My Beloved Partner

My Beloved Partner
41



"Kak Bulan, jelek amat mukanya ditekuk gitu?" seloroh Bia yang sedang asyik memakan camilan dengan membawa toples di tangannya.


"Kapan kamu ke sini Bi?" tanya Bulan heran,pasalnya adik sepupunya itu tidak menghubunginya lebih dulu.


"Tadi habis pulang meeting di luar aku langsung ke sini, aku mau nginep suami aku lagi keluar kota, mama mana kak? kok sepi," tanya Bia yang tidak melihat keberadaan orang tuanya.


"Lho kamu gak dikabari kalau nenekmu masuk rumah sakit," jawab Bulan.


"Apa? mama gak bilang apa-apa kak sama aku, coba aku telepon?" kapan mereka berangkat tadi?" tanya Bia panik.


"Belum lama, paling masih di jalan Bi, tanyalah besok pagi" kata Bulan. Ia pun pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di lemari es.


"Buatin aku es teh manis kak sekalian," teriak Bia dari ruang tv.


"Kamu pikir aku ini penjaga warteg, seenaknya main suruh aja, ambil sendirilah," tolak Bulan.Setelah itu ia meneguk kesegaran air mineral yang baru dia ambil dari dalam kulkas.


"Ya ampun pelit sekali kakakku ini, kamu tidak ingat aku ini sedang hamil," gerutu Bia. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Lantas? orang hamil tidak boleh banyak gerak gitu, ckckck itu pemikiran yang salah, justru kalau banyak gerak bagus untuk kesehatan kamu, asal jangan kecapekan," terang Bulan panjang lebar.


"Iya, iya," akhirnya Bia berdiri dan hanya mengambil jus yang ada di dalam kulkas.


"Kak tadi belum jawab pertanyaan aku, kenapa muka kakak pulang-pulang malah jelek gitu, cemberut bikin keriput tahu," ledek Bia.


"Tadi ketemu sama orang ngeselin," kata Bulan sambil membayangkan


"Siapa kak? Bang Jul ya," tebak Bia.


"Tahu dari mana?" Bulan menautkan alisnya.


"Yagh emang selama di sini kakak kenal siapa lagi, setahu Bia kan bang Jul suka sama kak Bulan," kata Bia.


"Tapi kakak udah tunangan Bi, kamu tahu kan, kakak gak mungkin berkhianat sama tunangan kakak," elak Bulan.


"Ya kak, Bia tahu, Bia sudah peringatkan bang Jul, kakak jangan khawatir, bang Jul bukan orang yang jahat," kata Bia sambil tersenyum dan mengelus punggung kakaknya.


Sementara itu Bulan mencari ponsel di dalam tasnya namun ia tidak menemukan ponsel yang ia cari. "Dugh dimana ya aku naruhnya, teledor sekali aku ini," batin Bulan merutuki kecerobohannya.


...***...


"Hoeek hoeek,"


Pagi ini Jaden kembali mengalami mual muntah. Bagus yang mendengar suara dari luar kamar Jaden kemudian segera menghampiri."Pak anda baik-baik saja?" tanya Bagus khawatir.


"Entahlah aku kembali mengalami mual muntah, apa karena semalam aku tidak tidur dengan istriku ya, seperti sebelumnya aku juga mengalami mual muntah di pagi hari, namun selama aku tidur dengannya aku tidak mengalami hal ini," kata Jaden terduduk lemas di kloset.


"Apa perlu saya panggilkan dokter pak?" tanya Bagus.


"Tidak aku hanya mengalami ini di pagi hari, sial istriku yang hamil kenapa aku yang mengalami ngidam," rutuk Jaden.


"Itu karena anda membuatnya dengan cara memaksa pak, ini hukuman buat anda," batin Bagus sambil menahan tawa.


Di tempat lain


Julian pagi-pagi datang ke rumah orang tua Berlian bermaksud mengembalikan ponsel milik Bulan. Saat ia mengetuk pintu ternyata Bia lah yang membukakan pintu.


"Bang Jul ngapain ke sini? kak Jaden yang minta?" cecar Bia sesaat setelah membukakan pintu.


"Emm Bulan ada?" tanya Julian ragu.


Bia memberikan tatapan tajam pada kakak iparnya."Hello bang Jul, ngapain mau ngapel pagi-pagi buta kaya gini," kata Bia mencebik kesal.


Julian mengepalkan tangannya kalau saja ia bukan istri saudara kembarnya Julian sudah menggelitiki Bia.


"Nih, aku mau balikin ponsel Bulan yang ketinggalan di restoran kemaren, panggilin sana," perintah Julian pada Bia. Bia pun menuruti perintah Julian namun berjalan sambil komat-kamit.


"Kak Mbul, ada yang cariin tuh," teriak Bia dari luar kamar Bulan.


Tak lama kemudian Bulan turun dari lantai atas ia melihat Julian berada di ruang tv bersama sepupunya. Ia pun melambatkan langkahnya.Julian melihat ke arah Bulan. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.Julian mengeluarkan senyumnya yang mempesona.


Deg


"Jantung gue, kenapa berdebar," Bia berkata dalam hati. Ia memegang bagian dadanya.


"Agh jadi inget suami,aku masuk dulu ya," pamit Bia meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Bulan ketus.


"Ini aku cuma mau mengembalikan ponsel milik kamu saja," Julian menunjukkan ponsel yang merupakan milik Bulan.


"Ah rupanya ada padamu, terima kasih banyak," kata Bulan tulus. Ia pun tersenyum senang karena ponselnya kembali.


"Kamu mau pergi?" tanya Julian.


"Iya aku akan memeriksa lokasi yang akan kukerjakan," kata Bulan.


"Aku antar," tawar Julian.


Bulan ingin menolak tapi Julian sudah baik mengembalikan ponselnya. Jadi Bulan tidak tega menolak ajakan Julian. Akhirnya ia mengangguk setuju.


"Yes," batin Julian girang. Ingin rasanya ia berjingkrak namun ada Bulan di sampingnya jadi ia urungkan.


"Kita berangkat sekarang," kata Bulan. Julian pun berjalan di belakang Bulan. "Aku akan selalu ada di belakangnya," janji Julian pada dirinya sendiri.


"Ihk kak Bulan mah pergi gak pamitan, aku kemana ya hari ini aku bolos aja ah males ke kantor," gumam Bia.


Ia pun mengambil ponselnya dan menelepon Keyla."Key gue gak masuk ya, hari ini gue mau pergi ke suatu tempat," kata Bia.


"Yagh ni orang belum juga gue iyain main tutup telepon aja," gerutu Keyla.


Kemudian Bia berpakaian casual. Lalu mengendarai mobil sendiri. Ia ingin berkunjung ke suatu tempat tanpa diganggu oleh siapapun.Akan tetapi bodyguard yang ditugaskan Jaden diam-diam mengikuti Bia dari belakang.


"Kak Bia," panggil salah seorang anak yang senang melihat kedatangan orang yang sudah lama tidak berkunjung ke tempatnya.


"Adi," Bia memeluk anak jalanan itu.


Bos, nyonya sedang ada di sebuah perkampungan kumuh, ia menemui anak-anak jalanan.


Begitu pesan yang dikirimkan oleh bodyguard yang bertugas mengawasi Bia. Jaden pun mengerutkan keningnya. Tidak apalah dia kesana mungkin dia kangen dengan anak-anak itu.


Awasi saja dari jauh. Jangan sampai istriku curiga. Kalau ada apa-apa kabari segera.


Balasan yang diberikan Jaden pada bodyguard itu. Sang bodyguard pun menurut perintah atasannya. Ia mengawasi istri tuannya itu dari kejauhan.


"Kakak bawa makanan untuk kalian," Bia memberikan beberapa bungkus makanan yang ada di dalam plastik kepada anak-anak itu. Mereka berebut makanan. Namun salah seorang hanya diam memperhatika mereka. Bia melihat anak yang sendirian itu.


"Itu kan, Banu, iya Banu," batin Bia lalu ia mendekat untuk memastikan.


"Hai, kamu banu kan?" tanya Bia ramah.Anak itu mengangguk pelan.


"Kenapa kamu tidak ambil makanan itu?" tanyannya lagi.


"Bolehkah aku membawa pulang satu, untuk ibu dan adikku," mohon Banu pada Bia dengan wajah sendu.


"Tentu saja, oh ya apa ibumu sudah melahirkan?" tanya Bia karena Banu sempat menyebut kata adik. Namun yang ia maksud adalah anak yang masih dalam kandungan ibunya.


Banu menggeleng menjawab pertanyaan dari Bia. "Baiklah ayo aku ingin menjenguk ibumu," kata Bia sambil tersenyum.


Wanita yang sedang hamil muda itupun mengambilkan makanan yang ia bawa untuk Banu dan Ibunya. Kemudian dia mengantarkan Banu pulang ke rumah.


...❤️❤️❤️...


Minta dukungannya ya my beloved readers. Jangan boom like kalau mau dukung, mpok ntun cuma pengen karya othor dibaca, jadi percuma kalau di boomlike tapi gak dibaca sama sekali. Koment, klik favorit dan share ke temen-temen kalian kalau cerita ini menarik. 🙏