My Beloved Partner

My Beloved Partner
164



"Amar, gue suka sama Amar," jawab Nabil.


Sandra menutup mulutnya yang menganga. "Gue ada ide buat deketin lo sama dia." Kata-kata Sandra membuat Nabil antusias mendengarkan omongan Sandra.


"Apaan?" Tanya Nabil.


"Besok gue sama gengnya Alex mau ngadain barbequean di rumahnya Alex, elo mau ikut nggak..." Sandra belum meneruskan omongannya Nabil sudah lebih dulu menyela.


"Mau, mau," jawabnya sambil manggut-manggut.


Sandra mengulas senyum ketika mendengar jawaban Nabil. "Oke, gue kabarin lagi besok ya, lo tunggu gue habis kuliah," perintah Sandra.


Keesokan harinya Sandra mengikuti OSPEK di hari terakhir. Hari ini adalah terakhir mengikuti acara OSPEK di kampusnya.


"Selamat kalian telah melewati masa orientasi mahasiswa baru dan sekarang kalian bisa melepas papan nama yang kalian pakai karena kalian resmi menjadi mahasiswa di kampus kita ini." Suara tepukan meriah mengikuti pidato terakhir Dewi sebagai ketua panitia penyelenggara OSPEK di kampusnya.


"Akhirnya gue lega, besok kita bisa kuliah dengan tenang." Salah seorang teman Sandra berbicara ketika sedang membeli minuman di kantin.


"Sandra," panggil Ciara yang sudah selesai mengikuti kuliah.


"Eh Ci, sini gabung!" Ajaknya.


"Nggak usah, gue mau ngajakin belanja buat ntar malam," kata Ciara.


"Emangnya kalian mau ada acara apa ntar malam?" Tanya teman Sandra yang ikut duduk satu meja dengannya.


"Dia mau tunangan," gurau Ciara sambil terkekeh. Namun, Sandra terlihat melotot.


"Sama siapa?" Tanya mahasiswi yang satu angkatan dengan Sandra.


"A..." Sandra membekap mulut Ciara dengan tangannya.


"Duluan ya," pamit Sandra sambil menyeret Ciara.


Setelah jarak mereka agak jauh dari teman-temannya Sandra melepaskan tangannya dari mulut Ciara. Ciara malah terkekeh. "Elo takut kalau hubungan lo sama Alex diketahui banyak orang?" Tanya Ciara kemudian.


"Iya, gue nggak mau aja dapat omongan yang nggak enak di kuping, gue kesini mau belajar yang bener bukan ngurusin gosip, biar gue cepet lulus," kata Sandra sambil mencolek hidung Ciara.


"Alah lo nggak belajar juga udah pinter kali, bagi-bagi dong otaknya," gurau Ciara lagi.


"Nih ambil sendiri kalau bisa," balas Sandra.


Ciara merangkul leher Sandra lalu membawanya masuk ke dalam mobil. "Yuk ah belanja, nanti keburu malam," kata Ciara.


"Eh tunggu gue nunggu seseorang," kata Sandra sambil mengedarkan pandangannya.


"Nabil," teriak Sandra sambil melambaikan tangan saat melihat gadis berambut ikal tersebut.


Nabil berjalan mendekat. "Elo jadi kan ikut gue?" Tanya Sandra.


"Iya."


"Ya udah yuk sekalian temenin belanja," kata Sandra.


Ciara menatap ke arah Nabil. Sandra kemudian memperkenalkan mereka. Keduanya saling bersalaman. "Ci, ini temen kos gue nanti gue mau ajak dia soalnya kalau pulang sendirian takut dimarahi sama ibu kos," Sandra menaikkan alisnya saat menoleh pada Nabil untuk meminta dukungan.


"Eh iya gue temen kosnya Sandra." Nabil membenarkan omongan Nabil.


"Oh ya udah yuk kita belanja!" Ajak Ciara pada keduanya.


"Ci mobil lo dimana?" Tanya Sandra. Lalu Ciara menunjuk ke arah mobil yang berwarna kuning.


Namun, di sekitar mobil Ciara rupanya teman-teman lelaki Sandra sudah menunggu.


"Mana ya mereka kok lama bener?" Gerutu Andi. Hari ini ia sengaja tidak membawa mobil agar bisa nebeng Ciara. Sedangkan Andi dan Agung memang selalu mengandalkan Andi meskipun Agung juga anak orang kaya.


"Nah tu dia orangnya," tunjuk Agung.


Sesat kemudian mata Agung mengarah ke Nabil. "Eh dia siapa?" Tanya Agung ketika melihat Nabil yang memiliki kulit putih bersih.


Andi memutar bola matanya malas. "Nabil," jawab Andi.


"Elo kenal sama dia?" Tanya Agung. Sedangkan Amar hanya diam saja dari tadi. Sandra memperhatikan Amar.


"Tadz elo nggak mau kenalan sama Nabil, di antara kita kan elo yang nggak punya gebetan," sindir Sandra.


Amar menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Tak lama kemudian Alex datang. "Sorry gue telat, jadi kan kita barbequean di rumah gue?" Tanya Alex pada teman-temannya.


"Tapi kita mau belanja dulu Lex," sahut Ciara.


"Belanja apaan? Udah nggak usah semua udah disiapin sama nyokap gue," kata Alex.


"Wah senengnya punya camer kaya tante Berlian," sindir Agung.


"Bukannya elo pacaran sama Kristal Gung?" Tanya Andi.


Agung menggeleng lemah. "Belum, noh abangnya ngelarang," tunjuk Agung pada tersangka.


"Adik gue masih bocah, pacaran sama elo bisa rusak luar dalam," cibir Alex.


"Astagfirullah, gue cowok baik-baik elo tanya aja pak ustadz," Agung berusaha meyakinkan calon kakak iparnya.


"Ternyata geng mereka somplak juga ya," bisik Nabil ke telinga Sandra. Sandra mengulas senyum.


"Woi kalian dikatain somplak sama Nabil," teriak Sandra mengompori. Nabil memukul lengan Sandra pelan.


"Wah wah minta dikawinin sama pak ustadz," ledek Andi membuat wajah Amar dan Nabil memerah.


Di tengah canda tawa anak-anak muda itu, seseorang mengawasi mereka dari kejauhan. "Teruskan tawa kalian, mungkin ini tawa yang terakhir kali untuk kalian," gumamnya di balik pohon.


...***...


Di kediaman Jaden


"Ma katanya temen-temen abang mau main ke sini ya?" Tanya Kristal yang melihat mamanya sedang sibuk di dapur membantu asisten rumah tangganya menyiapkan acara nanti malam untuk Alex dan teman-temannya.


"Iya, sini bantuin mama!" Pinta Bia pada putrinya.


"Kristal sih pengen bantu ma tapi PR Kristal banyak banget mungkin nanti malam Kristal nggak ikut acaranya abang," kata Kristal dengan polos.


Bia terkekeh mendengar celotehan Kristal. "Yang ngajakin kamu juga siapa," ledek Bia sambil menggelengkan kepalanya.


"Mama ihk," Kristal menghentakkan kakinya dan cemberut. Lalu ia berlalu menaiki tangga.


"Bi, makanannya sudah siap semua?" Tanya Bia pada asisten rumah tangganya. Tak lama kemudian Bia mendengar suara bel pintunya berbunyi.


Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah pulang ya?" Gumam Bia.


Setelah itu ia membukakan pintu. "Sore tante," sapa Sovia.


"Eh kalian, ada apa sayang?" Tanya Bia sambil mengulurkan tangannya pada Sovia.


"Kami mau mengantarkan makanan untuk tante, bunda buatin kue." Sovia menunjukkan kue buatan ibunya.


"Wah banyak sekali, terima kasih sayang, yuk masuk dulu Sovia, Zidan." Zidan mengangguk sopan.


Mereka berdua memasuki rumah besar itu. "Kok sepi Tante?" Tanya Zidan yang tak melihat siapapun selain Bia.


"Kristal ada di dalam kamarnya, kalau Alex belum pulang," jawab Bia.


"Duduk dulu ya tante buatkan teh untuk kalian," kata Bia lalu ia menuju ke belakang.


Selang beberapa saat Alex dan gengnya tiba di depan rumahnya. Alex mengerutkan keningnya saat melihat mobil Zidan terparkir di sana. "Ngapain dia ke sini?" Gumam Alex ketika baru membuka pintu mobilnya.