
Darren melonggarkan dasinya saat ia baru menginjakkan kaki di rumah. Ia tak melihat sang istri yang menyambutnya seperti biasa. Akan tetapi ia tak sengaja mendengar ucapan serius seorang Julian pada Raina.
"Aku akan menikahimu segera," kata Julian mantap saat menatap manik mata Raina.
"Tidak secepat itu," suara bariton itu mengalihkan pandangan keduanya.
"Dad,"protes Julian.
"Enak saja mau nikah secepatnya,"ingin sekali Darren menjitak kepala anak sulungnya itu.
"Memangnya kenapa dad, seharusnya daddy senang aku bertanggung jawab pada wanita yang telah mengandung anakku,"Julian membanggakan dirinya.
Daddy memukul punggung Julian dengan map yang ia bawa."Kau harus tahu siapa wali nikahnya Malih," geram Darren. Julian mengusap punggungnya yang sakit.
Darren beralih menatap Raina."Nak apa kau masih punya saudara yang bisa kau jadikan wali nikah?" tanya Darren dengan lembut pada calon menantunya.
Wanita itu mengangguk."Saya masih punya paman dari pihak ayah saya tapi saya tidak yakin dia akan mau menjadi wali nikah saya," jawab Raina ragu.
Seingat Raina pamannya sama sekali tidak peduli dengan nasib keponakannya saat itu. Bahkan Raina yang masih terbilang belia harus menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
"Baiklah besok daddy akan menyuruh orang untuk menjemput pamanmu,kita bujuk dia baik-baik," kata Darren membesarkan hati Raina.
Lalu Darren menoleh ke arah bayi dalam gendongan Julian.Wajah laki-laki tia itu berubah sumringah."Ya ampun anak siapa cantik begini," Julian tidak memperbolehkan ayahnya menyentuh putri kecilnya.
"Dad,kau belum cuci tangan jangan sekali-kali menyentuh anakku," jawab Julian dengan posesif.
"Ck, kau pelit sekali,aku sangat merindukan cucuku yang cantik ini," lagi-lagi Darren ingin menyentuhnya kali ini suara melengking terdengar di telinganya.
"Opa mandi dulu,jangan coba-coba menyentuh cucuku kalau masih ada kuman yang menempel di tubuhmu," ancam mom Celine. Dad Darren pun tak berkutik.
Raina terkekeh melihat tingkah keluarga barunya itu. Ia bersyukur sebentar lagi ia menjadi bagian dari keluarga yang lengkap dan penuh kasih sayang.
...***...
Sementara itu di kediaman Jaden. Bia yang baru sampai di rumahnya langsung merebahkan diri di atas ranjang.
Sedangkan Jaden melepas kaos kaki dan membuka kancing kemejanya.
"Sayang, kamu tidak mandi?" tanya Jaden pada istrinya yang terlihat bermalas-malasan.
"Kakak duluan," jawab Bia dengan suara parau. Matanya terpejam sambil memeluk bantal.
Jaden yang melihat tingkah istrinya itu jadi memiliki ide jahil.Tanpa aba-aba laki-laki itu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh mau ngapain sih?" tanya Bia yang kaget dalam gendongan suaminya.
"Mandi bareng yuk," ajak Jaden sambil tersenyum menyeringai.
"Ambil handuknya dulu," Bia beralasan untuk mengalihkan perhatian Jaden.
"Di dalam udah ada," jawab Jaden sekenanya.Bia pun pasrah.
Jaden menurunkan tubuh istrinya. Ia menghimpit lalu mencium bibir ranum itu dengan lembut. Namun lama-kelamaan ia menuntut. Bahkan tangan Jaden sudah menjamah ke seluruh bagian tubuh istrinya.
"Kak..." Bia mulai terbuai.
Jaden menyunggingkan senyumnya.Laki-laki itu kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam kamar mandi.Suara-suara merdu yang dikeluarkan dari mulut Bia memenuhi ruangan sempit itu.
Setelah lebih dari tiga puluh menit melakukan percintaan panasnya di dalam kamar mandi akhirnya mereka keluar.
"Aku buatkan teh panas ya," Bia berusaha menghindar agar suaminya itu tidak lagi menuntut sesi kedua.
Bia menoleh."Tolong gulanya sedikit saja,jangan terlalu manis karena memandangmu saja sudah cukup merasakan manis bagiku," goda Jaden.
"Gimana kalau gulanya aku ganti garam, biar hidup tu gak monoton yang manis-manis doang mesti ngerasain yang asin juga,asem kalau perlu," ucap Bia ketus namun malah membuat suaminya tertawa puas karena telah mengerjai istrinya.
Bia pun berlalu ke dapur. Jaden mengikuti istrinya."Nyah masak nasi goreng sekalian boleh?" pintanya. Sejak tadi ia perutnya belum kemasukan nasi sama sekali.
"Tadi kenapa gak delivery aja," kata Bia sambil melihat jam dinding."Kalau jam segini mana ada restoran yang buka,"Bia mencebik kesal.
"Aku buatin mi instan spesial aja ya biar cepet," tawarnya. Jaden pun mengangguk. Apa saja asal bisa dimakan pikirnya.
"Yang tadi sore siapa investor yang ngajak kamu kerjasama?" tanya Jaden yang penasaran.
Deg
Bia sedikit panik. Ia pun mengalihkan kepanikannya dengan memberi Jaden pertanyaan."Pake sayuran gak nih? makannya biar agak enakan," kilah Bia.
"Boleh deh, nanti tambahin telur juga ya,setengah mateng juga boleh," balas Jaden menjawab pertanyaan istrinya. Ia jadi lupa meminta jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.
Bia bernafas lega sampai ia selesai masak Jaden tidak lagi menanyakan perihal investor yang bekerjasama dengannya.
"Kamu gak ikut makan?" tanya Jaden seraya meniup mi yang masih panas.
"Gak kamu aja,nanti aku buat susu coklat aja buat ganjel perut, makan malam-malam takut gemuk," tolaknya.
"Eh Yang yang tadi belum dijawab, investor yang kerjasama bareng kamu namanya siapa? bergerak dalam bidang apa perusahaannya?" cecar Jaden.
"Kenapa kepo banget sih kayanya?" Bia tidak menjawab pertanyaan suaminya.Ia malah meledek.
"Ya gak papa aku takut aja kamu dapat kolega sebr3ngsek Samuel," kilah Jaden.
"Aman mah pokoknya," bohong Bia. Ia tidak berani menceritakan siapa sebenarnya orang yang bekerja sama dengannya.Bia takut Jaden akan berulah.
"Udah selesai belum makannya? kalau udah yuk kita tidur aku udah ngantuk banget, besok juga kan kakak harus ngantor," Bia mulai menguap lebar.
"Eh ditutup tuh mulutnya ntar kalau kepalaku ikut masuk gimana?" goda Jaden seraya menutup mulut Bia yang menguap.
"Ih jorok tahu belum cuci tangan," cibir Bia. Kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar terlebih dulu.
Jaden memastikan istrinya sudah berada di dalam kamar. Ia menelpon asisten pribadinya."Gus cari tahu orang yang bekerja sama dengan istriku hari ini?" titahnya pada sang asisten.
Keesokan harinya Bagus menghadap atasannya."Pak ini profile orang yang bekerja sama dengan perusahaan nyonya Berlian," Bagus menyerahkan sebuah map ke meja Jaden.
Jaden meraih map itu kemudian membukanya.Di dalam kertas tersebut terpampang foto laki-laki yang tak asing baginya. Ia pun kaget saat membaca nama pemilik foto tersebut.
"Assial,banyak sekali laki-laki yang mengincar istriku," gerutu Jaden. Tangannya mengepal karena menahan marah.
Ya, setelah Samuel yang dulu pernah naksir Bia saat masih di bangku kuliah kini giliran mantan kekasih istrinya itu mencoba mendekati Bia dengan cara menjalin kerjasama antar perusahaan.
💖
💖
💖
Apa yang akan dilakukan Jaden pada Dani? Akankah dia menggagalkan kerjasamanya lagi seperti yang sudah-sudah?
Yang nunggu lanjutannya jangan lupa kasih bunga sama kopinya. Othor juga butuh asupan gift dari kalian.