakan supir. Lalu Jaden diam-diam mengikuti mobil Bia dari belakang.
"Pak mampir sebentar ya ke warung tegal deket sini," perintah Bia.
Jaden menghentikan mobilnya saat mobil yang dikendarai Bia berhenti di depan warteg. "Berlian ngapain berhenti di situ?" gumam Jaden.
Tak lama kemudian Bia keluar dengan membawa satu kresek hitam di tangannya. Lalu ia masuk lagi ke mobil. Jaden kembali mengikuti mobil yang Berlian tumpangi. Ia amat penasaran kemana gadis itu pergi.
Tak jauh dari situ ternyata Bia berhenti di sebuah gang. Jaden melihat Bia meminta sang sopir untuk menunggu lalu berjalan menyusuri gang sempit itu.
Jaden segera turun dan akan mengikuti kemana kekasihnya pergi. Setelah mengunci mobilnya ia diam-diam mengikuti Bia. Dan pemandangan yang tak terduga nampak setelah melewati gang sempit itu terdapat sebuah perkampungan kumuh.
Jaden jadi tertegun saat melihat Bia kekasihnya dikerumuni oleh anak-anak yang berebut makanan yang Bia berikan. Jaden pun segera mengabadikan momen itu dan mengirimnya pada seseorang.
"Maaf kakak hanya bisa bawa nasi bungkus untuk kalian," ucap Bia dengan wajah sendu. Setelah kartu ATM nya disita oleh sang ayah dirinya hanya memiliki sedikit uang guna membeli makanan untuk anak-anak tak mampu itu.
Jaden menjadi terharu saat mendengar ucapan Bia. Ia semakin yakin hati gadis itu secantik namanya.
"Kakak siapa paman itu?" tunjuk anak kecil yang melihat Jaden berdiri di belakang mereka.
Bia lalu menoleh ke arahnya. Ia kaget melihat Jaden berdiri dan melambaikan tangan ke arahnya. Jaden berjalan mendekat membuat Bia salah tingkah.
"Aku mohon kamu jangan bilang ke orang tuaku kalau aku main ke sini," mohon Bia.
"Aku hanya tidak mau papaku mengira aku menghabiskan uang mereka untuk sesuatu yang tidak berguna," pikir Bia.
Jaden menggeleng pelan. "Kamu salah sayang justru mereka akan bangga padamu karena putri mereka sangat baik pada siapapun, bahkan bisa jadi orang tuamu membantu perekonomian mereka," mendengar ucapan Jaden membuat senyum Bia mengembang di wajah cantiknya.
"Benarkah? apa selama ini pemikiranku salah? apa aku terlalu khawatir mereka akan melarang ku bergaul dengan orang-orang dari kalangan bawah?" tanyanya pada Jaden. Jaden mengangguk.
"Aku saja sangat bangga memiliki kekasih sebaik kamu apalagi orang tuamu," Bia sontak memeluk Jaden.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
"Cie,,,," sorak anak-anak yang melihatnya.
Bia ingin melonggarkan pelukannya namun Kaden kembali menariknya. Wajah Bia bersemu merah mendapatkan perlakuan hangat dari Jaden. Entah mengapa jantungnya berdebar saat Jaden memeluknya. Apakah ia sudah memiliki rasa cinta untuk Jaden.
Setelah dari perkampungan itu Jaden mengajak Bia makan di sebuah restoran.
"Kamu ko malah ngajak aku makan di sini sih? Bekal yang aku bawa tadi gimana? nanti mama kecewa makanannya gak dimakan sama kamu,"
"Tenang aja ntar juga habis." Bia mengerutkan keningnya.
"Kamu mau makan apa, beb?" tanya Jaden saat membuka menu makanan.
"Terserah kamu."
"Ya udah menu spesial restoran ini mbak," kata Jaden pada pelayan tersebut.
"Beb sejak kapan kamu mulai ke perkampungan itu?" tanya Jaden penasaran.
"Sejak aku dapat uang dari menang balapan," jujur Bia.
"Kenapa kamu gak minta uang sama om Rasya aja beb, pasti dia juga setuju kalau buat bantu orang lain,"
"Aku nggak kepikiran sampai situ, aku kira papa akan melarang aku bergaul dengan orang-orang dari kalangan bawah, jadi diam-diam aku mengumpulkan uang hasil balapan itu untuk mereka," terang Bia tanpa ditutup-tutupi.
"Aku bangga sama kamu beb meskipun sebenarnya cara kamu kurang benar tapi niat kamu baik," ucap Jaden sambil tersenyum pada kekasihnya.
"Aku kira kamu juga akan melarang aku bergaul sama mereka," Jaden menggeleng. "No, kenapa aku harus melarang kamu?"
"Thank you," ucap Bia lirih.
"Oh ya kalau boleh tahu sejak kapan kamu suka balapan?" tanya Jaden lagi.
"Dulu aku sering lihat papa pakai motor sport miliknya, keluarga kami juga punya pabrik perakitan mobil dan motor terbesar di negeri ini, aku sering diajak papa untuk sekedar berkunjung, mulai saat itu aku tertarik dengan mesin, tapi papa melarang ku karena aku cewek, lagian apa salahnya sih cewek berkutat dengan mesin motor," ucap Bia kesal.
"Kamu pasti kelihatan keren banget ya kalau lagi pakai baju mekanik terus wajahnya kena oli gitu," Jaden berimajinasi sambil terkekeh sendiri.
"Tuh kan keren dasar papa aja yang gak up to date, sekarang tuh zaman modern cewek boleh milih dia mau kerja apa, setuju kan?" tanyanya pada Jaden meminta pendapat.
Raut muka Jaden berubah serius."Kalau aku boleh jujur aku lebih suka kamu buat jadi ibu rumah tangga mengurus anak-anak kita nanti,"
Deg
Jantung Bia serasa ingin lompat dari tempatnya. "Maksudnya apa dia ngomong gitu?" batin Bia.
...***...
Kira-kira apa yang selanjutnya terjadi ikuti terus ya episodenya