
"Bu, apa anda sedang hamil?" Pertanyaan dokter pada Raina membuat Julian mengerutkan keningnya.
Raina mengangguk pelan. Julian membelalakkan matanya saat melihat jawaban sang istri. "Kamu hamil sayang?" Tanya Julian antusias.
"Iya, Mas. Aku hamil delapan minggu," jawab Raina.
"Kemungkinan suami anda mengalami kehamilan simpatik, Bu. Jadi ia merasakan apa yang dialami ibu hamil di trimester pertama," terang sang dokter.
"Baiklah, saya akan tuliskan resep agar kondisi tubuhnya tidak memburuk," imbuh dokter tersebut.
Seusai memeriksa Julian, dokter tersebut pamit pulang. "Ya ampun sayang kamu kok nggak bilang sebelumnya."
"Aku baru tahu hari ini mas," jawab Raina.
"Pantas saja aku selalu mual di pagi hari, tapi aku juga mual ketika mencium bau parfum yang menyengat," ungkap Julian pada sang istri.
"Aku dulu sewaktu hamil Sovia juga begitu mas, sama seperti yang dirasakan Bia ketika hamil anak keduanya."
"Iya kamu benar. Aku mirip dengan Jaden ketika Bia hamil pertama kali. Kalau aku ingat dia waktu itu aku merasa kasian. Oh tidak, nasibku akan sama dengannya." Julian menepuk jidatnya. Raina terkekeh mendengarnya.
"Mas, apa kamu sudah makan siang?" Tanya Raina.
"Belum," jawab Julian singkat.
"Baiklah, temani Sovia bermain aku akan memasak di dapur untukmu," kata Raina.
"Aku ganti baju dulu sayang." Raina mengangguk.
Ketika Julian memasuki kamar ponselnya berdering. Julian meninggalkan ponselnya di atas meja di ruang tengah. Raina melihat tertulis nama daddy di layar ponsel tersebut. Raina pun mengangkatnya barangkali penting.
"Hallo dad."
"Eh Raina? Dimana Julian?" Tanya Darren melalui sambungan telepon.
"Dia sedang di kamar Dad gati baju."
"Tolong sampaikan padanya untuk mengirim bahan meeting melalui email ya nak." Perintah Darren pada menantunya.
"Baik, Dad." Setelah itu Raina mematikan ponsel suaminya. Raina tidak juga melihat suaminya turun. Karena curiga wanita cantik itu memilih naik dan meninggalkan Sovia bermain sendiri di bawah.
"Mas," panggil Raina pada suaminya tapi tidak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk membuka kamar itu. Raina terkejut ketika suaminya tertidur pulas di atas kasur. Namun, ia beranikan diri untuk membangunkan suaminya.
"Mas, Mas." Raina menggoyang tubuh suaminya agar terbangun. Julian mengerjapkan mata. Lalu menarik tangan Raina. Wanita itupun jatuh ke pelukan suaminya.
"Aku sangat menyukai aroma tubuhmu sayang." Julian mendekap erat istrinya.
"Oh maafkan aku sayang." Julian membantu istrinya bangun.
"Mas, daddy telepon katanya kamu disuruh mengirim file bahan meeting sekarang!" Raina menyampaikan perintah ayah mertuanya.
"Ya ampun aku lupa flashdiknya aku bawa tadi." Julian segera mengambil laptopnya.
"Aku tinggal ke bawah ya, Mas. Kalau sudah selesai cepat turun kamu belum makan siang." Raina mengingatkan suaminya.
...***...
Bia mengajak Al dan suaminya makan malam di kediaman mertuanya. "Assalamu'alaikum mom," teriak Bia. Jaden mengikuti di belakangnya sambil menggendong Al.
"Eh, Bi kesini nggak ngabarin dulu," kata Mom Celine.
"Mommy kok rapi mau kemana?" Tanya Bia.
"Kita mau makan malam di luar. Kamu mau ikut? Yuk sekalian," ajak mom Celine.
"Aku udah lama nggak mencicipi ayam geprek di restoran mommy yang levelnya ngeselin itu," seru Bia.
"Boleh, kita makan di sana ya, Dad?" Mom Celine meminta pendapat pada suaminya.
Lalu mereka menuju ke restoran keluarga yang dikelola oleh Celine. Tapi mereka membawa mobil yang berbeda.
Sesampainya di sana Bia kagum dengan tampilan luar restoran ibu mertuanya yang bertambah bagus. "Semakin oke aja mom kayaknya," puji Bia pada pemilik restoran tersebut.
"Iya, alhamdulillah mommy udah buka tiga cabang lagi." Perkataan mertuanya itu membuat Bia geleng-geleng.
"Wah mommy hebat." Bia mengacungkan dua jempol untuk ibu mertuanya.
Setelah itu mereka memasuki restoran. Pelayan di resto itu langsung tahu kalau yang datang adalah owner restoran dimana mereka bekerja.
"Bi, mommy mau ngasih kabar kalau Raina hamil anak kedua."
"Wah bang Jul mau jadi bapak-bapak dong," kelakar Bia.
"Lah kan emang sudah jadi bapak-bapak sayang," Jaden membetulkan omongan istrinya.
"Belum, dia baru jadi bapak soalnya baru satu anaknya kalau bapak-bapak berarti udah dua anaknya." Jaden menggeleng menanggapi ocehan istrinya itu.
Mereka pun melanjutkan makan malam bersama. Setelah itu Jaden berpamitan pada kedua orang tuanya.